Jumat, Mei 24, 2013

Trip To Dream, Semeru!!


Kini kertas kuning itu sudah lusuh.
Sekitar tiga tahun yang lalu, secarik kertas bertuliskan Mahameru, sengaja saya tempelkan ke dream wall kamar kos saya. Ya, saya pernah punya mimpi. Di usia saya yang berkepala dua, kaki saya yang imut ini harus sudah pernah mencicipi puncak gunung. Hehe.
Dan bim! Sekarang mimpi itu sudah terwujud. Tepat pada hari Sabtu pahing (weton saya), 11 Mei 2013, pukul 09.25, saya berhasil berdiri di tanah tertinggi pulau Jawa. Mahameru.

Here We Start, Here We Go
Surabaya-Tumpang
                                                               
Sebelum berangkat ke Semeru itu saya seperti dilanda dilemma berat. Pertama, TA belum kelar. Kedua, belum dapet ijin dari Mamak di kampung. Dan yang ketiga, persiapan yang sudah saya lakukan sudah sangat maksimal.

Sebut saja olahraga ke stadion buat latihan fisik, dua kali. Itu sudah kemajuan karena saya sudah bisa muterin lapangan dua setengah puteran lebih, tanpa berhenti. Juga saya sudah hunting sandal gunung baru bareng partner nggunung saya, si Ayuk. Dan yang paling galau lagi, saya sudah packing semua peralatan masuk tas ransel imut si Ucup. Tinggal berangkat dah. Masak galaunya baru dateng di saat beginian?? Hmm, biasa ding, itu sindrom memang.

But well, setelah meneguhkan dan menancapkan kuat-kuat mimpi menapakkan kaki di Mahameru, akhirnya saya berangkat juga ke Jurusan Fisika. Di sana semua kawan sudah siap. Carier-carier udah siap menjulang setinggi badan saya. Haha, sepertinya hanya tas saya yang paling imut. (Nggak usah tanya kenapa saya nggak bawa carier juga. Ntar malah nggak jadi naik gunung, tapi naik di tempat :P)


Kami bertujuh: saya, Ayuk, Abror, Radi, Patar, Ucup, dan si mbah (dan ditambah rombongan angkatan 2010 bertujuh juga) berangkat ke terminal Bungurasih. Lalu kami naik bus ekonomi. Dengan ongkos 12ribu kami turun di terminal Arjosari, Malang. Karena malem, jadi perjalanan cepet. Dari Surabaya jam 22.00, nyampek sana jam 00.30.

Gosipnya, Semeru bakal mbudak di weekend itu. Maklum, libur panjang, ditambah pula jalur pendakian Semeru emang baru di buka setelah cuti sejak Januari lalu. Bener aja, baru nyampek Arjosari, kami udah banyak ketemu gerombolan anak muda dengan carier di punggung mereka. Pasti mau ke Semeru, (sotoy!)

Well, dari Arjosari kami sempet nggembel. Nggelar matras dan klempohan. Jadi ceritanya, buat ke Tumpang itu kita harus naik angkot. Nah, angkotnya baru ada selepas subuh. Ada sih banyak yang nawarin carteran angkot, tapi mending enggak, mahal soale. Jadilah kami ngemper. Enak kok tapi, ada banyak colokan di sana yang bisa kita pake buat ngisi ulang baterei. Trus juga kita bisa nge-charge tenaga dengan tidur, atau nambah doping stamina dengan ngopi di warkop. Atau juga seperti yang saya dan teman-teman saya lakukan by waiting the time. Nggosip, nggojlok. Harus tahan gojlokan. (Pemanasan ternyata).

Pukul 03.30 kami mulai beranjak dari Arjosari. Naik ke angkot kuning, seperti angkot WK di Keputih. Uniknya, kami yang berjumlah 19 (tambahan junior dan kawan mbolang ucup) bisa muat dalam satu len itu dengan di jejal2in. Tas gunungnya di susun di atas angkot. Tenang, talinya rapat, jadi nggak bakal jatoh, walau susunannya tinggi dan si mobil ngebut. Karna dia nggak bisa ngebutlah. Haha. Sangar pokoke. Serba Mekso.

Saya aja didudukin di tengah-tengah antara baris kanan dan kiri. Ya, mentang-metang saya yang paling imut. Jadi ditempatinnya di tempat yang paling sempit. Edan. Haha. Kaki saya sampek kesemutan duduk lama di sana.

Naik angkot nggak sampek sejam udah sampek di daerah Tumpang. Kami langsung diturunkan di sebuah ujung gang. Di sana ada semacam rumah singgah buat pendaki Semeru. Pemilik rumahnya bernama Pak Rus. Beliau yang punya kendaraan truk buat angkutan ke Ranu Pane. Dia punya beberapa truk kok. Yang bikin sangar dan so sweet itu, si mantunya Pak Rus. Masih muda, cantik, ramah pula. Sejak kami dateng jam 04.00, si mbak itu langsung menyambut kami. Mempersilahkan istirahat di dalam rumah, di kasih teh anget, dan juga kamar mandi gratis.

Nyaman bangetlah. Berasa ada di rumah sendiri aja. (Iya lah, rumahnya aja seperti nggak menyisakan ruang privasi sang pemilik rumah. Setiap sudut sudah digelarin karpet biar para pendaki bisa istirahat senyaman mungkin).

Di situlah, banyak interaksi antar backpacker dan pendaki. Ajang golek bolo lah istilahnya. Itu yang bikin saya salut. Meski nggak kenal, nggak saling tahu dan baru ketemu, anak ‘alam’ itu kebanyakan selalu asyik untuk diajak ngobrol. Wawasan sosialnya tinggi.

Di tempat itu, kami terjebak antri berkepanjangan. Kami harus menunggu jam keberangkatan. Jumlah kami tanggung soalnya. Untuk satu truk kurang, untuk gabung dengan kelompok lain kebanyakan. Baru setelah matahari mulai terik, jam 07.00 sebagian kelompok kami berangkat. Sedang saya dan kawan-kawan seangkatan baru bisa berangkat pukul 08.00. Lama banget. Saya dan ayuk aja sampek sempet jalan-jalan ke pasar cari gorengan tempe mbos, dan ote-ote. Abror malah beli pisang satu cengkeh. Wkwkwkwk. 

Saya dan ayuk nggak habis piker kenapa di tengah pasar tradisional ditu yang dipilih abror buat dibeli itu pisang. Hahahahaha. Kan mending kami, beli gorengan. Lebih tepatnya nungguin ibunya goreng gorengan. Jadi makannya mongah-mongah, pas banget buat ngangetin badan.

Oh ya, dari Surabaya kami sengaja belum shoping cemilan dan air. Nah, sekedar info, bagi yang mau ndaki juga, mending belinya di Tumpang aja. Ada minimarket yang bisa jadi jujukan buat beli kopi, susu, madu, coklat, atau baterei senter, jajan, dll. Lebih simple kalau belanja di Tumpang, karena nggak perlu bawa air yang berat dari Surabaya. Tapi ya resikonya nanti harus packing ulang. 

2 komentar:

  1. Terusan ceritanya?? *Jadi pengen nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu tuh mbak,, masih separuh,,,
      seritanya puanjaaaang :D
      ayo naik gunung mbak

      Hapus