Jumat, Mei 24, 2013

Empat Level Menuju Surga


ini motivasi kami

Kami mengawali langkah dengan canda kanan kiri. Jalanan yang mulai menanjak. Kami segera disapa dengan hamparan perkebuanan sayuran. Daun bawang, dan juga tanaman-tanaman khas gunung. Kata Ucup, perjalanan ke Ranu Kumbolo bakal memakan waktu lima jam. Itu perjalanan standar.

“Nrabas kompas ya?” teriak Ucup yang ada di barisan paling depan.

“Yo, potong kompas wae,” sahut Abror yang ada di nomor dua dari belakang.

Si Ucup memang dari bawah sudah mewacanakan agar nanti kita bakal melenceng, membelok, dari rute utama jalur pendakian. Biar lebih cepat katanya. Hasssh,, kalau saya mah ikut saja. Yang penting cepet sampai dan selamat sampai tujuan.

Sementara saya masih kerepotan mengatur ritme nafas saya yang pendek ini, ternyata kami telah berada di tepi persimpangan. Semacam belokan menanjak tersedia di kiri, sedang di kanan, ada semak-semak yang terbuka membantuk jalan setapak. “Oke kita potong kompas,” teriaknya. Ia lalu memimpin rombongan melewati rimbunnya semak ilalang. Hawa dingin yang tadi sempat terasa saat berjalan sepuluh meter mula-mula. Kini sudah hilang sama sekali. Diganti dengan badan yang penuh peluh dan nafas yang ngos-ngosan.

Aha,, ini jalur trabas kompas itu?!!!!!

Dalam hati saya berusaha menahan apa yang saya rasakan. Pertama, yang saya rasakan adalah GALAU. Nafas saya rasanya sudah mau habis aja. Kepala nyut-nyutan mendadak, sesekali bahkan pandangan saya kabur. Ini masih awal brooooo,,, masak mau nyeraaaah??? Gini doaaang??? Muleh ae… *itu kalimat sarkatis yang menggaung dalam kepala saya.

Saya heran sama si Ayuk yang ada tepat di depan saya. Di tengah jalanan yang menukik tajam, curam, dan yah, nanjaknya seperti menaiki tangga jurusan tiga anak tangga sekaligus. Heran, si Ayuk ngakunya selevel sama saya, tapi dia kayak kuat heppy-heppy aja?? Kok dia nggak minta break sih???

Saya menyerah. Sekitar dua puluh langkah, saya minta istirahat. “Ini berapa jam Cup jalan beginian?’’ Tanya saya sembari ndoprok di semak-semak. Ngos-ngosan nggak ketulungan. “Satu jam” Dia jawabnya acuh banget. Dan tau apa yang saya terjemahkan dari sorot dan jawaban dia, seolah dia berkata, “Bakal tambah sui lek mondak mandek,” hehe. Benar ternyata, belum sempat nafas saya jadi teratur ritmenya, dia udah menggerek rombongan buat jalan. “Ayo” katanya berdiri di depan saya yang masih nggak berdaya. Oh meeeeen,,, pelis pooo, paling  nggak tunggu nafas ku mbeneh. Tapi nggak e.

Willy nilly, dari pada merepotkan kelompok, saya kuatkan beridiri dan menelan bulat-bulat jalanan yang seperti wall climbing itu. Sekali berdiri, ilalang-ilalang itu seperti nggak mau dikalahin tingginya. Jadilah saya dan kawan-kawan berjalan sembari menyibak kelambu ilalang. Dengan jalanan yang tetep seperti itu. Kurang lebih 40 menit, kami baru keluar dari jalur tebas kompas itu.

Lepas itu, kami melalui jalur pendakian yang sama dengan pendaki yang lain. Berbeda dengan jalanan yang tadi, jalur pendakian ini setidaknya lebih manusiawi bagi pemula. Hehe. Nanjaknya cukup landai. Artinya tetap naik jalannya, hanya saja ndak menukik.

Dalam fase ini saya sudah cukup stabil. Si Abror yang jalannya di belakang saya selalu berpetuah, “Di atur nafasnya, sekali ngehirup, sekali ditahan, terus dihembuskan,” katanya. Sabar ya, hahaha. Ia nih orang emang jagonya nemenin orang yang jalannya lambat seperti saya. Dan ternyata resep itu manjur lho, dengan narik nafas, menahan, saya bisa tiga langkah naik sekaligus. Itu kemajuan.

naik naik ke puncak gunung
Dan berkat itu, saya jadi faham, kalau semakin sering kita berhenti, maka kita akan semakin capek. Karena setelah kita berhenti usai berjalan, maka nafas kita akan kembali berorientasi menyesuaikan ritme dengan langkah kita. Tapi kalau berjalan dengan kecepatan stabil, dan nggak sering berhenti, maka stamina bisa awet. Hueeeh guaya. Ini kalau si Ucup Ayuk Abror Radi Patar baca pasti saya langsung di jitakin. Wkwkwkwkwkwk

Ehem, back to….

Ada empat pos yang harus kita lewati biar sampai di Ranu Kumbolo. Kalau Ranu Kumbolo itu surge, maka untuk menuju Surga itu ternyata ada empat level yang harus kita lewati dengan segala macam paket yang disajikan tiap levelnya.

Lepas dari jalur trabasan, nyatanya kami masih empat puluh menitan buat sampai di Pos 1. Setiap pos ditandai dengan adanya paguyuban yang atapnya dibuat dari asbes. Sepanjang perjalanan menuju pos itu, kami mulai tercerai-berai. Si ucup jalan bareng sama si Ayuk udah jauh di depan. Saya di depan Abror dkk..
Kadang kami ditungguin, kadang ya ditinggalin. Yang sering bikin kesel itu ya pas kita bercapek-capek ria menyusul tempat dimana mereka istrirahat menunggu kami, eh, begitu kami sampai di tempat mereka, mereka jalan. Mayaaaak!!!! Akhirnya saya mutung, kalau ngeliat mereka berhenti di depan saya, saya tidak mau berhenti bergabung buat istirahat, tapi terus melaju, berjalan.

“Wes panas iku, makane nggak gelem mandeg,” celetuk Abror, agak ngece. Haha, iya mungkin ya, karena di level itu, saya sudah bisa ngatur nafas.. Yeeeee !!!!

perjalanan ke Pos 1. Lamaaaa
Yang paling seru selama mendaki itu ya saat bertemu dengan pendaki lain yang lagi istrirahat. Pasti selalu disapa dengan disangoni ucapan penyemangat. Begitu juga saat kita sedang istirahat dan dilwatin sama pendaki lain. Kadang malah ada yang nyeletuk “Semangat Mas Mbak, di atasan dikit ada indomaret kok,” Ngooooooook.

Pos 1 vs Pos 2. Nggak ada apa-apanya
Setelah beberapa waktu lamanya, akhirnya kami sampai juga di Pos 1. Di sana kami berhenti sebentar. Trus lanjut jalan lagi. Setiap berhenti paling isinya gojlokan mulu. Hahaha, kalo nggak gitu saling bertukar semangat.

tiba di Pos 1. Say: Kami masih kuat.....Nggak ada apa-apanya ... -_-
liat dan amati tinggi tas abror dan tinggi badan abror. suangar

kegejean radi dan patar. homo di gunung *sindrom
Si Ucup kembali ngajak kami cepet beranjak, karena katanya dari pos 1 ke pos 2 itu jaraknya nggak jauh. Dan ternyata benar, deket banget, tau tau udah sampek di pos 2. Saya malah nggak berhenti di Pos 2, lanjut menuju ke pos 3. Haha, benar-benar sudah panas soalnya badannya.

Mungkin ini ya fungsinya latihan fisik kalo mau naik gunung. Kalau aja latihan fisik ku kemarin-kemarin lebih niat dan labih panjang ranger waktunya, mungkin akan lebih baik. Hehehe. Tapi selain itu Ucup juga bilang sih, ada tempat yang lebih asyik buat kita berhenti istirahat. Karena bisa sekaligus foto-foto, setelah plakat Watu Rejeng, ada jembatan yang keren soalnya.

Kami baru berhenti lagi di pos 3. Di sana kami mulai benar-benar terlihat lelah. Si Ayuk, malah udah tepar-tepar dia. Kebukti pad di pos 3 dia geletakan, berserakan, sama si patar. Hahaha. Mereka ngikutin jalan kudanya si Ucup sih. Makanya forsir jadinya, ngoyoh.



Kalau saya? Sama. :P 
Tapi mending, kan masih bisa motret mereka yang bertepar-tepar ria.

---Tanjakan Setan ---
Dari pos 3, kami dibilangin Ucup, kalau sebentar lagi kami akan melewati rintangan berjudul tanjakan setan. Beeeuuuuh… Horor kan ya dari namanya. Mata si Ucup seolah ngerling ke atas menunjuk apa yang ia sebut dengan tanjakan setan.

in gayanya Ucup pas nerangin si tanjakan setan
Yap, tepat di atas tempat kami tiduran, tepat di atas pos 3, tanjakan curam 60 derajat sudah menanti. Ia seolah menunggu dengan menantang, “Kuat nggak lo ngelewatin gue tanpa berhenti????” melihat itu saya berasa pengen pingsan aja, siapa tau ada Ayuk yang mau ngegendong. Hahaha. Ngimpi!

“Tiap sepuluh langkah berhenti,” kata Ucup. Huaaaaah, kata-kata itu bener-bener seperti setetes air di siang bolong. Seger sih, tapi kurang banget.. hehe.

Well, Patar yang glesotan itu akhirnya berjalan di depan saya. Ayuk tetep di depan saya, agak jauh. Well, jadi tanjakan setan ini hampir mirip dengan jalur trabas kompas tadi. Nanjaknya curam tapi nggak kayak naik tiga tanggak sekaligus. Kalau gitu kan malah capek karena langkahnya makin panjang. Kalau curam landai begiini masih bisa disiasatin dengan jalan pelan-pelan, dan langkahnya nggak lebar-lebar. Tapi prediksi Ucup salah total. Nggak sampek sepuluh langkah, Ayuk udah mandeg, break. Aku juga. Tapi bentar sih, nggak lama-lama, jadi masih aman.

si Tanjakan Setan
Go to Pos 4. Kerlingan Mahameru
Dari pos 3, tujuan kami adalah pos 4. Perjalanan ke pos 4 ini adalah perjalanan yang paling menyenangkan. Jadi ingat kata si Abror, mendaki gunung itu nggak cumin soal mendaki, berjalan, tapi juga menikmati perjalanan.

Hmm, boro-boro menikmati perjalanan, kalo nafas aja masih gelagapan. Nah, baru di perjalanan menuju pos 4 ini saya banar-benar mngamati sekitar. Dan menyadari bahwa saya sedang berjalan di gunung, di hutan. Sadar bahwa kanan saya adalah tebing, sedang kiri saya ada jurang yang ditumbuhi pohon pinus yang menjulang.

Ya, karena perjalanan ke pos 4 ini cukup landai dan banyak jalan mendatar. Bahkan sesekali jalannya menurun. Kalao gini dari tadi enak kali ya. Seruan-seruan tentang Ranu Kumbolo yang sudah dekat pun kian menambah semangat untuk terus berjalan.

Dan satu yang mulai menyapa tubuh adalah,,, dingin. Sejenak saja berhenti dan diam, dingin akan segera menemani dan menusuk kulit kayak jarum suntik. “Tangan sambil digerak-gerakne,” itu suara abror yang berjalan di belakang saya. Bener tuh, tangan rawan kram soalnya.

Dan well, pemandangan yang dapat nikmati di tengah kabut yang mulai berderu, dingin yang mulai mematikan kulit kaki, di sebelag kiri, ada dua bukit yang saling beririsan untuk menyapa kami. Bukit yang paling belakang itu bukan bukit sembarangan. Bukit itu adalah Mahameru.

Si Mahameru mengntip di balik bukit
Puncaknya yang gagah, redup, dan sayu, namun menunjukkan keagunganNya, seperti mengerling pada semua pendaki yang sedang berjalan. Seperti dia sedang berkata “Hoi, aku di sini. Masih jauh denganmu. Apa kamu masih sanggup?”

Dalam hati, saya berujar, esok, ketika matahari sudah berganti, saya aka nada di sana. Itu bisikan yang saya suarakan dalam diam dengan volume minimum. Saya agak dilemma, saya takut menjadikan pendakian Semeru adalah ambisi. Bukan mimpi. Tapi saya tetap menyelipkan keyakinan yang tinggi dengan control yang tinggi pula, agar tidak takabur, bahwa saya akan ada di sana.

Setelah berjalan satu jam, kami sampai di Pos4. Yang dijuluki surganya para pendaki telah ada di depan mata. Hamparan air danau nya yang hijau dari kejauhan mengundang kami untuk segera sampai. Rasanya udah kayak pengen njeburin diri aja. Haha.

Kami istirahat lama di pos 4. Kabut sudah mulai mengisi ruang di antara kami. Bahkan kalau kita bicara, udah kayak di daratan eropa aja. Berembun. Sangar. Ademnya udah menusuk nusuk tuh. Di pos 4 itu kebetulan ada rombongan yang kelar nyalahin api unggun. Rasanya, anget banget. Hehe.
Nggak mau ketinggalan momen, foto…




dari Pos 4, ranu kumbolo yang ramah itu sudah kelihatan 'ngawe-ngawe'
Dari pos 4 ke Ranu Kumbolo masih memerlukan waktu setengah jam. Ranu Kumbolo udah kayak kampung yang lagi bedol desa. Rakum penuh banget sama tenda warna-warni. Saya nggak ngebayangin kalau weekend ini bahkan sampai bikin Rakum full begini.  Dari jarak pandang pos 4, sekeliling danau udah pada booked sama pendaki-pendaki yang sampai duluan.

Berhubung, haru kian petang, jam tangan saya udah membidik pukul 16.15, padahal dari pos 4 itu masih harus jalan setengah jam lagi. Kami harus cepat. Atau kalu tidak, kami akan gelimpungan karena belum ndirikan tenda di kegelapan. Oh no! lebih baih sekarang saja jalannya ngebut, toh, cuman turun ini. Hehehe

Akhirnya, kami sampai di ranu Kumbolo Tepat sebelum malam gelap

8 komentar:

  1. Balasan
    1. ogak mas ... -_-
      Semeru keren TOP BGT...
      ayo naik bareng :p
      balapan.... wkwkwkwk

      Hapus
  2. hahahaa, keren kalian. ceritanya juga keren big little sister! fotonya juga keren! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya donk... :D
      ayo gab naik gunung :D

      Hapus
    2. huahahaha. bikin mupeng banget.. seriously, aku pengen punya foto2 di gunung gitu. kayaknya juga banyak pemandangan yg mungkin belum pernah kubayangkan.
      tapiii, i'm not sure it's an easy way. naik bromo aja udah gitu ngeluhnya, gimana mahameru. hahaha. aku jadi anak pantai aja daaaah, ayo mantai :D

      Hapus
    3. mantai?
      suka juga sih gab,,
      tapi kalo di pantai seringnya malah galau dan merenung,,, hahaha
      tapi boleh kapan-kapan,,,
      mupengku lagi pengen ke bali n karimun jawa :D

      Hapus
  3. aw aw keren,, ditunggu sampe finish nya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe, iya mbak,,
      nerusin lanjutan ceritanya berebut antrian sama draft TA.. hiks :D

      Hapus