Sabtu, Maret 21, 2015

Senin, Januari 26, 2015

Pilih Mana, Jadi Dokter Orang Hidup Apa Orang Meninggal?

Kombes Pol Dr. Budiyono, MARS
Ketua Tim DVI Polda Jatim sekaligus Kabid Dokkes Polda Jatim
25 Tahun Menjadi Dokter Jenazah

Minggu (5/1) saya dapat giliran nulis Persona. Kebetulan lagi pengen banget wawancara sama orang keren satu ini. Dan alhamdulillah dapat kesempatan untuk wawancara langsung dengan beliau. Mau ikutan baca? Yuk marii
Ketua Tim DVI Polda Jatim Kombes Pol Dr Budiyono MARS
KERJA tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jatim dalam menangani korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 rute Surabaya-Singapura mendapat apresasi dari kepolisian dunia alias Interpol.  Kerja tim DVI ini dianggap cepat, tanggap dan juga lengkap dalam memberi layanan baik dari segi identifikasi jenazah maupun memberi layanan pada keluarga korban.

Siapa orang di balik tim DVI Polda Jatim itu? Kombes Pol Dr Budiyono MARS jawabannya. Menjabat Kabid Dokkes Polda Jatim yang secara otomatis juga menjadi Ketua Tim DVI, kerjanya memang patut diberi acungan jempol.

Wartawan Radar Surabaya, FATIMATUZ ZAHROH beberapa waktu lalu berbincang panjang lebar dengan pria asli Madura ini. Berikut petikan wawancaranya.

Selamat pagi Pak Budi. Selamat atas kerja tim DVI Polda Jatim yang mendapatkan apresiasi dari Interpol.
Selamat pagi. Alhamdulillah, ini adalah capaian kita bersama. Kerja kita mendapatkan apresiasi lantaran apa yang kita lakukan terbilang cukup bagus. Kita terbilang sigap dalam menghadpi kabar pesawat itu jatuh.

Bagaimana sih aslinya kerja tim DVI Polda Jatim hingga mendapat apresiasi dari dunia itu?
Begitu siang kita dapat kabar pesawat hilang kontak, kita mulai menyiapkan segala sesuatunya. Mulai dari posko untuk keluarga korban, menyiapkan cool storage berkapastas 200 jenazah dengan suhu minus 20 derajat dan tenda otopsi sampai 20 unit untuk pemisahan jenazah. Kita juga siapkan family assisten center. Kita siapkan itu semua untuk mengantisipasi, siapa tahu jenazahnya tiba dalam jumlah langsung banyak.

Apakah hal tersebut termasuk istimewa sampai diberi apresiasi?
Ya, mereka bilang bahwa apa yang kita lakukan ini beda dengan negara lain. Bahkan saya diundang untuk menjadi narasumber untuk memberi materi di Lyon, Prancis. Itu adalah apresiasi yang spesial.

Kalau boleh tahu, bagaimana kerja tim DVI mulai awal mengidentifikasi korban hingga akhirnya berhasil mengidentifikasi jenazah lalu diserahkan pada keluarga?
Prosesnya panjang. Kami tim DVI terbagi dalam lima fase. Fase pertama adalah tim olah TKP. Mereka bertugas langsung di Pangkalan Bun. Mereka bertugas mengumpulkan dan mencari bukti-bukti primer, termasuk properti dari jenazah. Namun kita sempat yang kesulitan karena di awal-awal evakuasi,  kondisi jenazah kurang baik. Misalnya sempat terjadi perhiasan korban yang dipisahkan.
Mungkin maksudnya baik agar tidak ada pihak yang mencuri kesempatan. Tapi itu kadang bisa menghilangkan bukti-bukti. Tapi setelah kita komunikasikan dengan tim SAR, alhamdulillah semuanya lancar.

Lalu, fase yang selanjutnya?
Fase kedua adalah tim pemeriksa post morthem. Mereka terdiri dari banyak ahli mulai dari antropologi forensik, patologi forensik, ahli dalam bidang finger print, dan juga ahli dalam bidang identifikasi DNA.
Berikutnya fase ketiga adalah tim pemeriksa ante mortem dari pihak keluarga., disusul dase keempat adalah tim rekonsiliasi, dan fase yang terakhir adalah fase evaluasi keseluruhan.

Apa kendala terbesar dalam melakukan setiap tahapan identifikasi jenazah?
Dalam mengidentifikasi jenazah korban pesawat jatuh yang sering terjadi adalah kondisi jenazah yang sudah tidak lengkap. Pertama tentu karena adanya pembusukan, terlebih lantaran jenazah sudah berhari-hari di air laut yang bersifat asin sehingga banyak menghilangkan bukti primer, mulai dari sidik jari hingga bentuk tubuh jenzah tersebut.
Bahkan tidak jarang, tubuh sudah tidak utuh, jenis kelamin juga susah dibedakan, namun untungnya kita memiliki tim post mortem yang terdiri dari banyak pakar. Jadi untuk jenis kelamin dan usia, hingga akhirnya bisa diketahui. Malah yang seringnya menghadapi kendala adalah pada tim antemortem.

Memangnya apa yang dihadapi tim di ante mortem?

Misalnya, yang menjadi korban di pesawat itu satu keluarga. Sehingga keluarga yang mendaftarkan data-data ante mortem itu bukan dari keluarga dekat. Mereka tidak kenal betul dengan korban. Data ante mortem seperti adakah tanda lahir, tato, bekas luka, kemudian bekas operasi, itu mereka tidak tahu. Ini membuat jenazah susah untuk di-match-kan.

Tapi, bukannya ada cara lain yang lebih instan dan praktis untuk identifikasi, yaitu dengan mencocokkan DNA?

Tidak semudah itu. Memang kalau dari tes DNA, kemungkinan untuk match akan lebih akurat. Namun, prosesnya pun tidak bisa secepat itu. Malah cenderung lebih lama. Lebih-lebih untuk korban yang ada di laut, untuk DNA kadang pun bisa berkurang akuratannya. Dan yang paling penting, yang bisa dicocokkan DNA nya adalah orang tua atau anak dari korban. Nah kalau korbannya sekeluarga? Ini yang susah.

Adakah korban AirAsia yang sampai susah diidentifikasi DNA nya? Lalu apa yang dilakukan oleh tim DVI?

Ada, karena jenazah kondisinya sudah mengalami pembusukan yang parah, bahkan sampel DNA nya sudah tidak terlalu bagus. Maka tim DVI antemortem akan turun ke lapangan. Mereka akan pergi ke tempat tinggal korban untuk mengambil sampel DNA korban yang tersisa di rumah. Bisa dari sikat gigi, sisir, dan juga baju kotor, kadang di sana masih ada sampel DNA yang bisa diambil. Seperti rambut, atau keringat yang menempel di baju kotor.
Ada tim kami bahkan sampai ke Blitar untuk mendapatkan data itu. Itu juga yang kami lakukan jika data ante mortem kurang. Seperti pula ada korban yang belum mengisi rekam sidik gigi, kami akan turun mencari di mana korban pernah melakukan rekam sidik gigi, karena kan tidak mungkin jika keluarga yang mencari dokter itu. Ada yang keluarga yang emosinya masih labil, dan sebagainya. Maka kami yang turun langsung mencari data.
Bapak ini dokter yang keren !
Tapi, bukankah ada rekam CCTV bandara? Untuk korban yang masih utuh bajunya, kenapa tidak bisa langsung disimpulkan bahwa itu adalah korban yang sesuai dengan manifest di pesawat?
Tidak bisa begitu. Tugas tim DVI adalah mengidentifikasi jenazah yang bisa dipertanggungjawabkan baik secara hukum maupun ilmiah. Kita melakukan identifikasi post mortem dan ante mortem, dalam rapat rekonsiliasi, dua laporan tim itu akan dimatchkan.
Hanya jika semua data itu cocok 100 persen baru kesimpulan bisa dikeluarkan. Jika ada sedikit saja yang masih belum cocok, maka harus diulang lagi proses pencocokannya.
Kalau patokannya hanya CCTV, atau properti yang ditemukan di lapangan, siapa yang bisa mempertanggung jawabkan jika ternyata barang yang dikenakan saat itu ternyata adalah pinjaman dari penumpang lain? Kalau tertukar siapa yang akan bertanggung jawab?

Apakah semua jenazah sudah pasti berhasil diidentifikasi? Apa ada kemungkinan jenazah gagal diidentifikasi? Kalau ada, bagaimana?

Tentu saja ada. Jika sampai akhirnya pencocokan jenazah mulai dari post mortem, ante mortem tidak ada yang cocok, maka kami tidak akan bisa mengembalikan jeanzah itu ke siapapun. Maka harus kami kuburkan secara masal.

Setelah menjalani karir sebagai ketua tim DVI di enam Polda di Indonesia, apakah persitiwa jatuhnya Air Asia QZ 8501 ini adalah peristiwa yang paling besar yang melibatkan tim DVI?

Kalau dibilang AirAsia ini luar biasa, sebenarnya tidak. Malah kalau dibilang biasa. Namun, mungkin kelebihannya mengapa peristiwa ini disorot banyak pihak sampai negara-negara lain adalah karena ada warga asing yang menjadi salah satu korban. Kalau dibilang, luar biasa, misalnya tsunami Aceh, kejadian bom Bali, lalu identifikasi imigran gelap Timur Tengah, dan juga kecelakaan peswat Garuda di Jogja itu juga peristiwa yang besar.

Menjadi dokter Polri, apa memang cita-cita Bapak?

Saya memang sejak kecil ingin menjadi dokter. Tapi cita-citanya dulu jadi dokter orang hidup, tapi ternyata jalannya adalah menjadi dokternya orang yang sudah meninggal.
Tapi, bagi saya ini adalah sebuah pengabdian. Kalau mencari materi, tentunya jadi dokter orang yang masih hidup lebih besar ya. Tapi di sini yang dicari adalh murni pengabdian. Bagi saya pribadi, kepuasan itu adalah ketika kita bisa berhasil mengidentifikasi jenazah dan mengembalikannya pada keluarganya. Itu tidak ternilai harganya,

Lalu bagaimana ceritanya bisa jadi dokter Polri?

Begitu saya lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, saya langsung ditarik untuk menjadi PNS dan ikut wajib militer tahun 1989. Kemudian saya ditugaskan sebagai Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Polwil Sulawesi Utara Polda Sulawesi Utara. Nah dari sanalah karir  saya sebagai dokter polri. Sejak itu terus menjadi Kabiddokkes di polda provinsi, keliling, hingga di Jatim ini adalah karir sebagai Kabiddokkes yang ketujuh.

Menurut Anda, bagaimana perkembangan DVI di Indonesia?

Kondisi saat ini sudah jauh lebih baik. Perkembangan DVI di Indonesia sendiri mulai bergeser ke arah profesional setelah bom bali 2004. Sebelum itu, masih belum memenuhi standar Interpol.
Dulu sempat ada kejadian, ada korban kecelakaan dimana ada salah seorang korban tewas diidentifikasi sebagai salah seorang manifest penumpang. Nah setelah beberapa tahun, ternyata pria tersebut kembali ke rumahnya, istrinya sangat terkejut lantaran kepolisian sudah membuat identifikasi bahwa suami sudah meninggal dan jenazahnya pun sudah dikuburkan sehingga ia menikah lagi. Padahal suaminya itu selemat dan tersesat dalam suatu pedalaman.
Itu adalah cerita saat tim DVI kita masih belum seprofesional sekarang. Itulah sebabnya dalam identifikasi benar-benar harus cocok dan bisa dipertanggungjawabkan dari sisi ilmiah ataupun hukum. (*/jee)

The Doctor and his family
Keluarga Mengerti Kerja Saya yang Berpindah-Pindah
Kemandirian Jadi Kunci Didik Anak

Bekerja sebagai abdi negara bagi Buyono harus dijalani dengan penuh rasa ikhlas dan juga penuh rasa pengabdian sebab, karena profesinya sebagai dokter Polri, membuatnya bekerja nomaden alias berpindah-pindah. Ia bahkan kerap ditugaskan di luar Jawa hingga keliling dari satu daerahj ke daerah yang lain. Hal itu membuatnya sering meninggalkan istri dan juga tiga buah hatinya.
“Untungnya keluarga saya mengerti, bahwa ini adalah resiko saya sebagai dokter polri. Sejak 1995, saya akhirnya memutuskan untuk menetap di Jakarta. Jadi selama saya dipindah tugas, saya pindah sendiri sedang mereka menetap disana. Ini demi pendidikan anak-anak,” tutur pria penghobi olahraga fitnes ini.
Namun, meski tinggal berjauhan dengan keluarga, saban satu minggu sekali, istri dan juga anak-anaknya kerap mengunjunginya di Surabaya. Sebab, Budiyono terbilang susah untuk meninggalkan daerah tempatnya bekerja, jadi ia hanya bisa pulang kalau ada tuga ke Jawa Barat atau Jakarta, maka ia akan menyempatkan diri untuk sejenak pulang ke rumah.
Akan tetapi, meskipun kerap tidak jauh dengan keluarga, Budiyono terbilang sangat dekat dengan tiga orang putrinya. Yaitu Nydia, Vidita, dan juga Salsabila. Kebiasaan terbuka dalam keluarga dan juga berdiskusi membuat mereka selalu ada untuk satu sama lain. “Mulai dari soal sekolah mereka, pekerjaan, atau masalah pribadi mereka atau misalnya pacar mereka, anak-anak saya selalu cerita,” ungkap suami dari Yennyi Lelita Oktaviawaty ini.
Budiyono mengaku sangat bersyukur dengan keluarga kecil yang ia miliki. Sebab, meski tinggal berjauhan, doengan modal kepercayaan dan juga kemandirian yang ia tanamkan pada anak-anaknya, semua anaknya telah berhasil menjadi anak-anak yang sukses.
“Anak saya yang pertama lulus sarjana UI di usia yang masih 19 tahun, dan langsung ditark bekerja semagai manager di salah satu perushaan swasta asing besar di Indonesia,” tuturnya. Begitu juga anaknya yang kedua, putrinya itu kini sedang merampungkan studi di Belanda dengan modal beasiswa akademik. Pun begitu dengan putri bungsunya, kini putrinya itu sedang menjadi boardingschool untuk persiapan kuliah di Australia.
“Anak-anak saya ajarkan mandiri, karena saya tidak bisa memantau 24 jam. Dan kuncinya mereka saya ajarkan untuk suka baca, dan bacaan apa itu saya sediakan,” pungkasnya tersenyum. (ima)

Foto-Foto by Ahmad Khusaini 
Fotografer Radar Surabaya

Kamis, Desember 25, 2014

Tahu Seragam Merk Purnama? Ini Dia Ownernya

^edisi khusus hari kemarin, kebetulan aku ditugaskan untuk meliput super mother Direktur UD Purnama, owner brand seragam sekolah Purnama yang sudah ada sejak tahun 1970. Dan beliau, emang benar super mother. Boleh ikutan baca deh..
Tulisan ini terbit di Radar Surabaya 22 Desember 2014, check this out readers..

Dwi Ermawati Owner Brand Seragam Purnama

Dwi Ermawati
Direktur Seragam Sekolah Merk Purnama

Belajar Bisnis dari Ibu

Keluarga dan anak selalu nomor satu. Itu semboyan Dwi Ermawati dalam bekerja dan berkeluarga. Kesibukannya sebagai pengusaha, tak pernah menyisihkan peran pengusaha konveksi khusus seragam sekolah ini sebagai seorang ibu. Tak berlebihan jika gelar super mother layak disampirkan pada wanita 34 tahun ini.

Kita yang mempunyai anak usia sekolah tentu tidak asing dengan produk seragam merk Purnama. Ya, brand satu itu memang sudah eksis sejak tahun 1970 an. Didirikan oleh pengusaha asal Kalimantan Barat, Jarman Bakri, perusahaan itu kini sudah menjadi produsen seragam sekolah terbesar di Indonesia.

Pasarnya sudah merambah seluruh wilayah Indonesia. Mulai Jawa, Bali, Kalimantan, Kupang, hingga Irian Jaya. Kini, roda bisnis keluarga itu ada di bawah kendali Erma. Ia adalah generasi ketiga, setelah ayahnya, yang menjalankan bisnis yang berpusat di Margomulyo tersebut.

“Kalau dibilang sibuk ya pasti sibuk, tapi pekerjaan sebagai seorang ibu adalah pekerjaan yang tidak bisa dialihkan pada orang lain. Kuncinya harus bisa menciptakan quality time dengan keluarga,” tutur wanita yang lahir di tanggal kabisat 29 Februari ini.

Wajar, sejak memutuskan untuk nyemplung total di perusahaan keluarganya tahun 2010 lalu, Erma memang harus benar-benar pandai membagi waktunya. Sebab, setiap hari, mulai pagi hingga sore ia harus memberikan fokus pikirannya untuk mengelola perusahaan yang setiap tahunnya mencetak sekitar 1 juta potong itu.

Awalnya memang cukup kelimpungan, tapi berkat proses belajar berdagang yang sudah ia mulai tahun 2002, Erma cukup bisa mengatasi pasang surutnya dunia bisnis. “Saya memegang bisnis keluarga ini tidak semerta-merta. Tapi mulai dari jaga toko di Pasar Turi sampai dengan saat ibu sudah tidak ada, maka baru itu saya benar-benar menggantikan posisi beliau,” kenang Erma. 

Erma bersama tiga anaknya. Aku ngefans sama Justin yang paling kecil. hehe
Diakuinya, saat mula bergelut mengurus perushaan, dirinya agak kesulitan membagi waktu dengan keluarga. Perhatiannya kerap terbagi-bagi, antara pekerjaan dan mengurus anak-anak. Tapi khusus dalam menciptakan quality time, Erma selalu bisa menyiasatinya.

Setiap malam, ia selalu mendampingi anak-anaknya belajar. Tak sampai di situ, ia juga selalu tidur dengan tiga anaknya dalam satu ranjang. Konon, itu ia lakukan untuk menebus waktu bersama anak-anaknya yang terpaksa hilang selama bekerja.

Bagaimana tidak, setiap harinya ia selalu berangkat ke kantor setiap pukul tujuh pagi dan pulang tepat pukul lima sore. Kadang, ketika ia pulang, anaknya belum pulang lantaran harus masuk les atau tambahan belajar.

“Nah waktu malam itu yang saya manfaatkan. Saat itulah, anak-anak suka cerita dia ngapain seharian dan menceritakan apa saja pengalamannya. Itu yang membuat kami selalu dekat,” tutur penggemar novel romance ini. Sesekali, ia juga menyempatkan untuk membacakan dongeng untuk putra-putrinya sembelum tidur.

Terlebih sebagai statusnya sebagai single parent sejak suaminya meninggal setahun lalu, Erma memang harus memberikan perhatian ekstra pada Danadyaksa Rifat Ramadhan, Sarah Belinda Silna Faradisa dan juga Mohammed Justin Kawakibi itu.

Selain menciptakan quality time bersama anak-anak, Erma menyebut bahwa ia kerap ketat dalam menjaga profesionalitas dalam bekerja. Saat bekerja, ia benar-benar tidak ingin diganggu oleh masalah keluarga, kecuali benar-benar pentiing dan mendesak. Begitu juga sebaliknya, saat jam kantor sudah selesai, ia juga tidak akan membawa urusan kantor ke dalam rumah.

“Meskipun kantornya hanya beberapa langkah dari rumah, saya tidak pernah mengijinkan anak-anak untuk kesana. Kalau ada mereka saya selalu tidak konsentrasi,” ucap wanita yang murah senyum ini dengan renyah.

Namun, prinsip itu pula yang ia terapkan di luar kantor. Setiap akhir pekan tiba, ia kerap memboyong tiga anaknya untuk pelesir ke tempat hiburan. Seperti piknik, atau sekedar ke taman hiburan di luar kota. Di  akhir pekan itulah, yang menjadi waktu untuknya mengabulkan keinginan buah hatinya.

Diakuinya, bekerja sebagai single parent dengan tiga anak yang masih butuh banyak perhatian ekstra, memang bukan hal yang mudah. Erma menyebutkan bahwa sebagai seorang ibu, memang dituntut untuk bisa melakukan hal yang berbeda dalam satu waktu yang sama. Yang konsekuensinya adalah semakin berkurang waktu bersama keluarga.
nyetting anaknya yang perempuan buat senyum susah banget. haha
Tapi meski begitu, ia bersyukur bahwa tiga buah hatinya adalah anak-anak yang pengertian. Mereka tergolong jarang protes dengan kesibukan sang bunda yang terbilang super padat itu. “Hampir semua urusan rumah tangga saya dibantu orang, tapi untuk urusan sekolah seperti ambil rapor dan belajar, anak-anak selalu maunya dengan saya. Bahkan, anak saya malah yang sering menagih untuk ditemani belajar,” ucapnya.

Lantaran tiga buah hatinya masih kecil-kecil Erma mengatakan tidak ada yang special yang ia rayakan jika hari ibu datang. Paling banter, ia mendapatkan kartu ucapan dari anak-anaknya yang biasanya ditugaskan dari sekolah. Tapi, hal itu tak menjadi masalah bagi Erma, yang penting, asal bisa mendampingi anak-anaknya, baginya sudah menjadi prestasi dan kebanggaan tersendiri.

Beda dengan dirinya, saat hari ibu tiba tentu saja saat sang bunda masih ada, Erma selalu memberikan perlakuan khusus bagi bundanya. “Saya temani ibu seharian, maunya apa, kepinginnya kemana saya turuti. Begitu juga saat ibu ulang tahun. Tapi kalau sekarang, mungkin karena anak-anak masih kecil, jadi belum begitu mengerti hari ya,” katanya.

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang, Erma mengakui sudah banyak wanita yang memutuskan untuk bekerja daripada hanya diam di rumah dan hanya mengurus rumah tangga. Namun, tak jarang pula sekarang yang takut untuk turut membantu suami dalam mencari nafkah. Menurut Erma, setiap langkah yang diambil selalu diikuti dengan resiko yang harus dihadapi.

“Termasuk bagi ibu-ibu muda yang memutuskan untuk berkeluarga sambil bekerja. Yang jelas tentu akan merasa, loh.. tahu-tahu anak sudah besar saja. Tentu banyak momen-momen yang terlewatkan bersama anak, tapi kembali lagi bagaimana pintarnya kita me-manage waktu yang imbang antara kerja dan keluarga,” tuturnya.

Menurutnya, meski ibunya sibuk, nantinya anak juga akan sadar. Sebagaimana Erma kecil pun sering ditinggal kedua orang tuanya untuk bekerja menjalankan bisnis. Tapi Erma mengatakan bahwa yang namanya anak, rasa cinta pada orang tua adalah naluri yang tak akan bisa hilang ditelan kesibukan orang tua yang menggila.
single parent, inspiratif, dan wanita super
Erma pun ingin anak-anaknya kelak bisa menyadari apa yang dilakukannya semata-mata untuk anaknya. Pun begitu saat Erma kecil dan beranjak dewasa. Ia menjadi saksi hidup bagaimana jatuh bangun keluarganya mengembangkan bisnis seragam Purnama itu. Dari sanalah ia juga belajar hingga menjadi seperti sekarang.

“Saya pun memegang bisnis ini dengan learning by doing. Dari melihat bagaimana orang tua saya bekerja, saya juga sering ditinggal. Dan ternyata sekarang saya juga begitu. Tapi semua bisa bertahan berkat dukungan anak-anak dan lima saudara saya,” pungkasnya.(ima/rak)

Foto-foto by Andy Satria

Jumat, Desember 19, 2014

Holi-working-day at Singapore

Hello readers… siap menyapamu kembali. Kali ini aku akan sedikit cerita tentang perjalananku ke negeri singa beberapa waktu yang lalu. Kebetulan baru-baru ini aku ditugaskan untuk terbang ke Singapura untuk meliput satu konferensi internasional se-Asia, Association of Southeast Asian Institution of Higher Learning (ASSAIHL). Lebih tepatnya Asean plus Hongkong.

Sebenarnya yang konferensi internasionalnya cukup unik sih ya. Aku ditugaskan membuat tulisan tentang karya dosen Unversitas Narotama yang mengangkat permainan tradisional Gobak Sodor dan Bentengan untuk mengajar di kelas. Ada sekitar 200 peserta di konferensi itu. Cukup banyak juga peserta dari Indonesia. Seperti Unair, Unbraw, dan juga Unesa dan Perbanas. Tapi karena aku kesana sponsored by Narotama, jadilah aku menulis tentang dua dosen nyentrik ini.

Nama dosennya Rony Wardhana dan Immah Inayati. Jadi mereka menggunakan dua permainan tradisional itu dalam mata kuliah manajemen system control. Mahasiswanya dalam mengajar diumpamakan lagi main gobak sodor dan bentengan. Unik kan? Pembelajarannya, permainan itu digunakan untuk membuat strategi dalam mengatasi ekonomi dan bisnis dalam perushaan.
Nah tulisannya jadinya gini nih..

E3ditional Macos Universitas Narotama
Tapi ada yang lebih bikin aku seneng dalam berpetualang meliput di negeri yang sangat bersih itu.  Sebelum berangkat kesana, Pemredku menugaskan agar aku nggak hanya membuat tulisan tentang tentang konferensi itu saja. Melainkan juga membuat tulisan feature. Terserah membuat tulisan apa. Yang nemu disana, yang bisa diangkat jadi berita.

Sebelum berangkat aku sudah mulai cari ide. Apa ya yang bisa diangkat. Akhirnya aku memutuskan untuk menulis tentang pembatasan memiliki kendaraan pribadi di Singapura. Ide itu tercetus karena yang aku dengar di sana masyarakatnya dibatasi untuk punya mobil. Kabarnya karena ada pengaturan untuk system pajak dan pembelian mobil bahkan untuk mereka harus antri untuk punya mobil.

Aku sempat sharing dengan fotograferku yang juga ikut berangkat. Aku sharing untuk request foto. Dia sempat ngritik kenapa aku pake ngonsep sebelum berangkat, katanya lihat langsung aja di lapangan yang menarik apa, itu yang dijadikan angle. Tapi yaaaa gimana ya, karena terbiasa punya planning, aku nggak begitu suka dengan sesuatu yang ndadak. 

Apalagi kalau menggantungkan diri pada sesuatu yang nggak pasti. Yang punya plan aja kadang gagal, apa lagi enggak ada. Hehehe. Tapi mas satu ini asli baik kok dalam membantuku berkutat mikir angle. Walaupun akhirnya mbalik itu-itu lagi. Hehehe wajar, seniooor.

Akhirnya aku setengah isi setengah kosong saat mulai mendekati orang Singapura untuk wawancara. Aku menggiringnya untuk mau ngomong tentang pengurusan kepemilikan mobil. Dan saat disana aku cukup takjub ddengan mass transport  mereka yang menggunakan listrik. Bis saja mereka sudah bis listrik.

Aku sempet tahu karena sampai di sana dan melewati jalanan kota, bis itu punya charging poin di sebelah kanannya. Oh, berarti semua bis pakai listrik. Begitu juga dengan kereta listriknya. Nah akhirnya, aku sambungin ide tulisanku dengan pengamatan itu. Aku putuskan untuk menulis tentang system yang dibuat pemerintah untuk mendukung mass transport mereka. Salah satunya adalah pajak. Kebetulan pertengahan tahun ini, pemerintah Singapura baru saja menaikkan harga pajak kepemilikan kendaraannya.

Dan ini pentingnya melakukan riset sebelum wawancara. Ketika aku wawancara dengan orang Singapura itu aku jadinya nyambung. Entah walaupun tulisannya nggak sekenceng dan seratus persen sesuai dengan rencana awal, tapi paling nggak ide awal itu leading me into the right angle.

Dan taddaaaa tulisannya jadi besar di halaman tiga. Didukung dengan foto yang kece dari mas Abdullah Munir, tulisannya jadi keren nampang di halaman tiga Town Square. Terima kasih buat redakturku yang imut dan ganteng (bayar mas) mas Eko Yudhoyono yang meramu tulisanku jadi cantik. 
unyunya ada cap laporan dari Singapura. hehe
Itu data yang aku cantumin dapat dari riset dan juga dibantuin nyariin sama istrinya narasumber lhoo. Asli baik banget narasumberku satu itu. Tuhan yang balas deh ya. Terima kasih untuk Narotama dan big hug untuk Singapura dan juga Radar Surabaya.

Day 1 .. (to be continued)..

foto di tengah jalan
Selama empat hari di sana, kayak nggak lagi kerja. Kerja tapi rasa libur. That was holi-working-days.. Hehe.

Kamis, November 27, 2014

Late Nite Story (1)


me. under the shadows
just wanna write something before go bed. insomnia again and again anyway
ini tentang ceritaku hari ini. kemarin malam aku baru saja menyelesaikan satu tulisan lapsus dan HL. setelah dua hari sebelumnya aku menulis tujuh tulisan. satu HL, satu fenomena, satu boks, satu open halaman dalam dan dua tulisan society. apa ya rasanya, amazed aja. 
tapi siang tadi ketika aku lagi curhat sama salah seorang senior di lapangan tentang susahnnya ngontak narasumber, aku seperti tertohok. sudah lima hari dan orang yang aku kejar itu tak kunjung memberi keterangan. padahal konfirmasi itu sangat penting untuk tulisan lapsusku yang tayang pagi ini.
lalu seniorku itu tersenyum. dia bilang, aku sah-sah saja menuliskan tulisan itu, dengan catatan aku menuliskan bagaimana usahaku untuk menghubunginya, yang akhirnya gagal. katanya itu sah dalam ilmu komunikasi jurnalistik. itu namanya destresing atau something apaaa gitu yang aku nggak ngeh.
that's the point. that i don't know anything about theory in communication, journalism, and everything. satu yang aku tahu, adalah menulis berita, wawancara, hunting isu, dan mencari angle. 
dia nggak mengatakan sindiran atau mengejek atau apapun memang, tapi aku hanya merasa bias saja. ada ya pelajaran gitu? yang aku tahu selama kuliah ya belajar hukum newton, teori relativitas, kuantum, termodinamika de el el. 
hahaha. lalu setelahnya aku diajak untuk S2. dua pilihan, yang linier atau yang nggak linier. aku juga bingung mau jawab apa. yang jelas, dalam waktu dekat aku tidak sedang ingin kuliah. tapi aku ingin belajar lebih banyak tentang jurnalistik. bukan hanya wawancara dan menulis berita. tapi seninya jurnalistik, dan seluk beluknya. aku masih belum memenuhi tantangan ku sendiri, tentang menulis yang lebih soft... eh aku sudah mulai ding pas nulis berita Ubaya. hahaha, tapi kayaknya belum adda apa-apanya. harus siap2 jauh hari kan ya, sapa tahu tahun depan aku dipindah desk lifestyle. nelen ludah. belum siap. 
okei. gudnait readers. thanks for reading ya. nice dream all. :D



Kamis, November 20, 2014

Mom's Diary in The Year of 1986

Hello readers..
Menyapamu lagi di tengah heningnya malam. Malam ini saya gagal bisa memenuhi jadwal untuk tidur lebih awal. Banyak godaannya. Pertama chattingan sama akhi2 galau, terus baca2 berita, dan kemudian tergoda untuk buka fesbuk dan seperti yang sudah saya duga saya langsung badmood. Haha, badmood that I have to over come soon. 

Tapi saya lalu ingin memanfaatkan waktu senggang ini dengan memposting satu hal yang sudah saya persiapkan sejak kemarin malam sebenarnya.

Well, before I go on with my story, I wanna ask u something. Have u ever read your Mom's diary guys? Or even Does your Mom has a diary? Hahaha because my Mom does. And last night I did read her diary while she was sleeping on my right. It was by her request actually. Eh kok malah bahasa inggrisan sih.

Hanya saja yang membuat tertegun adalah, saya baru sadar kalau jiwa melankolis yang mengalir di darah saya ini ternyata menurun dengan kentalnya dari Ibu saya. Ya, karena dulu pas saya masih SD, saya juga menulis diary. Saat itu saya masih duduk di kelas empat dan saya mendapatkan kado diary dari teman saya. Itulah diary pertama saya. 

Sejak itu saya jadi suka menulis diary sebelum tidur. Setiap apa yang terjadi dalam hari saya, saya tuangkan di sana. Mulai senengnya bermain di sekolah, galaknya guru matematika, dan juga serunya merancang belajar kelompok, ataupun senangnya bermain layangan di sawah depan rumah. Heei,, my childhood was very memorable right. 

Dan setelah saya menuliskan diary itu, saya akan mengakhirinya dengan membubuhkan tanda tangan saya yang jelek itu. Hingga akhirnya saya pun tertidur. Lalu paginya, saya selalu mendahului ning saya untuk membersihkan tempat tidur dan menyembunyikan diary kecil saya di bawah bantal. 

Kalian tahu, setiap pulang sekolah saya akan mengecek diary saya, lalu saya selalu sadar posisinya berubaah. Aaaah Ibu saya pasti telah membaca isi diary saya. Tentu saja saya malu untuk menanyakan apakah Ibu membacanya? Saya memang tidak sedekat ini dengan ibu saya dulu. Ibu saya lebih sayang ke ning saya, sedih ya. Makanya saya lebih sering ngambek dan diam dibandingkan harus berkomunikasi dengan ibu saya. 

(But, itu semua berubah sejak saya dipondokkan. Ternyata pisah dari orang tua itu membuat kita sadar kalau kita sangat sangat sangat sayang mereka, begitu pula mereka pada kita. Hahah. Bahkan saat pertama kali telfon Ibu saya saat saya pertama kali momdok, saya hampir tidak bisa mengutarakan apa yang saya ingin katakan. Karena haru. Dan akhirnya Ibu saya mendengar saya menangis. Cengeeengnyaaa)

Back to the topic anyway. Yap, kemarin malam saat saya mendapatkan kesempatan libur dua hari, saya benar-benar memanfaatkannya untuk menyenangkan Ibu saya. Apa saja yang Ibu mau saya jabanin. Siangnya ibu minta di download kan lagu Rhoma Irama, hahaha. Katanya itu lagu kenangannya sama ayah saat awal-awal pernikahan mereka. Hingga akhirnya ibu sepertinya terbawa suasana untuk mengenang masa lalu.

Beliau pun meminta saya mengambilkan diarynya yang tersimpan di atas lemari. Ibu memintaku untuk membacakan diarynya di kisaran bulan Juni 1986. Kata Ibu, itu adalah masa-masa galaunya sebelum dinikahkan dengan ayah. Aku terkikik saat membacanya. Saat itu, tanggal 5 Juni 1986, dan ibu sedang packing kamar kosnya untuk pulang ke Bangil. Dia sudah selesai membagikan undangan pernikahannya 26 Juni mendatang, namunm Ibu sama sekali belum tahu siapa sebenarnya lelaki yang akan menemaninya seumur hidup itu.

my mom's diary
Yang Ibu tahu hanya lelaki ibu kini masih sekolah di Kuwait. Itu saja. Mereka akhirnya baru bertemu tanggal 18 Juni sebelum 26 Juninya akad nikah. Dan saat itu undangan sudah tersebar. Hah? Saya bisa membayangkan bagaimana perasaan Ibu saya waktu itu. Katanya dalam diary dia gundah. Hahaha. "Aku mengambil segala risiko yang ada, untuk patuh pada orang tua," tulisnya. 

bacainnya susah payah, sambil Ibu saya ngoreksi
Tapi kalau saya jadi Ibu sih ya iyalah saya mau saja. Wong yang ngejodohin bu nyai, pasti lancar Buk... Lalu Ibu pun cerita usai menikah harus ditinggal ayah ke Kuwait lagi. Baru setelah satu tahun berikutnya ayah benar-benar pulang. Katanya mereka dulu surat-suratan. Dan suratnya berlembar-lembar banyaknya. Ih wow. Kayaknya kalau ditulis novel bagus nggak sih cerita orang tua saya? hahahah just kidding guys. 


ini tulisan tangan tahun 1986
 

Senin, November 17, 2014

Late, But Welcome 23

Angka 23 buat saya adalah angka yang langka. Disebut langka sebab saya sangat jarang memakai angka ini. Bisa dibilang saya nggak kenal sama angka ini. Jarang dipakai untuk absen, pin, password, nomor plat motor, or anything lah. Yang jelas, saya nggak pernah ngafalin angka ini untuk sesuatu yang berarti dan penting.

But, ternyata datangnya angka ini dalam usia saya sangat memorable. Ini late post sebenarnya. Dan I am going to share to you how this number turning me in the age of 23. Dan spesialnya, di ulang tahun saya kali ini, saya dikerjai dua kali. Nah, saya ceritakan yang pertama dulu ya

Biasanya ultah saya dirayakan (saya dikerjai) tepat saat pergantian tahun, yaitu 20 september malam atau kalau nggak tepat di tanggal 21 septembernya. Saya sama sekali tidak menyangka kalau saya justru dikerjai ultah saat tanggal muda, yaitu 6 september. 

Pak Wahyu jadi MC di rapat di Tretes. Totalitas nih orang.
Ini terjadi saat kantor sedang ada acara rapat plus gathering di vila pemkot di Tretes. Nah, di sana, seperti yang sudah dijadwalkan, kami hura-hura di sana. Karaoke, dan juga maen aneka games sebelum bagi-bagi dorprise. Nah, saya yang kebetulan dibikin sibuk dengan segala rangkaian acarannya akhirnya tenang saat acara mulai bergeser ke acara inti yaitu evaluasi bulanan seperti biasa.

Pak Jee Wapimred dan Mb Opi Pimred
Bu pimred Mb Opi, dan juga bapak wapimred, Pak Jee memimpin langsung rapatnya. And see, rapat langsung mengumumkan tentang adanya mutasi sejumlah kru antar biro dan lintas divisi. Ada empat orang yang kebetulan kebagian jatah itu. Yaitu mas Rudi, Gayu, Pak Edo dan jugaaaa saya.

Ih wow. Dan ternyata saya dipindah ke Radar Sidoarjo untuk diposisikan sebagai assred. Tentu saja saya shock. Iyalah shock, jadi assred yang masih liputan dan liputannya di negeri antahberantah Sidoarjo. Saya nggak mudeng sama sekali kota udang itu. Tentu saja batin saya bergolak secara tiba-tiba. 

Pertama, saya belum genap satu tahun bekerja di sana kok sudah dapat promosi dapat jabatan asisten redaktur. Impossible kan. Saya stay cool saya. Pikiran saya yang spontan saya langsung kepikiran untuk resign. Hahah. Pertama saya nggak mau hidup di Sidoarjo. Kedua saya baru saja pindah kos ke Kutisari. Saya nggak ngebayangin akan rueepot lagi untuk usung-usung barang. Wiis, cukup kayaknya. Lalu alasan ke tiga adalah yang utama. Karena redaksi mulai bergejolak sejak bu pimred menyebutkan nama saya dapat promosi jadi assrred.

"Ima itu masih wartawan kemarin sore, atas dasar apa dia diangkat jadi assred. Nggak bisa Bu !! " itu celetukan kasar dari Pak Wahyu. Wartawan senior yang bikin jleb banget ya. Hahaha

Nggak cuma mas Wahyu aja yang nyereng nggak terima. Yang lain juga dipanas-panasi. Di sisi lain Pak Jee yang mbaikin ngebelain bla bla bla. Mb opi, malah nyodorirn isu kalau saya deket sama GM nya Radar Sidoarjo. Yang bisa jadi itu yang membuat saya bisa dapat promosi cepat. Waaah parah ini. 

Saya memilih diam saja, Nangis sih dikit dikata2in gitu. Tapi tak tahan ajaaa. Jangan sampek deh nangis didepan banyak orang gitu. Dari pada mbikin kisruh, saya resign saja bapak-bapak ibu-ibu..

Hingga akhirnya saya disuruh maju. Dan Mb Opi membawa kue ulang tahun. Huaaaa tangis saya pecah. Gilaaaa jahat banget orang-orang ini. Ngerjain orang bawa-bawa profesionalitas sampek yang jleb jleb. Gilanya mereka sampek berantem juga lho Pak Wah sama Pak Jee. Pisuh-pisuhan dan haaaaaash bikin males banget sampek Pak Jee walk out dari arena rapat.

Dan sialnya, skenario itu hanya diketahui tiga orang itu -Mb opi, pak jee, pak wah- Otomattis yang lain juga kebawa situasi panas itu. Mereka bingung. Sukses terbawa emosi pak wah yang menentang dan ngejur saya itu.. Hahaha

Daaaan... ternyata semua itu cuma palsu. Itu semua dibuat karena kami berempat ulang tahun di bulan ini. Hahaha. Syukurlah.. Aseli saya bersyukur ini hanya bohongan. And congrotulation Mr and Mrs Boss. You were all succed to make me cry....

Hahah but thanks yaaaa... lets say that they did that because they love me... big huuuug.....

akhirnya meniup lilin bersama orang2 yang juga dikerjain. I wished that I would not got something like this anymore. It was hurt
Hahaha. tapi berkesan banget ya... dengan muka penuh dengan belepotan bedan baby, saya dan teman-teman lain pun meniup lilin ultah kami. Nggak puas deh kayaknya mereka itu ya. Kami pun masih juga disiram dengan air dingin. Begigil rek. Tapi saya sayang mereka deh, walaupun jahat begitu. :D

jelek banget mukanya. tears, powders and then water.
Yeeey.. alhamdulillah deh... Tapi begitu esok harinya acara berlanjut, acara sudah normal kembali. Kami paginya sebelum pulang sempet maen games Gobak sodor lho. Di halaman vila yang cukup luas itu kami bentangkan tali rafiah untuk membentuk arena gobak sodor. Meski perturan lombanya cukup weird, tapi cukup mbikin kita ngakak, dan seru-seruan.

suka foto iini. Liat deh ekspresinya ketawa semua :D

gobak sodor yang peraturannya di kotak boleh dua orang ya cuman ini deh

foto bareng gayu, mas sam motretnya back-light nih
Tapi ternyata make a wish saya nggak kekabul untuk dikerjai di tretes itu yang terakhir. Karena mereka ternyata masih menyimpan 'hadiah' yang lain. Tepat seminggu sebelum saya benar-benar usia 23, si mas Made yang ngepos di kriminal resign. Dan tahu apa, saya disuruh back up post yang menurut saya horor itu.

Saya murni ngiranya itu cuman becandaan, sampai akhirnya Pak Jee (again and again) ngajakin ngopi di Pujasera. Topiknya menyiapkan mental saya sebelum besok paginya ngeliter di polsek2 dan polres. Kami ngobrol sampai jam 00.30. Kalau udah gitu apakah saya masih boleh berprasangka kalau ini cuma becanda. Secara wapimred yang ngasih tahu langsung. Perlu dicatat pimred nya kali itu lagi cuti soalnya.

Jadilah saya ngepost di kriminal dan anehnya masih back up pos pendidikan. Kelimpungan ke sana kemari. Eh tapi seneng ding, saya jadi liputan 810 alias tembak mati. Waktu itu kedapatan liputan heroik polisi yang berhasil menang setelah tembak2an sama pencuri yang menggunakan kekerasan. Sampai akhirnya salah satu pelakunya ditembak mati. 

Haha, tapi akhirnya saya sempet ngambul dan mutung. Saat itu weekend dan nggak adda berita kriminal belas. Saya ngambul nggak ngantor dan malah ke transnet (warnetnya langganan wartawan di depan grahadi) untuk ngetik di sana. Di cariin dan dimarahin. Hiks. Sialnya itu sampai sekarang jadi gojlokan buat saya. "Ngambul ke transet" okee baiklah my fault. Tapi untunglah itu semuarak berakhir saat saya genap 23 tahun di hari seninnya. Ah susah sekali menuju angka 23 ini ya. 

Bismillah... semoga di tahun ini, Allah memberikan usia yang berkah bagi saya, lebih baik dari tahun sebelumnya, dan bisa semakin bermanfaat untuk orang-orang di sekitar saya. Satu langkah untuk menjadi lebih dewasa. Tahun ini ada banyak target yang coba saya tuliskan di wall dream saya. Semogga satu persatu bisa saya coret dengan senyum yang terkembang. Hanya dengan ridhoMu, Allah.

Thanks for reading guys.  .  .
All of the pictures were taken by Andy Satria. 

thanks mas sam, jadinya bisa di pos di sini deh. 

Minggu, November 09, 2014

People Grow With Their Own Song


Wooo.. Has been long time ya since I left this blog empty. *guilty

Actually, I don't want to share anything dear readers. But lately, since I heard a song that has too meaning for me, then I have something to tell you.
I think, you do agree if I say, people grow with their own song. And so do I.  All of my life is packed in many songs. Let’s say, each song for each moment. Hahhaha
So it’s easy for me to be pulled back in a moment in the past just because I heard one song that I had memory with it.
I will be very pleasure guys if it is a good moment. But…the case will be terrible if it is a bad memory and moment. So I will be brought into the time that I want to forget so much. And sadly, it comes more often in the few days later.

This is because I open the black box, hehe it is Antares actually -my old laptop. I played many songs on it. And you know, one by one my tears down. I didn’t know why. Maybe because the songs I played, brought the memories in my past. Just like this song. 


Just like the lyric, I have so much to say, but you are so far away. 


Minggu, Agustus 24, 2014

Perang Bedak Pahlawan Agustusan


 Gak kerasa merdeka kalau belum ada lomba-lomba agustusan kan ya?








Parade foto perang bedak agustusan 2014 ala Radar Surabaya. Bahagia itu sederhana. Bersama teman bersama mereka. 

Minggu, Agustus 17, 2014

Melihat Rumah Kelahiran Bung Karno di Pandean Peneleh Surabaya

RUMAH PROKLAMATOR: Di Jalan Pandean IV no 40 ini, diketahui sebagai tempat kelahiran Presiden RI pertama, Soekarno. Rumah ini belum dibuka untuk umum karena status miliknya 

Hari ini, tepat 69 silam, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Dua tokoh proklamator ini kemudian juga menjadi presiden-wakil presiden RI pertama. Dan khusus untuk Bung Karno (sebutan Soekarno), sejak 2011 lalu sejarah telah mencatat bahwa dia ternyata lahir di Surabaya.
Fatimatuz Zahroh/Radar Surabaya

JALAN Peneleh Gg Pandean IV/40. Di sinilah rumah tempat Bung Karno dilahirkan. Tidak ada yang menonjol dari rumah bercat putih berukuran 5x14 meter persegi itu. Tempatnya juga tidak ada di pinggir jalan, melainkan harus masuk ke gang sempit yang tak bisa dilalui roda empat. Bahkan jika ke sana, naik roda dua pun harus turun dari kendaraan dan dituntun.

Di rumah bersejarah itu, bahkan tidak ada monumen atau prasasti resmi yang menyatakan bahwa tempat tersebut merupakan bukti sejarah bahwa proklamtor kemerdekaan Republik Indonesia Ir Soekarno dilahirkan di sana pada 6 Juni 1901 silam. Satu-satunya yang menyatakan bahwa rumah tersebut merupakan tempat lahir Bung Karno adalah plakat kuning dari Pemkot Surabaya. Plakat itu

menyatakan bahwa rumah itu adalah tempat lahirnya Bung Karno dan tempat beliau dulu tinggal saat masa kanak-kanak.

Meski demikian, rumah ini bukan milik pemkot. Pemilik rumah ini bernama adalah Mahmud. Dia juga menghuni rumah tersebut. Dia mengaku kerap merasa kerepotan untuk menerima tamu yang berkunjung. Ya, sejak ditetapkan sebagai tempat kelahiran Bung Karno, ada saja pengunjung yang mendatangi rumah ini. Namun kadang kala rumah bersejarah memang tidak dibuka, sebab statusnya adalah milik perorangan.

Mahmud mengungkapkan awalnya dirinya juga tidak tahun bahwa rumah yang sudah didiaminya sejak tahun 1990 itu memiliki nilai sejarah. Lebih-lebih merupakan lahirnya tokoh yang termasuk dalam jajaran pria berpengaruh di dunia. “Yang jelas baru tiga tahun lalu dinyatakan kalau dulu Bung Karno tinggal di sini,” ujarnya.

Tapi, meski dinyatakan sebagai tempat lahirnya Bung Karno, di rumah tersebut tidak ada bukti autentik sejarah tersebut, baik itu foto, kertas atau pun surat-surat yang bisa menjadi jejak sejarah. “Dari cerita sih, dulu Bung Karno lahir di sini. Kemungkinan dulu ditolong dukun bayi atau bidan di sini,” imbuhnya.  Selebihnya Mahmud tidak tahu menahu lagi.

Yang jelas, beberapa waktu yang lalu, putrid Bung Karno Megawati Soekarnoputri pernah datang ke rumah tersebut untuk turut belajar sejarah. Kamar kecil di rumahnya yang diduga tempat Bung Karno kecil menangis pertama kali pun sempat disambangi oleh mantan presiden wanita pertama Indonesia itu.

“Bangunannya memang tidak saya ubah. Dari awal sudah begini,” kata pria berusia 65 tahun ini. Mahmud mengaku sejak awal tinggal di tempat tersebut bersama dua saudaranya Jamilah dan juga suaminya.

Meski sudah ditetapkan sebagai tempat bersejarah, namun pemerintah tidak membeli rumah itu. Mau tidak mau, Mahmud yang dadakan menjadi ‘pemandu’ ketika banyak tamu datang. Seperti saat Radar Surabaya mengunjungi tempat ini. Yang diberikan oleh pemkot hanyalah plakat.

di rumah HOS Tjokroaminoto

Kondisi ini jauh berbeda dengan situs bersejarah lain yang bebeda beberapa gang saja dari Pandean. Yaitu di Jalan Peneleh Gang VII 29-31. Di situ juga terdapat sisa-sisa sejarah sang proklamator. Yaitu kediaman pendiri Sarekat Islam Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, yang sekaligus menjadi tempat Bung Karno ngekos saat masih muda.

Rumah seluas 9x12 meter persegi itu lebih terawat dan terjaga. Ini lantaran tempat satu ini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Seorang guide atau pengelola pun ditempatkan khusus untuk menjaga tempat ini.
“Dulu Bung Karno ngekos di rumah HOS Tjokroaminoto ini. Sekarang istilahnya kos, tapi kalau dulu seperti mondok,” ujar Eko Hadi Ratno, pengelola rumah bersejarah ini.

di dalam rumah HOS Tjokroaminoto yang jadi tempat mondoknya bung karno
Eko menyatakan bahwa rumah ini sudah ditemukan sejak tahun 1996 dan baru diresmikan tahun 2009. Berbeda dengan rumah di Pandean, rumah ini mendapat dana khusus dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Surabaya. Total dana per tahun sebesar Rp 12 juta digulirkan untuk biaya perawatan dan penjagaan.

“Sebenarnya rumah yang di Pandean ingin dijadikan datu paket dengan tempat ini. Tapi karena ada konflik pembebasan lahan, makanya rumah di Pandean belum juga menjadi cagar budaya resmi milik pemkot,” terangnya.

Terkait rumah Pandean, Eko sedikit menyebutkan penemuan rumah tersebut sebagai tempat lahir Bung Karno bukan sembarangan. Informasi dari berbagai sumber pun dikumpulkan untuk penetapan ini, termasuk mengundang keluarga Bung Karno dari Blitar. “Pihak keluarga Blitar pun membenarkan bahwa pada tahun kelahiran Bung Karno, orang tua Bung Karno memang tidak sedang di Blitar melainkan di Surabaya. Dan setelah diteliti, ternyata pada tahun tersebut tercatat bahwa orang tua Bung Karno kontrak rumah di Pandean tersebut,” terangnya.

"Kemerdekaan Indonesia itu berawal dari pintu ini," kata Eko. Iya. karena di sini awal mereka berdiskusi dan sadar bangsa kita tengah dijajah
Terkait rumah Pandean, Eko sedikit menyebutkan penemuan rumah tersebut sebagai tempat lahir Bung Karno bukan sembarangan. Informasi dari berbagai sumber pun dikumpulkan untuk penetapan ini, termasuk mengundang keluarga Bung Karno dari Blitar. “Pihak keluarga Blitar pun membenarkan bahwa pada tahun kelahiran Bung Karno, orang tua Bung Karno memang tidak sedang di Blitar melainkan di Surabaya. Dan setelah diteliti, ternyata pada tahun tersebut tercatat bahwa orang tua Bung Karno kontrak rumah di Pandean tersebut,” terangnya. 

Eko menerangkan bahwa di rumah Tjokroaminoto ini memang dijadikan banyak pemuda untuk berguru. Selain Bung Karno, ada juga tokoh kenamaan seperti Kartosuwiryo, Muso Halimin dan juga beberapa pemuda lainnya. Di sini, Tjokroaminoto selain mengajari tentang agama juga tentang kebangsaan. Tjokroaminoto berupaya menyadarkan para pemuda bahwa negara Indonesia sedang dijajah.

“Karena lama di sini, Bung Karno akhirnya menikah dengan putri Tjokroaminoto bernama Oetari. Bung Karno memang sejak dulu sudah dikenal sebagai murid yang luar biasa oleh beliau,” imbuhnya. (*/jee) 
nih tak kasih gambar di dalem ruangannya tapi pake narsis.. hehe

Dirgahayu ke 69 Indonesiaaa ...
Foto-foto oleh Ahmad Khusaini fotografer Radar Surabaya. Kecuali foto selfie terakhir.