Minggu, Mei 11, 2014

Because Graduation is Always Special





Dulu ketika maba di Jurusan Fisika FMIPA ITS Surabaya, saya bahkan belum bisa membayangkan bagaimana ya saat semua tugas akademik di kampus perjuangan tunai. Begitu waktu itu tiba semua beban rasanya terangkat. Lega.




Tapi kata orang bahwa Tuhan selalu baik dan memberi kita apa saja tepat pada waktunya, semuanya benar dan nyata. Bahwa tidak ada suatu kebetulan, dan tidak ada musibah yang datang tanpa hikmah




Yap, saya sempat menganggap bahwa molornya saya satu semester adalah musibah terbesar. Tapi toh nyatanya tidak. Bergelut satu mata kuliah saja dalam enam bulan, bukan satu hal yang mudah. Jengah 




But well, semua mengantarkan saya pada satu titik dimana saya berada sekarang. Semua sudah yang Di Atas yang mengatur. Semua perjuangan telah tunai, dan saatnya kita memulai perjuangan yang lain dengan mimpi dan tantangan baru, Kawan









Momentum 2009
Jadi ingat, momentum itu adalah  nama angkatan kami. Nama kaum kami. Nama itu diberikan ketika kami seangkatan telah lolos menjalani proses ospek yang bernama Pengkaderan. Ada yang bilang pengkaderan di ITS berat? Ya. itu tidak bohong. Kami benar-benar ditempa bagaimana survive dengan mengenal keluarga kami seangkatan. Saya ingat dulu di awal-awal kami diminta untuk mengenal ke 64 teman kami satu sama lain. mulai dari nama, asal, golongan darah, sampai dia punya penyakit apa. 

Dalam satu even bernama Physics Charakter Buildng (PCB), kami ditanya satu-satu poin-poin di atas sebagai indikator kami sudah saling kenal atau belum. Kalau hanya tahu nama saja, kena poin. Yang nanggung hukuman bukan kami langsung. Tapi seringnya adalah Komting. Komting itu semacam ketua kelas, ketua angkatan. Dia koordinator kami. Nah, pas jaman maba, komting Momentum itu tuh di foto yang tengah. Namanya Mashuri. 

Dia komting yang keren, melas dan juga kasihan. hahaha (maaf ya mashuri). Tapi justru dia yang membuat kita jadi angkatan yang nggak cupu. He is a good komting. Jadi komting yang seringnya jadi korban naggung hukuman. Mulai dari push up, panggilan malam push up berantai, bahkan juga jotos-jotosan. 

Hmmm entahlah. Kata orang ini yang bikin persaudaraan mahasiswa ITS itu erat. Bisa jadi begitu. Karena bagi saya, semua anggota Momentum adalah saudara. Mereka yang selalu ada dalam sedih senang dan juga tempat melibur lara. Karena hanya teman keluarga yang kita punya di tanah rantau. 

Tempat curhat saat kangen, tempat ngutang saat kiriman telat, tempat mencari motivasi, dan juga tempat mencari inspirasi. Makanya, saat lulusan kemarin, rasanya seperti tersedot ke lorong waktu saat pengukuhan maba. Tak terasa bahwa 16 Maret 2014 itu telah mengukuhkan kami jadi sarjana.

Memang saya nggak ikut prosesi euforia saat di Jurusan bersama teman-teman yang lain. Bagi saya, semua suka dan luka yang terukir sudah cukup untuk saya bungkus dalam memori berlabel Keluarga Momentumku. Bersama mereka saya tumbuh menjadi seperti sekarang. Bersama mereka saya berkembang dan bersama mereka saya menemukan apa arti persaudaraan dalam persahabatan.

Mungkin kali lain kita bosa bersua lagi secara utuh. Dengan komitmen lain, dan mimpi-mimpi yang lain. Komitmen Momentum dulu apa ya? Menjadi keluarga yang kuat, berprestasi dan apa ya lupa. Hahahaha. Gara-gara ngapalinnya underpreasure sih.. 

Happy Graduation Momentum. Thanks for everything
*latepost

Selasa, Mei 06, 2014

Paranoid, Pengidap Tumor Mulut Sylvia Rumpuin

hai guys.... kok rasanya lama banget nggak nge blog.. jadi pengen cerita-cerita lagi.
kali ini yg pengen tak share adalah pengalaman kemarin pas liputan bocah penderita kanker mulut. well.. pasti serem ya ndengernya? sama ... apa lagi saya yang liputan dan langsung ketemu si bocah...

oke? jadi ceritanya saya dapet tugas siang2 pas lagi boci karena tepar paginya habis liputan sidak UN, ditugasin sama GM Radar Sidoarjo untuk ngeliput Sylvia Putri Rumpuin. dia adalah warfa sidoarjo yang mengidap tumor mulut. kabarnya dia sudah dirujuk ke RSUD Dr Soetomo dan sempat nginep di Yayasan Kanker Indonesia (YKI).

yaaa kalao boleh jujur saya menghindari banget ambil liputan begini ini. semua tentang rumah sakit saya benci pokoknya. paranoid. trauma. daaan yaaa sejenisnya. tapi karena sudah sempet koordinasi dan yg punya pos kesehatan juga gak mau take, yaa akhirnya saya yang berangkat.

dengan bekal petuah 'Kalau kerja yang ikhlas..' saya akhirnya melangkah mantap ke soetomo dan langsung cus ke IRNA Bedah Cempaka. yap tanpa ijin sana sini, dan juga menghindari bertanya petugas rumah sakit. karena apa? berdasarkan pengalaman, ijin sama petugas itu sselalu bukan malah membuat tugas makin ringan tapi justru semakin ribet. suruh ngurus inilah itulah... pokoknya serba prosedural.

saya langsung nemu ruang cempaka. dan secara manual nyari ruangan sylvia. nyelonong masuk sambil tengok kanan kiri, semoga nemu. dan alhamdulillah, pas lewat di depan kamar nomor 18 saya nggak sengaja lihat bocah yang mulut bengkak dengan ukuran super. bahkan ada benjolan daging berwarna merah yang muncul keluar mulut. *astaghfirullah. sepertinya dia yang saya cari.

alhamdulillahnya, pas ada dokter anastesi yang meriksa. dan saya candid sedapat mungkin ambil gambar. well... ini dilakukan buat jaga2 karna keluarga pasien begini suka sensitif kalo mau diambil gambar. untungnya nggak ketahuan. tapi akhirnya sya ijin kalo td udah ambil gambar. well ini karna sialnya mas fotografer g bisa di ajak ke RS. tp syukurlah semua teratasi. 
untuk memastikan, saya coba tanya ke suster apa benar Sylvia dirawat di kamar nomor 18. dan ternyata benar. saya pun langsung kesana dan ternyata dia tidak sedang didampingi ayah ibunya. saya sudah defence padahal. karna kata wartawan jawa pos, ortunya yang asli ambon itu agak gak suka anaknya di ekspos media.

saya pun memanfaatkan waktu kami berdua untuk ngobrol. walau dia susah bicara -dia hanya bisa membuka sedikit ruang untuk ngomong- tapi dia berbaik hati untuk menjawab satu dua pertanyaan saya. sebelum lalu sylvia menelepon ibunya agar segera datang. well dia mulai risih ya

pas sy tanya, ternyata tumor itu tumbuh karena dia salah langkah dalam mencabut gigi geraham kirinya. dia mencabut kasar giginya yang sudah goyang hingga akhirnya infeksi. keluarganya sempat membawa ke rumah sakit. namun diagnosa dokter justru salah. dokter memberinya vonis TBC. alhasil selama dua bulan lebih Sylvia hanya diobati dengan obat TBC bukan tumor.

tentu saja, karena salah obat bengkak di mulut bocah kelas V SDN Leboh ini tak kunjung kempis. tapi justru seminggu belakangan semakin membesar hingga keluar bagian mulut. karena khawatir barulah ibunya Poniyum merujuknya ke RS Airlangga. dari sana Sylvia mendapat rujukan ke YKI.

dari YKI itu akhirnya jadwal oprasi Sylvia segera disusun. Tanpa biaya tanpa antri. "Ini keajaiban. Tuhan yang menuntun kami," ujar Poniyum. dirinya pun semakin senang karena kondisi sylvia yang sangat stabil untuk dioperasi. dia diminta untuk puasa 12 jam jelang operasi. ini mudah, toh dia gak bisa makan, dia hanya bisa minum susu lewat sedotan. hanya itu ruang yang disisakan tumor agar mulutnya bisa terbuka.

uniknya, meski sudah begitu besar tumornya, Sylvia mengaku tidak pernah kesakitan. paling banter hanya kemeng. dia pun jarang menangis. super.

entaj kenapa, walaupun sempat kesal ditugasin liputan kesehatan begini, tapi saya senang saat adrenalin terpacu. berusaha menata kalimat dan strategi agar dapat berita di tengah kabar ayahnya yang tidak mau diwwncara juga prosedur RS yang mematikan langkah. tantangan. itu kuncinya. dan Allah selalu memberi jalan bagi hambanya yang mau berusaha...



dan lebih senangnya lagi tulisan saya menghasilkan tulisan feature yang memuaskan. dan diedit saya pak Hurek. salah seorang redaktur yang menginspirasi saya. Sejak dipindah di sidoarjo saya suka kangen diajarin beliau. hehehek

Senin, April 28, 2014

The Best Journalist in March


peluk Allah... puji syukur karena nikmat yang Ia berikan begitu melimpah.
di bulan pertama diangkat jadi karyawan langsung dapat penghargaan begini. bukan nilainya, tapi lebih kepada apresiasi atas jirih payah dan karya yang telah kita buahkan.
semoga tulisan2 yang dihasilkan ke depan lebih bermanfaat dan membawa pengaruh lebih besar pada masyarakat bangsa agama dan negara... amiiin :)

Sabtu, April 26, 2014

Owner The Empire Palace, Chin Chin



The Empire Palace kini sudah menjadi ikon Surabaya. Bangunan megah bergaya klasik Romawi yang berdiri kokoh di Jalan Blauran itu membuat banyak orang kagum dan terpukau. Namun, di balik kemegahan dan gagahnya The Empire Palace, siapa sangka ada sosok Kartini sebagai perintisnya. Dia tak lain adalah Trisulowati atau yang akrab disapa Chin Chin. Perempuan asal Blitar itu sukses menjadi pengusaha properti yang diperhitungkan di Kota Pahlawan. 

Setiap hari, bangunan megah sepuluh lantai tersebut selalu padat dengan berbagai acara. Selain wedding party yang rutin diadakan setiap akhir pekan, saat weekday banyak juga corporate dan pemerintahan yang menghelat acara di tempat tersebut. Seperti, seminar, meeting, launching produk, diklat, bahkan konser musik.

Saat ini, The Empire Palace memiliki tujuh ballroom dengan kapasitas 1.500 – 4.000 orang. Di antaranya adalah Virginia, The Royal of Blossom, St Marie Suite, Kensington Palace, dan The Rich Palace. Kini, The Empire Palace juga menjadi wedding mall terbesar di Surabaya dan menjadi jujukan bagi banyak kalangan untuk mengadakan acara. Dengan konsep baru yang dikenalkan sejak 27 Maret 2014 lalu, kini beragam kegiatan wedding party dengan konsep berbeda bisa diadakan dalam waktu yang bersamaan. 

”Kalau dulu orang mengenal The Empire Palace untuk kegiatan wedding party konsep chinese maupun western, kini traditional wedding dan adat juga bisa kami adakan lengkap dengan dekorasi, rias, dan pakaian adatnya,” ujar Chin Chin, saat ditemui di The Empire Palace, Kamis (17/4).

Selain itu, di The Empire Palace terdapat sekitar 350 karyawan (tetap dan lepas) dan area parkir yang luas dengan kapasitas 3.000 mobil. Hal itu membuat pasangan pengantin dan keluarga yang menghadiri pesta pernikahan tinggal datang dan terima beres. Sebab, semua yang berkaitan dengan wedding party sudah ada di sini. 

Mulai dari dekorasi, tata rias, pakaian, undangan, hiburan, MC, sound system, lighting, dan aneka menu makanan serta hidangan . ”Bahkan, pasangan pengantin, keluarga, dan undangan yang ingin menginap di sini juga sudah siap. Sebab, kini The Empire Palace sudah kami lengkapi dengan 200 kamar hotel,” tambah penyuka humor ini. 

Meski sudah bergemilang dengan harta melimpah, Chin Chin tak mau dibilang sebagai sosok Kartini maupun perempuan karir yang sukses. Sebab, dia mengakui bahwa semua yang ia capai dengan cara yang tidak mudah. ”Saya bahkan tidak pernah bermimpi untuk memiliki bisnis properti seperti sekarang. Yang saya lakukan sejak kecil adalah berusaha untuk mandiri. Tujuannya, agar saya bisa melindungi diri dari apa pun,” tandas wanita kelahiran 13 Oktober 1970 ini. 

Dari kecil, putri bungsu empat bersaudara ini sudah dididik untuk tidak bergantung kepada orang lain. Termasuk ketika keluarga mereka dalam kondisi yang tidak mampu. Sejak SMP, Chin Chin sudah dilatih untuk mencari uang sendiri dan membantu orang tua. Kue dan jajanan yang dibuat ayahnya pun ia bawa ke sekolah untuk dijajakan. Dia sama sekali tidak malu. 

Hingga akhirnya, ia masuk ke perguruan tinggi di jurusan Teknik Arsitektur UK Petra. Itu pun tidak ia lalui dengan mudah. Chin Chin harus membagi waktu belajarnya dengan menjadi guru les di beberapa tempat. Semua ia jalani dengan telaten dan bersemangat. Sebagaimana pesan sang ayah yang sudah meninggalkan Chin Chin sejak usinya masih 13 tahun, tidak ada yang akan mengubah nasib kita selain diri kita sendiri. ”Itu pesan yang sampai sekarang saya ugemi,” tegasnya.

Lulus kuliah, Chin Chin tak langsung memulai bisnis sendiri. Dia sempat menjadi arsitek di sebuah perusahaan dan melayani berbagai macam pesanan gambar dan desain rumah. Dari sana dia mulai tergerak untuk terjun ke dunia properti dengan tangannya sendiri. Ibu tiga anak (Janice Ang, James Ang, dan Lawrence Ang) ini memulai dengan membangun ruko di Kedungdoro dan Kedungsari. Siapa sangka, ternyata bisnisnya laris manis bak kacang goreng. Barulah setelah itu Chin Chin mulai bereskpansi.

”Saya beli tanah seluas 8.000 meter persegi. Rencananya ingin bangun semacam mal perhiasan. Tapi, kemudian, saya berpikir bahwa konsep itu akan sama saja dengan ruko. Saya ingin yang berbeda dan lahirlah Empire Palace,” cetus wanita yang gemar masakan tradisional ini. Dengan kepiawaianannya desain arsitektur dan kecintaannya pada aksen klasik, The Empire Palace menjadi gedung yang berkelas tinggi, megah, dan mewah. Konon, semua yang ia tuangkan dalam bangunan megah itu berdasar atas pengalamannya selama bekerja di perusahaan di Jakarta. Hingga ia tahu tentang detail untuk membuat bangunan yang bagus.

Sejak dirintis pada tahun 2005 dan selesai pada tahun 2007, kini The Empire Palace menjadi satu di antara ikon Surabaya. The Empire Palace juga menjadi jujukan para pemilik hajat pernikahan, rapat, dan pesta-pesta mewah. 

 
asli ini orang anti dan tomboy. penampilannya selalu casual. dan ogah make perhiasan. sesi foto aja gak mau pake kebaya. "Aku cuma punya satu kebaya," ujarnya guyon

”Empire Palace itu jiwa saya. Jika ditanya nanti mau dikembangkan bagaimana, saya belum tahu. Sebab, Empire Palace sudah seperti badan saya yang saya lengkapi dan saya benahi sesuai kebutuhan. Misalnya, di tengah pesta orang yang dari luar kota, maka tamu pasti butuh hotel. Karena itu, saya bangunkan hotel. Butuh parkir yang luas, saya bangunkan parkir. Sederhana,” begitu cara Chin Chin menjawab. 

Menurut dia, tak ada yang lebih mengerti The  Empire Palace daripada dirinya sendiri. Namun, dengan kesuksesan yang ada bukan berarti tidak ada cercaan dan hantaman dari kompetitor. Dulu, pada awal berkembangnya Empire, banyak omongan yang tidak sedap harus dihadapi Çhin Chin. Seperti, makanan yang kurang enak, harga terlalu mahal, dan sound system yang tidak pas lantaran gaya bangunan Empire yang punya banyak ornamen dan gaya. Namun, hal itu sama sekali tidak menjadi masalah bagi Chin Chin. 

Menurut dia, di zaman Kartini modern, perempuan membalas bukan dengan kata-kata atau senjata, melainkan dengan karya. ”Yang penting, saya tidak mengganggu mereka. Bagi saya, bersaing bukan berarti mengkatakan pesaing kita lebih buruk,” tandas istri Gunawan Angka Wijaya ini.

Banyak wanita karir yang kemudian pernikahan dan keluarganya berantakan. Hal itu pun sempat menjadi kekhawatiran Chin Chin. Oleh karena itu, dia tak ingin hal tersebut terjadi kepadanya. Chin Chin selalu melibatkan sang suami dalam bisnisnya. Satu di antaranya dalam hal mengambil keputusan. ”Waktu awal mau mendirikan Empire, saya juga berdiskusi dengan suami. Semua harmonis, asal komunikasi lancar,” tegasnya.

Untuk itu, Chin Chin berpesan kepada para wanita, agar mereka tidak takut untuk berkarir dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Menurut Chin Chin, kita tidak bisa memaksa orang lain untuk menghargai dan menghormati wanita. Tapi, wanita harus melakukan sesuatu untuk bisa dihargai dan dihormati. ”Sebab, pada dasarnya, perjuangan Kartini dulu adalah untuk ini, agar wanita bisa dihargai dan tidak dianggap remeh oleh laki-laki,” pungkas Chin Chin. (ima)

Photos by Abdullah Munir Radar Surabaya

Elok Rege Napio, Kartini Kebaya Modern


Elok Rege Napio
Hasil perjuangan Kartini di era 1903 dirasakan betul oleh Elok Rege Napio. Desainer muda berbakat ini mengakui bahwa tanpa adanya perjuangan Kartini mengajukan kesetaraan pendidikan, bisa jadi dirinya dan wanita lain di tanah air tidak bisa sekolah dan tidak bisa berkarya. Bagi wanita asli Surabaya ini, makna hari Kartini adalah momen yang tepat untuk memberi persembahan karya dengan kemampuan yang dimiliki. 

Sejak memulai karir menjadi desainer tahun 2002, sudah tidak terhitung lagi berapa karya yang telah dihasilkan Elok. Melalui kegemarannya dengan pernak-pernik dan juga payet, membuat Elok muda jatuh cinta dan memutuskan untuk menjadi desainer baju khusus kebaya. Selain karena kebaya banyak menggunakan ornamen payet, juga karena Elok sangat suka dengan keanggunan wanita yang mengenakan kebaya.

“Dulu sebelum di kebaya, saya sempat menjadi desainer baju ready to wear untuk anak-anak, tapi sepertinya passion saya lebih ke kebaya,” cerita Elok yang selalu tampak segar dengan potongan rambut pendek dan kacamata. Berbicara tentang karya, kini sudah banyak showroom yang berhasil ia dirikan. Dengan mengangkat brand Dola’ap Kebaya, hasil rancangannya sudah banyak dipakai oleh kalangan menengah atas dan juga artis. Seperti Astrid, Soimah, dan juga Rina Nose. 

Hasil rancangannya yang anggun dan terkesan mewah membuat banyak clien yang memutuskan menjadi langganannya. Kini selain di Rungkut Asri Barat IX-12 yang dijadikan workshop dan butik, ibu satu orang anak ini juga sudah memiliki showroom di Jakarta. Tak jarang, ia jadi harus bolak balik Jakarta Surabaya demi mengurus pesanan para pelanggannya. Bahkan pemakai rancangan Elok sudah sampai ke negeri Malaysia dan Belanda. 

Meski kini terbilang sudah sukses, namun keberhasilan Elok dalam mencari jati diri ternyata cukup panjang. “Saya sudah suka pernak pernik sejak kecil, tapi saya baru mengambil pendidikan formal fashion baru setelah kuliah,” cerita wanita kelahiran 15 November 1978 ini. Selama kuliah di jurusan Akutansi Universitas Widya Mandala tahun 1999, Elok juga nyambi kuliah fashion di sekolah fashion Susan Budiharjo. Orang tuanya sempat melarang Elok mengambil studi fashion sebelum pendidikan sarjana di UWM bisa rampung.

Namun, berkat kegigihan Elok, akhirnya dia justru bisa mendapatkan dua gelas sekaligus. Di samping sarjana akutansi juga sarjana fashion sebagai lulusan tebaik. Prestasi pun sempat wanita penggemar Anafanti ini raih. Salah satunya, elok berhasil menjadi sepuluh besar kompetisi fashion Concours Internasional di Paris. 

Dalam mengembangakan bisnis fashion, selain harus bersaing dengan desainer lain, tantangan yang besar justru ada dari dalam. Seorang disainer harus cerdik dan kreatif dalam mengembangkan ide. “Ada tantangan yang paling berat adalah ketika tidak mood. Bisa merusak segalanya. Tapi enaknya inspirasi bisa datang dari mana saja. asal kuncinya satu, desainer tidak boleh kolot dan harus open minded,” jelas Elok.

Hal itu yang dijadikan Elok sebagai patokan. Dirinya dan juga desainnya terus berubah sering dengan perkembagan dunia. Karena ia sadar, terlebih untuk fashion, tren untuk satu tahun saja bisa berubah sebanyak dua sampai tiga kali. Untuk itu, Elok berpesan pada para wanita yang juga berprofesi seperti dirinya untuk tidak mudah putus asa dan juga terus menelurkan karya selagi kesempatan terbuka lebar.

Elok dan si kecil Thania
Single Parent Yang Tangguh
Di tengah gempuran karir yang menanjak, ada saja yang menjadi hambatan bagi Elok. Tiga bulan pasca kelahiran putri semata wayangnya Nathania Caya Dewi, Elok harus menerima pil terpahit dalam hidupnya. Pernikahannya kandas. Ketidakcocokan menjadi alasan yang membuat ia harus mengakhiri pernikahan di palu hakim.

“Berat, karena ketidakcocokan. Daripada saling sakit lebih baik berpisah,” ujarnya tegar. Justru dengan pengalaman pahit tersebut, Elok menjadikan hal itu menjadi titik baliknya. Dia semakin membulatkan tekad demi berjuang untu keluarga kecilnya. Ganjalan hidup dan permasalahan pribadi tidak membuat dirinya melanyalahkan Tuhan. Melainkan membuktikan perhatian Tuhan padanya dan membuatnya bangkit. 

Elok bahkan bisa membuktikan bahwa sebagai single parent, wanita bisa menjadi inspirasi. Melalui setiap karya yang dihasilkan. Meski sibuk sepangjang pekan, namun Elok memberi dua hari khusus di akhir pekan untuk Thania. 

“Saya akui memang itu menjadi salah satu cobaan yang sangat berat. Tapi saya bersyukur masih punya anak. Dengan seorang anak, saya bisa fokus dan terarah, bahwa yang apa yang saya lakukan untuk anak saya,” tandasnya. 

Untuk itu, dirinya bersyukur karir yang ia geluti kini tidak menjauhkannya dari puti tunggalnya. Dia masih bisa di rumah dengan tetap bekerja merampungkan pesanan pelanggan. Tidak ada yang ia nilai lebih dibandingkan bisa bekerja dekat dengan keluarga. 

Di titiknya sekarang, wanita yang gemar travelling ini mengaku belum puas dengan capaiannya. Mimpi terbesarnya untuk menjadi desainer internasional masih menggantung dan siap Elok petik. “Wanita tidak perlu takut untuk berkarir. Banyak karir yang bisa digeluti. Hanya saja, harus pandai mengenali potensi diri,” ucap Elok. 

Dengan karir, tentu saja pundi-pundi uang mandiri dapat terkumpul. Seperti halnya Elok. Dalam sebulan, dirinya bisa mengerjakan tiga hingga lima pesanan kebaya. Satu karya kebayanya bisa dijual hingga Rp 30 juta hingga Rp 40 juta. Bayangkan saja, berapa rata-rata penghasilan Elok per tahunnya. "Semua tergantung kita mau sebanyak apa berkarya," pungkasnya. (ima)

Photo by Ahmad Khusaini Radar Surabaya

Rabu, April 23, 2014

Donjuan Donwori vs Karin

Mbak Hanny Akasah akhirnya cuti melahirkan. Dan tanggunngan si mbak ini untuk tulisan features Pengadilan Agama (PA) di halaman satu akhirnya juga dipercayakan ke saya. Well? rasanya galau. hahaha.

Pas hari pertama nongkrong di PA nggak tahu harus ngapain, kayak orang bego. Jadi ceritanya boks khusus satu ini harus diisi dengan kasus-kasus unik yang ada di PA. Macem-macem, mulai kasus perceraian, urusan rumah tangga, hingga rebutan warisan.

Metode liputannya pun beda. Nggak pake aturan standar wawancara kayak seharusnya. Melainkan haarus pinter-pinter mancing si narasumber untuk cerita kasusnya sendiri dengan alamiah dan terbuka. Nah lho... padahal kan aib ya... tapi tenang semua nama alamat dan juga waktu disamarkan kok. Jadi amaaan.

Nah, minggu lalu adalah saat pertama saya hunting boks ini. Well.... bingung saya memilih target mana yang harus saya dekati. Sempat lirik kanan kiri, dan juga tengak tengok orientasi medan. Cari bahan pembicaraan.

Saya duduk di kursi di bagian belakang dan mencoba bertanya. "Mbak, mau daftar caranya gimana ya?" tanya saya. Tapi jangankan dijawab dia aja tidur.

Well, akhirnya saya geser maju. Mendekati ibu2 yang sedang ribet sama bocah kecil. Saya lalu menanyakan hal serupa. Dan tiba2 raut si ibuk itu berubah, mendadak serius. Dua rius malah. "Jangan Mbak. lebih baik dipikir-pikir dulu. Jangan geeegabah," kata si Ibu. Saya cegek dan salting.

Harus saya jawab apa coba. Dengan kikuk akhirnya saya jawab dengan sedikit memlintir raut muka ke ekspresi sedih, melas. "Saya sudah jenuh Bu, tiap hari berantem. Saya sudah tidak betah," jawab saya. Nah lho.

Obrolan pun berlanjut dengan pertanyaan 5W +1H yang justru diajukan si ibu ke saya. Kan seharusnya saya yang introgasi ya. .

keterangan i : ibu. s : saya. b: bapak
i : Sudah menikah berapa lama?
s : delapan bulan
i : masih awal, jangan keburu buru mbak, dibicarakan baik baik
s : tidak bisa bu. ini jalan yang terbaik
i : apa masalahnya dik? #mulai intens. dia bahkan merogoh tasnya mengambil tisu. takut sewaktu waktu saya mewek. dan dia sodorkan
s : (karena sudah disodorin tisu) saya nggak apa nih bu curhat?
i : ya siapa tahu bisa membantu adik. kadang kalau dipikir sendiri kita menganggap kita yang paling benar
s : suami saya selingkuh bu. saya sudah curiga. dia jarang plang. dan kami seringg cek cok
i : sudah dipastikan? coba bicara dari hati ke hati. mungkin ada kamu yang salah paham. atau ada masalah yang mebuat kalian jadi jauh.
s : sudah. tapi kami tidak pernah bs bicara baik baik. akhirnya malah saling tuduh. (mewek mulai)
i : sudah bicara dengan keluarga??
s : menggeleng
i : nah... coba dibicaraka dulu.... janga gegabah.... semua bisa dibicarakan.... #ngelus2 punggung saya
s : ~nangis deh tes tes ~lalu tiba-tiba bapak sebelah  saya ikutan nimbrung
b : kalau butuh pengacara bilang saya dik
s dan i : djsja%;&%@$("~()&@65241~~(#

hahaha. walau dengan sandiwara itu.. akhirnya saya bisa tahu kalau si ibu itu sedang  mengantarkan anaknya yang baru 26 tahun sidang cerai yang kelima. Mereka cerai karena si Donjuan punya wanita idaman lain.

Eh tapi pas sudah sidang ke tiga si Donjuan urung ingin melanjutkan permohonan cerai. Dan ingin rujuk. Ya otomatis si Karin nggak mau. Karena mangkel ditolah niat rujuknya malah si Karin dituduh selingkuh dan punya pria idaman lain. Lha kok mbulet... dan yang kasihan bocah yang tadi sama si ibuk tadi itu anak mereeeka. Baru tiga tahun. kasihan

Well.. ternyata liputan di PA nggak seekstremm yang saya bayangkan.... walau dengan sedikit acting karbitan, ya bolehlaaaah....

happy reading guys....





Minggu, Maret 09, 2014

Senin, Februari 10, 2014

Here is How a Journalist Doing Their Work


Dulu saya sangat enggan untuk pulang kantor over 8 pm. Gimana nggak, ketika saya seringnya liputan berangkat jam 9 pagi, tapi dipaksa untuk baru pulang minimal jam 8 malam. Well, padahal saya biasanya target untuk ngantor jam 5 sore tulisan kelar jam 7 untuk tiga berita. Niatnya biar bisa pulang cepet biar bisa ndang istirahat.

Tapi selalu aja ada alasan si rekdaktur itu selalu nengok tulisan over jam 7. Well saya kasih tau ya, jam nya redaktur kerja itu mulai pukul 5 sore. Jam 5.30 itu mereka mulai rapat listing. Nge list semua reporter ini dapet belanja berita apa aja seharian. Di rapat itu juga ditrentukan berita ini masuk halaman berapa, dan berita itu masuk di halaman berapa. Mana yang jadi fenomena (lapsus dan mana juga yang jadi berita headline). Well it take maybe 40 minutes sambil ngobrolnya. Pokoknya sebelum waktu sholat magrib mereka pasti udah rampung.

Nah, selama merka listing kita para wartawan masak itu berita supaya mateng dan siap dicicipin si redaktur. Sedangkan berita yang sudah ditempatkan akan dicicipi oleh siapa-siapa yang jadi pencicip (redaktur). Nah kita harus nunggu in si redaktur ini membubuhkan kata "oke" dalam judul file kita, baru kita boleh pulang.. Karena ata si pimred, "We working by oke"

Prosesnya itu yang lama pake banget. Nungguin sampek rasanya galau. Awal2 sebulan pertama saya selalu pulang tanpa ijin sama redaktur, eh ijin ding sama mbak heti. dua bulan saya mulai yang aaaaah lama banget. Merasa si redkatur ini nggak pengertian banget sama wartawaannya. Secara kami berangkat dari pagi sedang mereka baru mengawali kerja sedari sore. Kan nggak worth it aja.

Tapi semua mulai berubah, at least mulai satu bulan ke belakang. Saya merasa mulai ada ikatan batin dengan kantor ini. beeeeh #kibas rambut. Walaupun dengan orang yang sidikit ini, rasanya ngantor itu jadi seru. Karena jadi momen dimana kita semua ngumpul dan saling cerita seharian dapet berita apa aja. Selalu menanti temen2 datang sebelum jam lima, supaya banyak ngobrol dan becanda. Karena kalo udah jam 5 we start to do our job.

Nah sebelah saya ini kan wartawan kriminal, namanya mas Rudi. Ngobrol sama dia ini selalu seru, adaaa aja yang diceritain, secara dia pos kriminal. Mulai dari cerita grebek PSK dolly, penggrebekan teroris bom ke kedung cowek, sampek penjambretan 22 detik yang bisa menghasilkan duit 190 juta. Wooow. Tapi haram. Komentar mas rudi, "Nganggur setahun cukup iki," katanya. Ada lagi pas dia cerita ada tukang becak sayur yang nyabu. Katanya sih penghasilannya sehari bisa mencapai 250 ribu untuk ngangkut sayur di pasar. Penghaslian yang cukup besar itu makanya dia bisa nyabu Dia takjub. Sekalian aja saya timpali, "Ya kerja iku ae mas samen, kan sebulan jadi Rp 7,5 juta," dia ngakak.. Hahaha.

Intinya semua kru selalu punya cerita mereka masing untuk membawa suasana kantor cair. Termasuk gojlok2an yang seringnya membuat saya jadi korban. Oooh meen. Si fotografer yang selalu sok unyu. Setiap sore mesti bahas dapet foto apa aja yang seru..juga dulu pimred yang cerewet banget tapi hampir nggak pernah marahin saya, hahaha saya kangen sama beliau. Ehm ehm.

pas liputan bareng chef Sarwan

suasana kantor jelang deadline



ini kalo lagi rame dan cak cek cak cek

wartawan kota

si pak gundul redaktur kami wartawan kota

bareng mb rista, 

kalo udah stress, dan hening, ini pemecah keheningan

Well,, itu lah keseharian saya selama yaaah lima bulam belakangan. Seharian cari berita kesana kemari but it's so awesome lately. Kan dulu saya selalu galau dengan #liputan apa gue hari ini??? Dan sekarang karena saya sudah punya pos, dan ehm sudah punya banyak teman wartawan yang ce es, ternyata seru banget. Setiap pagi akan saling ngabsen, "Nggarap apa hari ini?" Terus pada keliling bareng, atau sesekali ribet sendiri demi egoisitas media masing2. Yang bikin kadang sok rahasia dan sok misterius.  Hahaha.

Dan kami aakan mengatakan "Ayo geser!" Untuk jeda setiap jeda liputan satu dengan yang lain. Hingga sore tiba, pos dinas pendidikan jatim selalu jadi tempat yang nyaman untuk ngetem dan cari bahan jika agenda sedang sepi. Dan begitu hari menjelang jam 15.00 kami akan mengucapkan berpisah setelah sebelumnya saling bernyata, "Berarti hari ini ngeluarin apa?" Serta menjawab pertanyaan "Besok nggarap apa ya?" Dengan jawaban "Dipikir mene aeee." Hahaha I start to love it.

Dan semua hasil jirih payah kami seharian akan terbayar rasanya jika di pimred usai listing menhampiri meja sambil njawil "Dek berita ini halaman satu ya," atau "Dek berita ini fenomena ya". Atau si redaktur yang pegang halaman bilang suruh nambahin grafis untuk dibuat headline. Itu adalah seperti gaji harian kami, ehm mungkin lebih tepatnya buat saya.

Yap, soal jam pulang kantor, mas Rudi ini pernah bilang ke saya saat saya mengeluhkan wartawan ini sudah keliling dari pagi Jenderal! Dia menjawab "Wartawan itu kalau siang jangan dianggap sedang kerja, itu dolan namanya. Kerjanya ya ketika di kantor ini nggarap berita." Saya sempat nggak setuju. But at least we have to enjoy to going around the city, place to place, to find something great to be published. Karena wartawan itu selalu mau karenna passionnya. Saya sadar itu. Kalau nggak, nggak bakal betah. Dan sejauh ini saya masih betah. :D dan menikmati.

Hmm talking about a rekor, saya sejauh ini baru bisa liputan sehari lima berita. Empat berita dalam sehari kadang2 kalau lagi mujur. Dan paling nggak at least saya harus mengasilkan tiga berita setiap harinya. Hmm masih belum puas dengan rekor lima. Karena senior saya itu pernah tujuh berita dalam sehari, Mbak Heti Palestina. Hmn kapan2 sya akan nulis profil tentang mbak satu itu. Jadi tunggu yaaa.. She is so awesome single parent..

Untuk kali ini cukup itu cerita tentang dunia jurnalis yang saya bagi. Edisi depan saya akan coba cerita tentang suka dukanya kalau nggak dapat berita, kalau sepi, serta ketika ngejar narasumber nggak ketemu2. Well jadi wartawan nggak akan mengjinkan kamu untuk hanya diam dan menanti berita dartang dengan menunggu kejadian. Tapi kadamng kita memang butuh mencari "kejadian", dengan kejelian.



foto no caption hahaha

Sabtu, Januari 18, 2014

Peresensi Bayaran

Saya sedang on going membaca buku fiksi alias novel karya Iwan Setyawan. Itu lho, yang judulnya 9 Summers 10 Autumns. Membaca lembar demi lembar menyelami kisah hidupnya semasa remaja turut membuat memori saya turut mengelana.

Saya teringat masa2 SMA saya ketika di SMAN 1 Jombang. Saat itu orang tua saya sudah pindah ke Bangil (sebelum pindah ke Mojokerto). Waktu duduk di kelas dua, guru mata pelajaran bahasa Indonesia saya selalu memberi tugas meresensi buku. Buku apa saja. Mulai dari novel yang fiksi hingga buku non fiksi.

Bagi saya yang suka banget dengan novel, tentu saja ini bukan tugas yang memberatkan. Justru sangat menyenangkan. Itu berarti saya ada alasan untuk pergi ke Auror, persewaan novel langganan saya. Ehehe, soalnya ibu saya melarang saya untuk menyewa novel banyak2. Tapi, kesenangan saya yang bahkan addict dengan buku cerita terbaca pula oleh teman-teman saya. Yang entah mengapa belakangan justru menyuruh saya untuk membuatkan resensei tugas mereka.

Saya mau. Dengan senang hati malah. Karena dengan begitu saya akan membaca buku-buku fiksi secara gratis dan tanpa menyewa. Dan serunya saya yang memilih sendiri novel mana yang mau saya resensi dan dia yang bayar. Hahahaha indahnya dunia. Begitulah dulu saya. Padahal dulu tugas ngeresensi buku itu dua minggu sekali. Dan saya melayani order sesensi lebih dari tiga orang. Nggak hanya teman satu kelas soalnya, juga dari lain kelas.

Agak parah memang. Tapi teman-teman saya justru senang karena saya yang meresensi. Tanpa mereka repot baca bukunya, resensi sudah jadi dan nilainya selalu bagus. Kalau kadang kurang bagus teman saya juga nggak berani protes, malah saya disuruh milih novel yang lebih bagus lagi untuk diresensi. Hahahaha #evil-laugh

Minggu, Januari 12, 2014

Mb Vina & Her Pendekar Are Getting Married

Akhirnya setelah lima tahun pacaran, Mb Vina dan Ms Pendekar menikah. Keren. memilih tanggal 11 Januari tepat di bulan dimana mereka kenalan di tahun 2008.
Kenal di kos emak, setahun yang lalu, dan Mb satu ini benar-benar orang yang sabar dan setia. iiiih tipe Ibu-ibu setia pokoke deh,, 
Dan kita satu kos emak di dapuk buat jadi penerima tamu. Pengennya sih ikut prosesi pas di gereja. Pengen tahu,, eh tapi nggak boleh, jadilah kami nunggu di rumah makan sambil narsis2 pol2an..

di Make up bikin kita jadi kayak bukan kita

the Farious Kembang mayang.. muji diri sendiri
Penggawean kita adalah jaga Buku Tamu dan ngasih tamu ke undangan. Yang unyu itu souvenirnya. Gelas bergambar yang menceritakan timeline hubungan mereka. Mulai dari kenalan, jadian, hingga nikah. Unyuu
 
Nah kan, kalo nggak pake alasan bolos ngantor nggak bakalan ikutan foto gini. Untung si pimred lagi baik. Maksih Mb opi :)
 
And we were one by one took a picture with the bride. And didn't forget to take the jasmine from the bride. The Mhyte who get ones, would be the bride soon. Hahaha

This is the picture with the most alay girl in the party, the name is Dewi. She was singer of the party. So cerewet and so confident, but it made us so fun at least... hahaha. She is only first grade in senior high

^no caption. just a selfie moment
Anyhow, happy wedding Mb Vina and Mas Pendekar, yesterday was a great party for you. Semoga cepet dapat momongan yang unyu-unyu, menjadi pasangan yang selalu diberkahi daaaan,, mb Vina cantik bgt semalem. Dan mas pendekar yang berhasil diet sebelum nikah.. hahaha (yg ini spekulasi). 
Happy Wedding !!!