Senin, Februari 10, 2014

Here is How a Journalist Doing Their Work


Dulu saya sangat enggan untuk pulang kantor over 8 pm. Gimana nggak, ketika saya seringnya liputan berangkat jam 9 pagi, tapi dipaksa untuk baru pulang minimal jam 8 malam. Well, padahal saya biasanya target untuk ngantor jam 5 sore tulisan kelar jam 7 untuk tiga berita. Niatnya biar bisa pulang cepet biar bisa ndang istirahat.

Tapi selalu aja ada alasan si rekdaktur itu selalu nengok tulisan over jam 7. Well saya kasih tau ya, jam nya redaktur kerja itu mulai pukul 5 sore. Jam 5.30 itu mereka mulai rapat listing. Nge list semua reporter ini dapet belanja berita apa aja seharian. Di rapat itu juga ditrentukan berita ini masuk halaman berapa, dan berita itu masuk di halaman berapa. Mana yang jadi fenomena (lapsus dan mana juga yang jadi berita headline). Well it take maybe 40 minutes sambil ngobrolnya. Pokoknya sebelum waktu sholat magrib mereka pasti udah rampung.

Nah, selama merka listing kita para wartawan masak itu berita supaya mateng dan siap dicicipin si redaktur. Sedangkan berita yang sudah ditempatkan akan dicicipi oleh siapa-siapa yang jadi pencicip (redaktur). Nah kita harus nunggu in si redaktur ini membubuhkan kata "oke" dalam judul file kita, baru kita boleh pulang.. Karena ata si pimred, "We working by oke"

Prosesnya itu yang lama pake banget. Nungguin sampek rasanya galau. Awal2 sebulan pertama saya selalu pulang tanpa ijin sama redaktur, eh ijin ding sama mbak heti. dua bulan saya mulai yang aaaaah lama banget. Merasa si redkatur ini nggak pengertian banget sama wartawaannya. Secara kami berangkat dari pagi sedang mereka baru mengawali kerja sedari sore. Kan nggak worth it aja.

Tapi semua mulai berubah, at least mulai satu bulan ke belakang. Saya merasa mulai ada ikatan batin dengan kantor ini. beeeeh #kibas rambut. Walaupun dengan orang yang sidikit ini, rasanya ngantor itu jadi seru. Karena jadi momen dimana kita semua ngumpul dan saling cerita seharian dapet berita apa aja. Selalu menanti temen2 datang sebelum jam lima, supaya banyak ngobrol dan becanda. Karena kalo udah jam 5 we start to do our job.

Nah sebelah saya ini kan wartawan kriminal, namanya mas Rudi. Ngobrol sama dia ini selalu seru, adaaa aja yang diceritain, secara dia pos kriminal. Mulai dari cerita grebek PSK dolly, penggrebekan teroris bom ke kedung cowek, sampek penjambretan 22 detik yang bisa menghasilkan duit 190 juta. Wooow. Tapi haram. Komentar mas rudi, "Nganggur setahun cukup iki," katanya. Ada lagi pas dia cerita ada tukang becak sayur yang nyabu. Katanya sih penghasilannya sehari bisa mencapai 250 ribu untuk ngangkut sayur di pasar. Penghaslian yang cukup besar itu makanya dia bisa nyabu Dia takjub. Sekalian aja saya timpali, "Ya kerja iku ae mas samen, kan sebulan jadi Rp 7,5 juta," dia ngakak.. Hahaha.

Intinya semua kru selalu punya cerita mereka masing untuk membawa suasana kantor cair. Termasuk gojlok2an yang seringnya membuat saya jadi korban. Oooh meen. Si fotografer yang selalu sok unyu. Setiap sore mesti bahas dapet foto apa aja yang seru..juga dulu pimred yang cerewet banget tapi hampir nggak pernah marahin saya, hahaha saya kangen sama beliau. Ehm ehm.

pas liputan bareng chef Sarwan

suasana kantor jelang deadline



ini kalo lagi rame dan cak cek cak cek

wartawan kota

si pak gundul redaktur kami wartawan kota

bareng mb rista, 

kalo udah stress, dan hening, ini pemecah keheningan

Well,, itu lah keseharian saya selama yaaah lima bulam belakangan. Seharian cari berita kesana kemari but it's so awesome lately. Kan dulu saya selalu galau dengan #liputan apa gue hari ini??? Dan sekarang karena saya sudah punya pos, dan ehm sudah punya banyak teman wartawan yang ce es, ternyata seru banget. Setiap pagi akan saling ngabsen, "Nggarap apa hari ini?" Terus pada keliling bareng, atau sesekali ribet sendiri demi egoisitas media masing2. Yang bikin kadang sok rahasia dan sok misterius.  Hahaha.

Dan kami aakan mengatakan "Ayo geser!" Untuk jeda setiap jeda liputan satu dengan yang lain. Hingga sore tiba, pos dinas pendidikan jatim selalu jadi tempat yang nyaman untuk ngetem dan cari bahan jika agenda sedang sepi. Dan begitu hari menjelang jam 15.00 kami akan mengucapkan berpisah setelah sebelumnya saling bernyata, "Berarti hari ini ngeluarin apa?" Serta menjawab pertanyaan "Besok nggarap apa ya?" Dengan jawaban "Dipikir mene aeee." Hahaha I start to love it.

Dan semua hasil jirih payah kami seharian akan terbayar rasanya jika di pimred usai listing menhampiri meja sambil njawil "Dek berita ini halaman satu ya," atau "Dek berita ini fenomena ya". Atau si redaktur yang pegang halaman bilang suruh nambahin grafis untuk dibuat headline. Itu adalah seperti gaji harian kami, ehm mungkin lebih tepatnya buat saya.

Yap, soal jam pulang kantor, mas Rudi ini pernah bilang ke saya saat saya mengeluhkan wartawan ini sudah keliling dari pagi Jenderal! Dia menjawab "Wartawan itu kalau siang jangan dianggap sedang kerja, itu dolan namanya. Kerjanya ya ketika di kantor ini nggarap berita." Saya sempat nggak setuju. But at least we have to enjoy to going around the city, place to place, to find something great to be published. Karena wartawan itu selalu mau karenna passionnya. Saya sadar itu. Kalau nggak, nggak bakal betah. Dan sejauh ini saya masih betah. :D dan menikmati.

Hmm talking about a rekor, saya sejauh ini baru bisa liputan sehari lima berita. Empat berita dalam sehari kadang2 kalau lagi mujur. Dan paling nggak at least saya harus mengasilkan tiga berita setiap harinya. Hmm masih belum puas dengan rekor lima. Karena senior saya itu pernah tujuh berita dalam sehari, Mbak Heti Palestina. Hmn kapan2 sya akan nulis profil tentang mbak satu itu. Jadi tunggu yaaa.. She is so awesome single parent..

Untuk kali ini cukup itu cerita tentang dunia jurnalis yang saya bagi. Edisi depan saya akan coba cerita tentang suka dukanya kalau nggak dapat berita, kalau sepi, serta ketika ngejar narasumber nggak ketemu2. Well jadi wartawan nggak akan mengjinkan kamu untuk hanya diam dan menanti berita dartang dengan menunggu kejadian. Tapi kadamng kita memang butuh mencari "kejadian", dengan kejelian.



foto no caption hahaha

Sabtu, Januari 18, 2014

Peresensi Bayaran

Saya sedang on going membaca buku fiksi alias novel karya Iwan Setyawan. Itu lho, yang judulnya 9 Summers 10 Autumns. Membaca lembar demi lembar menyelami kisah hidupnya semasa remaja turut membuat memori saya turut mengelana.

Saya teringat masa2 SMA saya ketika di SMAN 1 Jombang. Saat itu orang tua saya sudah pindah ke Bangil (sebelum pindah ke Mojokerto). Waktu duduk di kelas dua, guru mata pelajaran bahasa Indonesia saya selalu memberi tugas meresensi buku. Buku apa saja. Mulai dari novel yang fiksi hingga buku non fiksi.

Bagi saya yang suka banget dengan novel, tentu saja ini bukan tugas yang memberatkan. Justru sangat menyenangkan. Itu berarti saya ada alasan untuk pergi ke Auror, persewaan novel langganan saya. Ehehe, soalnya ibu saya melarang saya untuk menyewa novel banyak2. Tapi, kesenangan saya yang bahkan addict dengan buku cerita terbaca pula oleh teman-teman saya. Yang entah mengapa belakangan justru menyuruh saya untuk membuatkan resensei tugas mereka.

Saya mau. Dengan senang hati malah. Karena dengan begitu saya akan membaca buku-buku fiksi secara gratis dan tanpa menyewa. Dan serunya saya yang memilih sendiri novel mana yang mau saya resensi dan dia yang bayar. Hahahaha indahnya dunia. Begitulah dulu saya. Padahal dulu tugas ngeresensi buku itu dua minggu sekali. Dan saya melayani order sesensi lebih dari tiga orang. Nggak hanya teman satu kelas soalnya, juga dari lain kelas.

Agak parah memang. Tapi teman-teman saya justru senang karena saya yang meresensi. Tanpa mereka repot baca bukunya, resensi sudah jadi dan nilainya selalu bagus. Kalau kadang kurang bagus teman saya juga nggak berani protes, malah saya disuruh milih novel yang lebih bagus lagi untuk diresensi. Hahahaha #evil-laugh

Minggu, Januari 12, 2014

Mb Vina & Her Pendekar Are Getting Married

Akhirnya setelah lima tahun pacaran, Mb Vina dan Ms Pendekar menikah. Keren. memilih tanggal 11 Januari tepat di bulan dimana mereka kenalan di tahun 2008.
Kenal di kos emak, setahun yang lalu, dan Mb satu ini benar-benar orang yang sabar dan setia. iiiih tipe Ibu-ibu setia pokoke deh,, 
Dan kita satu kos emak di dapuk buat jadi penerima tamu. Pengennya sih ikut prosesi pas di gereja. Pengen tahu,, eh tapi nggak boleh, jadilah kami nunggu di rumah makan sambil narsis2 pol2an..

di Make up bikin kita jadi kayak bukan kita

the Farious Kembang mayang.. muji diri sendiri
Penggawean kita adalah jaga Buku Tamu dan ngasih tamu ke undangan. Yang unyu itu souvenirnya. Gelas bergambar yang menceritakan timeline hubungan mereka. Mulai dari kenalan, jadian, hingga nikah. Unyuu
 
Nah kan, kalo nggak pake alasan bolos ngantor nggak bakalan ikutan foto gini. Untung si pimred lagi baik. Maksih Mb opi :)
 
And we were one by one took a picture with the bride. And didn't forget to take the jasmine from the bride. The Mhyte who get ones, would be the bride soon. Hahaha

This is the picture with the most alay girl in the party, the name is Dewi. She was singer of the party. So cerewet and so confident, but it made us so fun at least... hahaha. She is only first grade in senior high

^no caption. just a selfie moment
Anyhow, happy wedding Mb Vina and Mas Pendekar, yesterday was a great party for you. Semoga cepet dapat momongan yang unyu-unyu, menjadi pasangan yang selalu diberkahi daaaan,, mb Vina cantik bgt semalem. Dan mas pendekar yang berhasil diet sebelum nikah.. hahaha (yg ini spekulasi). 
Happy Wedding !!!

Senin, Januari 06, 2014

Ketemu Presiden SBY dan Saltum


ini foto yang diambil setelah saya liputan dan salaman saya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan ibu. Salah kostum, harusnya pake kemeja batik, atau kemejalah minimal. Bukan kaosan -___-

Tapi ternyata salaman sama presiden itu biasa saja. Nggak ada yang spesial. Tapi semoga ketularan sama kerennya, wibawanya, dan juga pintarnya. Kalau bukan ke saya, anak turun saya gpp lah,, Aminn




mobil RI satu. Kemana pun Presiden pergi, nih mobil selalu ikut atau gimana ya? Berarti ke Surabaya dibawa dari Jakarta ya?
Jadi ingat, pas salaman, pak SBY sempat beberapa detik melihat saya dengan 'mencureng'. Hahaha

Kunjungan SBY ke Puskesmas Pucang ini dalam rangkaian kunjungan kepresidenan sekaligus meninjau pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). #just

Saya dulu pengeeen banget ketemu sama Presiden. Waktu SBY ngasih kuliah tamu di ITS, saya yang dulu masih jadi wartawan ITS Online, harusnya mungkin ada kemungkinan alasan liputan, tapi saya lebih memilih demo. Dan kedua demo di Jakarta, pengennya pas aksi SBY mau nemuin kek. Eh ternyata enggak. Haha, tapi ternyata ketemunya kemarin. Dan ternyata orangnya memang gitu ya, dari luar kelihatan waibawanya. Dia nggak sungkan untuk nyamperin ratusan warga yang juga lagi nunggu pengen di salamin di luar gedung. Hmm, entah untuk citra atau apa. Satu yang nggak palsu Ibu Ani itu cantik kalo dilihat aslinya.

Keep moving forward everybody ^_^

All Motivation Book


Sadar karena dengan membaca kita akan terlecut untuk menulis. Dengan membaca, miskin kosa kata dan gaya bahasa akan dipenuhi. Semoga bulan depan bisa beli buku Ika Natasha. Amiin

a Pride


Sehari dua tulisan saya masuk jadi Headline, halaman satu dan halaman tiga. Simple tapi saya ingin bersyukur karenanya. hehe 


New Year 2014 ala McAnity



Begini jadinya kalau empat orang yang bersahabat dan susah sekali cari waktu luang. Di tengah rencana makan donat bareng pun gagal dan hanya bisa menghabiskan momen berempat dengan dua jepretan foto saja. Mungkin kali lain yaaa.. 

Gagalnya liburan ke Bandung dan bahkan ditinggal liburan ke jakarta hanya dibayar dengan beberapa jam saja... hahaha Miss U all guys. #Semoga tidak ada yang tanya kenapa ada kata McAnity di judul postingan ini. Karena itu murni kealayan dan bahkan saya sudah lupa apa artinya. Haha

Selasa, November 12, 2013

The Snitch-es


  the rain falls into you

just like the sun shines you 

 smiling to the dark




seperti kata pepatah tak ada yang bisa dikenang dari masa lalu. dan tidak ada yang bisa di gambarkan dari sebuah masa depan. tapi ada sebuah pembenaran tentang satu cerita tentang aku dan duniaku..

Senin, November 04, 2013

Being a Journalist*

Mungkin bagi orang lain, ini tidak penting. Tapi bagi saya, memberi apresiasi pada diri sendiri itu perlu. Pertama, untuk memotivasi diri sendiri, kedua untuk menginspirasi saya sendiri. Karena yaa, setiap orang pasti punya sisi low dan high motivation kan. Biasanya, dengan me-refresh pikiran dengan hal begini bisa membuat mood saya suatu hari jadi berubahan positif.

Dan, siapa tahu kelak, saya ingin flash back, biarkan lewat blog ini saya bernostalgilaaa, hehehe
 
Ini satu cerita tentang pengalaman saya sebagai wartawan (onjobtraining) di Radar Surabaya. Sebuah koran lokal anak perusahaan Jawa Pos Grup. Atas satu peristiwa membuat saya tiba-tiba ingin terjun ke dunia satu ini. Dan Alhamdulillah diberi kesempatan untuk terjun langsung dan merasakan hidup di jalan ala Wartawan. 

Rasanya? Nggak ada kata yang lebih mewakili, selain kata S E R U. Setiap hari bertandang satu tempat ke tempat yang lain, hanya untuk mendapatkan satu dua tiga cerita. Berita. Satu yang jadi paling mengasyikkan adalah semua ini membuat saya menghafal jalan, menghafal orang, mengenal orang dan jeli dalam segala hal. 

Lapsus halaman 1. Yeeeey. Nembus ini susaaah
Sedikit beban mental. haha, karena jadi wartawan bukan hanya soal melaporkan berita. Tetapi juga membela, menyampaikan, menyalurkan pendapat, daaaan banyak yang lain. Dan satu lagi, jadi wartawan itu adalah soal kecepatan dan ketepatan. Ngebut? Selalu. Dan membuat jari-jari ini selalu lincah menekan tuts keyboard. Hahaha. Alaynya lagi, tangan ngapal. Karena? Kebanyakan nyetir. -___-

Hmm, berfikir menjadikan wartawan sebagai profesi memang membutuhkan pertimbangan yang sangat panjang. Pertama, wartawan (dalam skala saya) tidak cocok untuk perempuan. Benar kata seseorang. Kelak, kalau sudah berkeluarga (haallah) saya nggak mau jadi wartawan. Profesi ini sangat membuat lupa waktu lupa keluarga. Tapi seeeruu. Hahaha, biarlah ini menjadi proses penjajakan di masa muda. Menggali pengalaman menggali ilmu. 

si rumah miring yang longsor karena terdampak proyek pemerintah

Empat bule yang ngamuk bangunan peninggalan Belanda ditelantarkan. Iyalah, dulu kalian penjajah!

inspiring kid. berprestasi karna ditinggal ibunya (broken home)
Serunya karena saya bisa merasakan bagaimana berhubungan dan berkomunikasi mulai dari grassroot, pejabat, atau marginal. Mengungkap kasus, dan berburu kecepatan dengan media lain. Hmm, menulis begini membuat saya berfikir bagaimana saya harus melepaskan ini semua kelak.

Walikota Tri Rismaharini. Inspiring Woman :D

Fashion show. Baru kali ini nonton beginian. haha
Benar kata seseorang, ketika kita memulai, kita juga harus tau kapan harus mengakhiri. Tetap tinggal atau akan berlari suatu saat. Tapi emang ya, yang nama ikatan persaudaraan sesama jurnalis itu sangat kental. Kemana saja asal kita wartawan, orang lain, baik sesama wartawan atau bukan pasti akan selalu dibantu. heehehe. Saya baru akan menginjak bulan ketiga. Masih butuh berpuluh-puluh tahun lagi untuk bisa menjadi wartawan sejati. 

Tapi ada sesuatu yang aneh. Jadi wartawan itu memang penuh cobaan. Iman terutama. Nggak sekali dua kali pas ngeliput di kasih amplop. Pertama saya kira itu amplop apaan, eh duit. Setelah konsultasi, ternyata begituan termasuk sogokaj. Astagaa. Dan yang ngasih kebanyakan dinas pemerintahan. Satu wartaawan dikasih duit segitu. Ckckckc..

Belum lagi si polisi. Sudah lebih dari dua kali saya lolos tilang karena saya nyebut saya wartawan. Ngikngok banget. Pernah langsung dikebalikan duit saya, padahal saya belum sempet ngeluarin kartu pers saya. Aneh.. Ya aneh, emang kenapa kalau wartawan? Payah kan..

Yovie n Nuno
 But, so far, I am enjoy for being a journalist.

*_*

Senin, Oktober 28, 2013

Tangan Kanan Tangan Bagus, Tangan Kiri Jangan Iri

Dulu, ada yang bertanya pada saya, kenapa tangan kiri dijuluki tangan jelek. Atau singkat kata, kenapa orang tua kita selalu bilang, “Hayoo, pake tangan bagus,” maksudnya pakai tangan kanan saja jangan pakai tangan kiri. Teman saya waktu menanyakan pada saya mengapa anak kecil diberi mindset bahwa tangan kanan itu tangan yang lebih baik dari tangan kiri. Kalau dia bilang, kan nggak adil bagi orang yang misal hanya punya satu tangan. Misal kanan saja atau kiri saja.

Waktu satu menjawab, ya karena tangan kanan itu tangan yang bagus. Lebih bertata karma. Sekaligus tangan kiri adalah tangan syaitan. Dimana syaitan selalu memakai tangan kirinya ketika makan. Mungkin juga untuk yang lain.

Teman saya itu sempat bertanya, memangnya ada dalilnya tangan bagus itu tangan kanan? Saya memang selalu lemah dalam hafalan nasab hadist. Saya pernah dengar, tapi saya lupa. Pokoknya yang saya ingat itu adalah tangan kiri itu adalah kebiasaan syaitan. Itu yang dijadikan adaptasi hukum mengapa tangan kanan dikatakan tangan baik dan tangan kiri adalah tangan jelek.

Dan beberapa bulan lalu saya menenmukan hadistnya. Bunyinya begini:


Saya ingat, teman saya sempat bilang “Masak Allah menciptakan tangan, tangan jelek? Ya enggak kan, tangan kanan dan tangan kiri itu sama-sama bagus,” katanya waktu itu. Kami sempat berdebat, bukan berdebat sih, berdiskusi tepatnya. Saya selalu kalah. Karena saya ya itu tadi lupa dalil, saya selalu gagal menyebutkan itu disebutkan di hadist yang mana atau di quran surat apa.

Yaaa, paling tidak saya senang berdiskusi dengan si anak ini. pertanyaannya sederhana. Mudah dinalar, namun kembali lagi, kita memang selalu harus punya dasar ketika melakukan sesuatu. Juga ketika menetapkan sesuatu. Amal tanpa ilmu itu nonsense kan. Begitu juga ilmu tanpa amal.

Ahaha, jadi ceritanya saya sekarang sedang rindu berdiskusi dengan kawan saya satu itu. Rindu untuk berdiskusi, dan rindu untuk merionalisasikan tentang agama, budaya, dan syariat. Ngobrol dengannya itu sebenarnya bukan level saya. haha. Tapi sekarang dia sedang pergi jauh. Jauh sekali. Cannot be reached. Hehe. Langka teman seperti dia. Yang selalu mebuat saya selalu belajar lagi, belajar lebih. Tentang yang sederhana hingga yang paling rumit.