Jumat, Mei 24, 2013

Empat Level Menuju Surga


ini motivasi kami

Kami mengawali langkah dengan canda kanan kiri. Jalanan yang mulai menanjak. Kami segera disapa dengan hamparan perkebuanan sayuran. Daun bawang, dan juga tanaman-tanaman khas gunung. Kata Ucup, perjalanan ke Ranu Kumbolo bakal memakan waktu lima jam. Itu perjalanan standar.

“Nrabas kompas ya?” teriak Ucup yang ada di barisan paling depan.

“Yo, potong kompas wae,” sahut Abror yang ada di nomor dua dari belakang.

Si Ucup memang dari bawah sudah mewacanakan agar nanti kita bakal melenceng, membelok, dari rute utama jalur pendakian. Biar lebih cepat katanya. Hasssh,, kalau saya mah ikut saja. Yang penting cepet sampai dan selamat sampai tujuan.

Sementara saya masih kerepotan mengatur ritme nafas saya yang pendek ini, ternyata kami telah berada di tepi persimpangan. Semacam belokan menanjak tersedia di kiri, sedang di kanan, ada semak-semak yang terbuka membantuk jalan setapak. “Oke kita potong kompas,” teriaknya. Ia lalu memimpin rombongan melewati rimbunnya semak ilalang. Hawa dingin yang tadi sempat terasa saat berjalan sepuluh meter mula-mula. Kini sudah hilang sama sekali. Diganti dengan badan yang penuh peluh dan nafas yang ngos-ngosan.

Aha,, ini jalur trabas kompas itu?!!!!!

Dalam hati saya berusaha menahan apa yang saya rasakan. Pertama, yang saya rasakan adalah GALAU. Nafas saya rasanya sudah mau habis aja. Kepala nyut-nyutan mendadak, sesekali bahkan pandangan saya kabur. Ini masih awal brooooo,,, masak mau nyeraaaah??? Gini doaaang??? Muleh ae… *itu kalimat sarkatis yang menggaung dalam kepala saya.

Saya heran sama si Ayuk yang ada tepat di depan saya. Di tengah jalanan yang menukik tajam, curam, dan yah, nanjaknya seperti menaiki tangga jurusan tiga anak tangga sekaligus. Heran, si Ayuk ngakunya selevel sama saya, tapi dia kayak kuat heppy-heppy aja?? Kok dia nggak minta break sih???

Saya menyerah. Sekitar dua puluh langkah, saya minta istirahat. “Ini berapa jam Cup jalan beginian?’’ Tanya saya sembari ndoprok di semak-semak. Ngos-ngosan nggak ketulungan. “Satu jam” Dia jawabnya acuh banget. Dan tau apa yang saya terjemahkan dari sorot dan jawaban dia, seolah dia berkata, “Bakal tambah sui lek mondak mandek,” hehe. Benar ternyata, belum sempat nafas saya jadi teratur ritmenya, dia udah menggerek rombongan buat jalan. “Ayo” katanya berdiri di depan saya yang masih nggak berdaya. Oh meeeeen,,, pelis pooo, paling  nggak tunggu nafas ku mbeneh. Tapi nggak e.

Willy nilly, dari pada merepotkan kelompok, saya kuatkan beridiri dan menelan bulat-bulat jalanan yang seperti wall climbing itu. Sekali berdiri, ilalang-ilalang itu seperti nggak mau dikalahin tingginya. Jadilah saya dan kawan-kawan berjalan sembari menyibak kelambu ilalang. Dengan jalanan yang tetep seperti itu. Kurang lebih 40 menit, kami baru keluar dari jalur tebas kompas itu.

Lepas itu, kami melalui jalur pendakian yang sama dengan pendaki yang lain. Berbeda dengan jalanan yang tadi, jalur pendakian ini setidaknya lebih manusiawi bagi pemula. Hehe. Nanjaknya cukup landai. Artinya tetap naik jalannya, hanya saja ndak menukik.

Dalam fase ini saya sudah cukup stabil. Si Abror yang jalannya di belakang saya selalu berpetuah, “Di atur nafasnya, sekali ngehirup, sekali ditahan, terus dihembuskan,” katanya. Sabar ya, hahaha. Ia nih orang emang jagonya nemenin orang yang jalannya lambat seperti saya. Dan ternyata resep itu manjur lho, dengan narik nafas, menahan, saya bisa tiga langkah naik sekaligus. Itu kemajuan.

naik naik ke puncak gunung
Dan berkat itu, saya jadi faham, kalau semakin sering kita berhenti, maka kita akan semakin capek. Karena setelah kita berhenti usai berjalan, maka nafas kita akan kembali berorientasi menyesuaikan ritme dengan langkah kita. Tapi kalau berjalan dengan kecepatan stabil, dan nggak sering berhenti, maka stamina bisa awet. Hueeeh guaya. Ini kalau si Ucup Ayuk Abror Radi Patar baca pasti saya langsung di jitakin. Wkwkwkwkwkwk

Ehem, back to….

Ada empat pos yang harus kita lewati biar sampai di Ranu Kumbolo. Kalau Ranu Kumbolo itu surge, maka untuk menuju Surga itu ternyata ada empat level yang harus kita lewati dengan segala macam paket yang disajikan tiap levelnya.

Lepas dari jalur trabasan, nyatanya kami masih empat puluh menitan buat sampai di Pos 1. Setiap pos ditandai dengan adanya paguyuban yang atapnya dibuat dari asbes. Sepanjang perjalanan menuju pos itu, kami mulai tercerai-berai. Si ucup jalan bareng sama si Ayuk udah jauh di depan. Saya di depan Abror dkk..
Kadang kami ditungguin, kadang ya ditinggalin. Yang sering bikin kesel itu ya pas kita bercapek-capek ria menyusul tempat dimana mereka istrirahat menunggu kami, eh, begitu kami sampai di tempat mereka, mereka jalan. Mayaaaak!!!! Akhirnya saya mutung, kalau ngeliat mereka berhenti di depan saya, saya tidak mau berhenti bergabung buat istirahat, tapi terus melaju, berjalan.

“Wes panas iku, makane nggak gelem mandeg,” celetuk Abror, agak ngece. Haha, iya mungkin ya, karena di level itu, saya sudah bisa ngatur nafas.. Yeeeee !!!!

perjalanan ke Pos 1. Lamaaaa
Yang paling seru selama mendaki itu ya saat bertemu dengan pendaki lain yang lagi istrirahat. Pasti selalu disapa dengan disangoni ucapan penyemangat. Begitu juga saat kita sedang istirahat dan dilwatin sama pendaki lain. Kadang malah ada yang nyeletuk “Semangat Mas Mbak, di atasan dikit ada indomaret kok,” Ngooooooook.

Pos 1 vs Pos 2. Nggak ada apa-apanya
Setelah beberapa waktu lamanya, akhirnya kami sampai juga di Pos 1. Di sana kami berhenti sebentar. Trus lanjut jalan lagi. Setiap berhenti paling isinya gojlokan mulu. Hahaha, kalo nggak gitu saling bertukar semangat.

tiba di Pos 1. Say: Kami masih kuat.....Nggak ada apa-apanya ... -_-
liat dan amati tinggi tas abror dan tinggi badan abror. suangar

kegejean radi dan patar. homo di gunung *sindrom
Si Ucup kembali ngajak kami cepet beranjak, karena katanya dari pos 1 ke pos 2 itu jaraknya nggak jauh. Dan ternyata benar, deket banget, tau tau udah sampek di pos 2. Saya malah nggak berhenti di Pos 2, lanjut menuju ke pos 3. Haha, benar-benar sudah panas soalnya badannya.

Mungkin ini ya fungsinya latihan fisik kalo mau naik gunung. Kalau aja latihan fisik ku kemarin-kemarin lebih niat dan labih panjang ranger waktunya, mungkin akan lebih baik. Hehehe. Tapi selain itu Ucup juga bilang sih, ada tempat yang lebih asyik buat kita berhenti istirahat. Karena bisa sekaligus foto-foto, setelah plakat Watu Rejeng, ada jembatan yang keren soalnya.

Kami baru berhenti lagi di pos 3. Di sana kami mulai benar-benar terlihat lelah. Si Ayuk, malah udah tepar-tepar dia. Kebukti pad di pos 3 dia geletakan, berserakan, sama si patar. Hahaha. Mereka ngikutin jalan kudanya si Ucup sih. Makanya forsir jadinya, ngoyoh.



Kalau saya? Sama. :P 
Tapi mending, kan masih bisa motret mereka yang bertepar-tepar ria.

---Tanjakan Setan ---
Dari pos 3, kami dibilangin Ucup, kalau sebentar lagi kami akan melewati rintangan berjudul tanjakan setan. Beeeuuuuh… Horor kan ya dari namanya. Mata si Ucup seolah ngerling ke atas menunjuk apa yang ia sebut dengan tanjakan setan.

in gayanya Ucup pas nerangin si tanjakan setan
Yap, tepat di atas tempat kami tiduran, tepat di atas pos 3, tanjakan curam 60 derajat sudah menanti. Ia seolah menunggu dengan menantang, “Kuat nggak lo ngelewatin gue tanpa berhenti????” melihat itu saya berasa pengen pingsan aja, siapa tau ada Ayuk yang mau ngegendong. Hahaha. Ngimpi!

“Tiap sepuluh langkah berhenti,” kata Ucup. Huaaaaah, kata-kata itu bener-bener seperti setetes air di siang bolong. Seger sih, tapi kurang banget.. hehe.

Well, Patar yang glesotan itu akhirnya berjalan di depan saya. Ayuk tetep di depan saya, agak jauh. Well, jadi tanjakan setan ini hampir mirip dengan jalur trabas kompas tadi. Nanjaknya curam tapi nggak kayak naik tiga tanggak sekaligus. Kalau gitu kan malah capek karena langkahnya makin panjang. Kalau curam landai begiini masih bisa disiasatin dengan jalan pelan-pelan, dan langkahnya nggak lebar-lebar. Tapi prediksi Ucup salah total. Nggak sampek sepuluh langkah, Ayuk udah mandeg, break. Aku juga. Tapi bentar sih, nggak lama-lama, jadi masih aman.

si Tanjakan Setan
Go to Pos 4. Kerlingan Mahameru
Dari pos 3, tujuan kami adalah pos 4. Perjalanan ke pos 4 ini adalah perjalanan yang paling menyenangkan. Jadi ingat kata si Abror, mendaki gunung itu nggak cumin soal mendaki, berjalan, tapi juga menikmati perjalanan.

Hmm, boro-boro menikmati perjalanan, kalo nafas aja masih gelagapan. Nah, baru di perjalanan menuju pos 4 ini saya banar-benar mngamati sekitar. Dan menyadari bahwa saya sedang berjalan di gunung, di hutan. Sadar bahwa kanan saya adalah tebing, sedang kiri saya ada jurang yang ditumbuhi pohon pinus yang menjulang.

Ya, karena perjalanan ke pos 4 ini cukup landai dan banyak jalan mendatar. Bahkan sesekali jalannya menurun. Kalao gini dari tadi enak kali ya. Seruan-seruan tentang Ranu Kumbolo yang sudah dekat pun kian menambah semangat untuk terus berjalan.

Dan satu yang mulai menyapa tubuh adalah,,, dingin. Sejenak saja berhenti dan diam, dingin akan segera menemani dan menusuk kulit kayak jarum suntik. “Tangan sambil digerak-gerakne,” itu suara abror yang berjalan di belakang saya. Bener tuh, tangan rawan kram soalnya.

Dan well, pemandangan yang dapat nikmati di tengah kabut yang mulai berderu, dingin yang mulai mematikan kulit kaki, di sebelag kiri, ada dua bukit yang saling beririsan untuk menyapa kami. Bukit yang paling belakang itu bukan bukit sembarangan. Bukit itu adalah Mahameru.

Si Mahameru mengntip di balik bukit
Puncaknya yang gagah, redup, dan sayu, namun menunjukkan keagunganNya, seperti mengerling pada semua pendaki yang sedang berjalan. Seperti dia sedang berkata “Hoi, aku di sini. Masih jauh denganmu. Apa kamu masih sanggup?”

Dalam hati, saya berujar, esok, ketika matahari sudah berganti, saya aka nada di sana. Itu bisikan yang saya suarakan dalam diam dengan volume minimum. Saya agak dilemma, saya takut menjadikan pendakian Semeru adalah ambisi. Bukan mimpi. Tapi saya tetap menyelipkan keyakinan yang tinggi dengan control yang tinggi pula, agar tidak takabur, bahwa saya akan ada di sana.

Setelah berjalan satu jam, kami sampai di Pos4. Yang dijuluki surganya para pendaki telah ada di depan mata. Hamparan air danau nya yang hijau dari kejauhan mengundang kami untuk segera sampai. Rasanya udah kayak pengen njeburin diri aja. Haha.

Kami istirahat lama di pos 4. Kabut sudah mulai mengisi ruang di antara kami. Bahkan kalau kita bicara, udah kayak di daratan eropa aja. Berembun. Sangar. Ademnya udah menusuk nusuk tuh. Di pos 4 itu kebetulan ada rombongan yang kelar nyalahin api unggun. Rasanya, anget banget. Hehe.
Nggak mau ketinggalan momen, foto…




dari Pos 4, ranu kumbolo yang ramah itu sudah kelihatan 'ngawe-ngawe'
Dari pos 4 ke Ranu Kumbolo masih memerlukan waktu setengah jam. Ranu Kumbolo udah kayak kampung yang lagi bedol desa. Rakum penuh banget sama tenda warna-warni. Saya nggak ngebayangin kalau weekend ini bahkan sampai bikin Rakum full begini.  Dari jarak pandang pos 4, sekeliling danau udah pada booked sama pendaki-pendaki yang sampai duluan.

Berhubung, haru kian petang, jam tangan saya udah membidik pukul 16.15, padahal dari pos 4 itu masih harus jalan setengah jam lagi. Kami harus cepat. Atau kalu tidak, kami akan gelimpungan karena belum ndirikan tenda di kegelapan. Oh no! lebih baih sekarang saja jalannya ngebut, toh, cuman turun ini. Hehehe

Akhirnya, kami sampai di ranu Kumbolo Tepat sebelum malam gelap

Ranu Pane: The Real Starting Point


Begitu truk milik Pak Rus datang, kami bergegas menaikkan barang bawaan kami ke atas truk. Begitu juga dengan satu rombongan yang kebagian berangkat bareng kami. Semua tas di susun di pojokan dengan susunan melintang. Sedang manusia-manusianya berdiri berjajar mengisi ruang yang kosong. Berusaha mendapatkan pegangan tangan yang erat karena jalanan di depan akan nanjak.

Saya dan kawan-kawan, Ayuk Patar Abror Mbah dan Radi dapet tempat paling dekat dengan tumpukan tas. Itu artinya paling depan. Sedang Ucup duduk di samping pak supir yang sedang bekerja. Karena dia naik paling akhir setelah lobi-lobian dengan Pak Rus. Si Ucup ini sudah lumayan kenal sama Pak Rus, makanya kami bisa dapet harga 30 ribu tiap orang untuk sampai di Ranu Pane dengan truk Pak Rus. Yang lain ada yang bayar 33 ribu. Hehe Alhamdulillah.

Perjalanan ke Ranu Pane itu sangat sesuatu. Ranu Pane yang ada di Lumajang itu kami tempuh dengan waktu dua jam. Berdiri, jalanan nanjak 45 derajat, dan berkelok-kelok. Semoga kalian bisa membayangkan. Merindingnya itu nggak ketulungan. Cuman pegangan tas-tas yang rawan nggelundung, atau kalo enggak pegangan sisi pinggiran truk yang bikin tangan sakit, kram.


Tapi jangan kahawatir, nggak serem-serem amat kok. Karena rasa seremnya itu terselimurkan dengan iandahnya pemandangan pegunungan yang wow sekali. Masih di Malang, kita akan di sapa oleh kebun-kebun apel, sayur-sayuran, kebun cabe, dan banyak lagi. Kami bahkan melewati tembusannya savana Bromo. Iitu di atas videonya..

Ada juga video perjalanan yang horor banget...



Begitu masuk ke Probolinggo, kita bisa melihat savana yang merupakan terusannya Gunung Bromo. Keren banget. Rasanya pengen tiduran aja di padang savanna itu. Hijau banget. Dan di jalanan itu Mahameru udah mulai ngintip-ngintip melihatkan kegagahannya. Kami bahkan sempet main tebak-tebakan mencari yang mana gunung yang bakal kita daki. 

Well, adrenalin kalian akan di uji habis-habisan oleh tanjakan berkelok dan juga kebolehan Pak Rus dalam mengemudi. Saya dan kawan-kawan nggak sekali teriak histeris terutama saat trus wana kuning ini hendak tiba-tiba berhenti mendadak untuk mengatur gigi perseneling tepat di ujung tanjakan berbelok. Padahal samping kita itu jurang. Belum lagi saat harus berpapasan dengan truk lain. Atau juga ketika jalanannya hanya setapak, kanan kiri jurang, dan jalannya berbatu. Oh men.. Ampun!!
Ranu Pane 
Setelah hampir dua jam, kami akhirnya sampai di Kecamatan Senduro Lumajang. Di depan mushola dan tanah lapang, kami semua diturunkan dari truk. Di samping tanah lapang itu terlihat bibir Ranu Pane menyapa dengan ramah. 

Di Ranu Pane ada toilet yang cukup bersih untuk dipakai ganti baju atau mandi. Dari pada di atas yang deket pos perijinan, saya lebih menyarankan untuk menggunakan toilet yang di bawah ini. Karena nggaka antri, dan airnya banyak.
Jadi dari tanah lapang itu, kami harus naik ke atas, menuju pos perijinan. Kami harus berjalan sekitar 10 menit untuk bisa sampai di sana. Hm,, perjalanan belum dimulai. Haha, iya, karena selama naik ke pos itu saja, saya mulai menyadari kalau tas bawaan saya itu berat. Ketambahan air dua botol sih. 

Para pendaki bergantian berangkat nanjak

Setibanya di pos, Ucup segera registrasi. Sebenarnya nggak apa nggak pake lapor ke pos, tapi berarti nggak dapet ansuransi keselamatan. Maksudnya kalau ilang atau terjadi apa-apa, petugas nggak bakal mau direpotin. Biaya registrasinya 10 ribu. Dengan duit segitu, pendaki dapet ansuransi keselamatan hingga Kalimati. Sedang dari Kalimati ke puncak, katanya nggak termasuk ansuransi.
Keberangkatan mendaki ada jadwalnya. Kami kebagian berangkat pukul 13.15 (padahal kami nyamek Ranu Pane jam 11.00). Jadilah kami ngemper lagi. Kami manfaatkan waktu dua jam itu dengan ke kamar mandi, packing ulang, dan juga isi perut. 

Ngomong-ngomong soal packing ulang, temen-temen yang lain cariernya pada full. Tas imut yang saya bawa juga. Tas Radi yang enteng pun, makanya tak pake, kini udah over load. Tas si Ayuk, yang tadi di bawa Radi, dan tas saya dibawa dia, udah berubah bentuk. Gemuk semua. Akhirnya kami memutuskan untuk membawa tas masing-masing.

Tas saya (punya Ucup) yang saya bawa
Barang bawaan kelompok pada dibawa Ucup, bahan makanan di tas Ayu dan Patar. Tenda ada di tas Ucup, sleeping bag saya juga di Ucup. Intinya tas saya tetep yang paling enteng. Saya nggak bawa satu botol minum sama sekali. Astaghfirullah… hehe berat banget e. Di depan warung makan Bu Endang menjadi kesaksian kerempongan kami menata carier.

Yang lucu malah si Ayuk yang bawa sunlight. Dan bocor ternyata dalam tas. Akhirnya sabun cuci itu dibuang karena kemungkinan besar tidak akan terpakai. Ada adegan lucu selama kami packing. Tentang telur asin. Kami bawa telur asin sebagai bahan makanan. Eh, ternyata belum naik udah bau. Si Ayuk yang awalnya kebgian bawa, malah lempar2an. Akhirnya Radi yang bawa.
Anak-Anak pada packing ulang. Saya hanya nonton. Dan berkta "Maaf tas saya sudah Full"

Hehe, saya merasa berdosa sebenernya pas bagi-bagi bongkar muat tas itu. Satu-satunya tas yang nggak bongkar muat itu tas saya. Hehehehehe. Saya emang nggak niat bongkar muat. Udah fix all dah soalnya. Saben anak-anak bilang “Im, telur asin kamu bawa ya?” atau “Im, sleeping bag masuk tas mu ya?” atau juga kalimat yang dengernya “Im, air satu di tasmu ya?”

Saya hanya menjawab dengan satu jawaban. Ndrenges. Senyum tanpa dosa. Masalahnya tas saya udah full. Fullnya barang pribadi semua. Sleeping bag saya aja ucup yang bawain. Bahan makanan jkelompok nggak ada yang sama saya. Hehehe. Jahat ya?
Tapi asli kawan-kawan saya ini benar-benar mengerti saya. Mereka nggak memaksakan untuk saya bwa yang berat-berat. Mereka rela membawakan air saya, dll, dan paham kalau nggak gitu saya nggak akan sanggup jalan. Hahaha. Thengkiiiiyuuuuu. Si Ayuk malah nekat bawa cariernya sendiri. Gileee. 
Tapi kami sempet mecah melon lho di Ranu Pane. Buat nambah tenaga, si Mbah bawa melon dari desanya. Jadi kamu makan sebelum jalan. Rasanya,, seger. Secara siang bolong, makan melon, cespleng, wkwkwk.
Aha, di Ranu Pane ini saya jadi ke inget sama film 5cm. yang saat Ian paranoid ngeliat makam. Ternyata emang ada makam di sana. Nggak serem malah kalau kata saya. Malahan lucu. Masak makam kijingnya warna warni. Ada yang tembok kijingnya diwarna biru laut, ada juga yang warna merah muda, dan ada juga yang warnanya kuning. Hehe, ada ada saja. Padahal makam islam.

*lihat yang di ujung kiri, itu makam warna-warni. Unyuuu
Saya ingat, waktu ke kamar mandi di pos itu, kami berdua masuk kamar mandi barengan,sakng antrinya. Saya sama ayuk. Iyuuwh,,, kamar mandinya (agak) jorok. Bawa tissue basah aja yang banyak, tissue basahnya harus higienis tapi. Kalau mau mandi, atau buang hajat, sempatkan mandi dan buang hajat di sini, karena ini adalah tempat terakhir kalian bisa menemukan toilet. Setelah ini, jangan harap. Karena yang ada hanya kamu, dan hutan belantara. Haha

Tepat pukul 13.15, kami mulai menyangklongkan tas kami masing-masing. Bergerak beriringan  meninggalkan warung Bu Endang. Ayunan langkah kami senada. Perlahan saya merasakan tanah yang saya tapakkan tidak lagi datar seperti biasa. Tapi menanjak. Nafas saya mulai berpacu. Dan inilah waktu yang sebenarnya memulai perjalanan. Trip to dream, Mahameru.

We Are Team

Trip To Dream, Semeru!!


Kini kertas kuning itu sudah lusuh.
Sekitar tiga tahun yang lalu, secarik kertas bertuliskan Mahameru, sengaja saya tempelkan ke dream wall kamar kos saya. Ya, saya pernah punya mimpi. Di usia saya yang berkepala dua, kaki saya yang imut ini harus sudah pernah mencicipi puncak gunung. Hehe.
Dan bim! Sekarang mimpi itu sudah terwujud. Tepat pada hari Sabtu pahing (weton saya), 11 Mei 2013, pukul 09.25, saya berhasil berdiri di tanah tertinggi pulau Jawa. Mahameru.

Here We Start, Here We Go
Surabaya-Tumpang
                                                               
Sebelum berangkat ke Semeru itu saya seperti dilanda dilemma berat. Pertama, TA belum kelar. Kedua, belum dapet ijin dari Mamak di kampung. Dan yang ketiga, persiapan yang sudah saya lakukan sudah sangat maksimal.

Sebut saja olahraga ke stadion buat latihan fisik, dua kali. Itu sudah kemajuan karena saya sudah bisa muterin lapangan dua setengah puteran lebih, tanpa berhenti. Juga saya sudah hunting sandal gunung baru bareng partner nggunung saya, si Ayuk. Dan yang paling galau lagi, saya sudah packing semua peralatan masuk tas ransel imut si Ucup. Tinggal berangkat dah. Masak galaunya baru dateng di saat beginian?? Hmm, biasa ding, itu sindrom memang.

But well, setelah meneguhkan dan menancapkan kuat-kuat mimpi menapakkan kaki di Mahameru, akhirnya saya berangkat juga ke Jurusan Fisika. Di sana semua kawan sudah siap. Carier-carier udah siap menjulang setinggi badan saya. Haha, sepertinya hanya tas saya yang paling imut. (Nggak usah tanya kenapa saya nggak bawa carier juga. Ntar malah nggak jadi naik gunung, tapi naik di tempat :P)


Kami bertujuh: saya, Ayuk, Abror, Radi, Patar, Ucup, dan si mbah (dan ditambah rombongan angkatan 2010 bertujuh juga) berangkat ke terminal Bungurasih. Lalu kami naik bus ekonomi. Dengan ongkos 12ribu kami turun di terminal Arjosari, Malang. Karena malem, jadi perjalanan cepet. Dari Surabaya jam 22.00, nyampek sana jam 00.30.

Gosipnya, Semeru bakal mbudak di weekend itu. Maklum, libur panjang, ditambah pula jalur pendakian Semeru emang baru di buka setelah cuti sejak Januari lalu. Bener aja, baru nyampek Arjosari, kami udah banyak ketemu gerombolan anak muda dengan carier di punggung mereka. Pasti mau ke Semeru, (sotoy!)

Well, dari Arjosari kami sempet nggembel. Nggelar matras dan klempohan. Jadi ceritanya, buat ke Tumpang itu kita harus naik angkot. Nah, angkotnya baru ada selepas subuh. Ada sih banyak yang nawarin carteran angkot, tapi mending enggak, mahal soale. Jadilah kami ngemper. Enak kok tapi, ada banyak colokan di sana yang bisa kita pake buat ngisi ulang baterei. Trus juga kita bisa nge-charge tenaga dengan tidur, atau nambah doping stamina dengan ngopi di warkop. Atau juga seperti yang saya dan teman-teman saya lakukan by waiting the time. Nggosip, nggojlok. Harus tahan gojlokan. (Pemanasan ternyata).

Pukul 03.30 kami mulai beranjak dari Arjosari. Naik ke angkot kuning, seperti angkot WK di Keputih. Uniknya, kami yang berjumlah 19 (tambahan junior dan kawan mbolang ucup) bisa muat dalam satu len itu dengan di jejal2in. Tas gunungnya di susun di atas angkot. Tenang, talinya rapat, jadi nggak bakal jatoh, walau susunannya tinggi dan si mobil ngebut. Karna dia nggak bisa ngebutlah. Haha. Sangar pokoke. Serba Mekso.

Saya aja didudukin di tengah-tengah antara baris kanan dan kiri. Ya, mentang-metang saya yang paling imut. Jadi ditempatinnya di tempat yang paling sempit. Edan. Haha. Kaki saya sampek kesemutan duduk lama di sana.

Naik angkot nggak sampek sejam udah sampek di daerah Tumpang. Kami langsung diturunkan di sebuah ujung gang. Di sana ada semacam rumah singgah buat pendaki Semeru. Pemilik rumahnya bernama Pak Rus. Beliau yang punya kendaraan truk buat angkutan ke Ranu Pane. Dia punya beberapa truk kok. Yang bikin sangar dan so sweet itu, si mantunya Pak Rus. Masih muda, cantik, ramah pula. Sejak kami dateng jam 04.00, si mbak itu langsung menyambut kami. Mempersilahkan istirahat di dalam rumah, di kasih teh anget, dan juga kamar mandi gratis.

Nyaman bangetlah. Berasa ada di rumah sendiri aja. (Iya lah, rumahnya aja seperti nggak menyisakan ruang privasi sang pemilik rumah. Setiap sudut sudah digelarin karpet biar para pendaki bisa istirahat senyaman mungkin).

Di situlah, banyak interaksi antar backpacker dan pendaki. Ajang golek bolo lah istilahnya. Itu yang bikin saya salut. Meski nggak kenal, nggak saling tahu dan baru ketemu, anak ‘alam’ itu kebanyakan selalu asyik untuk diajak ngobrol. Wawasan sosialnya tinggi.

Di tempat itu, kami terjebak antri berkepanjangan. Kami harus menunggu jam keberangkatan. Jumlah kami tanggung soalnya. Untuk satu truk kurang, untuk gabung dengan kelompok lain kebanyakan. Baru setelah matahari mulai terik, jam 07.00 sebagian kelompok kami berangkat. Sedang saya dan kawan-kawan seangkatan baru bisa berangkat pukul 08.00. Lama banget. Saya dan ayuk aja sampek sempet jalan-jalan ke pasar cari gorengan tempe mbos, dan ote-ote. Abror malah beli pisang satu cengkeh. Wkwkwkwk. 

Saya dan ayuk nggak habis piker kenapa di tengah pasar tradisional ditu yang dipilih abror buat dibeli itu pisang. Hahahahaha. Kan mending kami, beli gorengan. Lebih tepatnya nungguin ibunya goreng gorengan. Jadi makannya mongah-mongah, pas banget buat ngangetin badan.

Oh ya, dari Surabaya kami sengaja belum shoping cemilan dan air. Nah, sekedar info, bagi yang mau ndaki juga, mending belinya di Tumpang aja. Ada minimarket yang bisa jadi jujukan buat beli kopi, susu, madu, coklat, atau baterei senter, jajan, dll. Lebih simple kalau belanja di Tumpang, karena nggak perlu bawa air yang berat dari Surabaya. Tapi ya resikonya nanti harus packing ulang. 

Minggu, April 21, 2013

The Pictures



Yang baca postingan ini pasti bilang, ini postingan nggak penting banget ya. Narsis. Haha. Nggak apalah, kapan lagi. Lagi mau pamer, ups, bukan ding, mempromosikan karya teman sekosan yang suka ndandanin orang. Sebutannya 'cilik'. Nama populernya Ifti. Yap, dia itu teman seangkatan saya di Fisika ITS. Dia ini nggak akan tahan ngelihat temen yang.. misalnya bajunya warnanya nggak matching, jilbabnya nggak beres, atau baju kedodoran pun sering dia komentarin sebagai penampilan yang 'gak mbois'. Jahat banget kan? Dan tentu saja, saya termasuk golongan orang yang yaa pernahlah alias sering  jadi bahan empuk buat dia komentarin. Hoohoo

Nah, akhir-akhir ini dia lagi semangat berkreasi jilbab. kan sekarang lagi 'in' banget tuh model kerudung yang diputer-puter, lucu, dan unyu itu. Ifti lagi suka tuh. Dan anak kosan emak jadi sasaran sergap eksperimennya.    Kami dijadikan objek pelampiasan kreativitas yang tak tersalurkan,,, hehehe.

Dan ini beberapa hasilnya... (fotonya sudah beberapa bulan yang lalu sebenarnya)



    
(postingan ini saya temukan di draft blog saya)
sudah hampir setahun lalu draftnya, daripada nggak terupload,, :)


Kamis, April 18, 2013

Oblivion | Film Iluminati

Semalam saya pergi nonton film dengan sahabat saya, Henny. Ini karena film yang sedang muter di bioskop adalah film aktor kesayangannya, Tom Cruise. Saya sebenarnya nggak suka-suka amat, tapi yaah, daripada di kos bengong, setuju saja saat dia nyeletuk ngajak saya waktu di Laboratorium Fisika Dasar.



Film terbaru Cruise kali ini judulnya Oblivion. Sesuai terjemahannya, Oblivion itu artinya pelupaan atau keadaan yang terlupa. Aneh ya. Genrenya memang science fiction. Untung sebelum ke bioskop, kami sempet ngelihat traillernya. Yah, paling nggak biar nggak mudengnya nggak banget-banget.

Well, asli, ceritanya ngayal banget. Ceritanya, ada makhluk asing yang ingin mencari tempat hunian. Ia mengincar bulan untuk dikuasai. Dihancurkannya bulan membuat bencana besar di bumi. Raibnya bulan sebagai satelit alam bumi memberi dampak yang luar biasa. Terjadi bencana besar-besaran di bumni, seperti gempa, tsunami, sampai bumi luluh lantah dan rata dengan tanah. Ehm, tapi White Housenya masih kelihatan sih puncak bangunannya. Curang yah.

Nah, nggak berhenti sampai bulan saja, tapi si alien yang bernama Sally ini berniat mengambil bumi. Karena masih banyak manusia yang selamat, ia ceritanya menebar isu kebohongan. Yaitu ia mengelabuhi manusia bahwa bumi akan hancur, maka manusia harus mencari planet baru untuk tetap hidup. 

Planet itu adalah Titan. Satelitnya Saturnus. Yah, coba pikirkan, ratusan manusia yang tersisa (karena hitungannya adalah Amerika saja), harus bedol desa dari bumi ke Saturnus, yang jaraknya adalah 1,272,000,000 km dari bumi. Memang sih, di ensiklopedia yang saya baca, si Titan ini punya kesamaan sifat fisik yang sama dengan bumi. Seperti punya air dan juga atmosfer, yang memungkinkan manusia tinggal di sana.

Jack Harper
Berawal dari sanalah, muncul Jack Harper (Tom Cruise). Dia adalah seorang astronot. Bersama rekannya Victoria atau Vika, dia mengendalikan pesawat luar angkasa membawa manusia (yang tersisa) untuk singgah di Tet dan kemudian berangkat ke Titan. Tet adalah stasiun ruang angkasa. 

tunggannya Jack Tech-49

Namun, nyatanya mereka semua tidak sampai ke Tet, ada malpembakaran di tubuh pesawatnya. Hanya Jack dan Vika yang masuk ke Tet. Tapi, namanya juga cerita fiksi ya, konfliknya adaa saja. Haha. tapi menarik, asli.

Sesampainya di Tet, Jack dan Vika nyatanya malah dimanipulasi ingatannya. Semua memori mereka di bumi dihapuskan. Diganti dengan ingatan sebuah misi. Misi adalah membantu Sally untuk mengeringkan bumi dengan mengambil semua energi airnya sebagai energi pengganti di Titan. jack dan Vika dikembalikan ke bumi untuk menyiapkan misi tersebut. Mereka bekerja bersama puluhan robot. 

Well, singkat cerita, mereka akhirnya tahu bahwa mereka hanya dimanfaatkan demi misi pribadi Sally. Hal tersebut Jack dapatkan setelah ia diculik oleh kawanan 'Pemakan bangkai', another alive human yang tersisa.  Mereka mencoba mengembalikan ingatan Jack dan merangkulnya untuk menghancurkan Tet.

Tet
Dengan membawa bom nuklir, Jack dan pemimpin pemakan bangkai berangkai di Tet. Mereka ke sana untuk bertemu Sally, yang selalu secara misterius mengontrol dan mengndalikan kerja Jack selama ingatannya dimanipulasi. Saya juga penasaran sih, bagaimana wujud Sally yang alien itu.

Dan see that, begitu mereka sampai di Tet yang ada di luar angkasa, mereka akhirnya bertemu Sally. Just to know, Tet dalam film ini berbentuk segitiga besar sekali yang terlihat kokoh dari bumi. Untuk masuk kesana, Jack terlebih dahulu diintrogasi tentang maksud kedatangannya. Saat itu ia berkilah untuk menyerahkan manusia yang masih tersisa.

Well, Saal ternyata adalah sebentuk robot. Hmm bukan robot sih, melainkan sebongkah batu segitiga yang sangat besar yang berbicara melalui matanya yang jumlahnya hanya satu. Dan warnanya merah. Dan kau tahu apa? Ya, seperti segitiga mata satu. Iluminati.

Sally
Ada kutipan yang wow dari si mata satu ini, ketika Jack menuntut kebebasan dan kemerdekaan bumi. 

"Aku yang menciptakanmu Jack. Aku Tuhanmu," katanya. 

Ini karena di Sally mengklon Jack hingga ribuan klon-Jack. Hanya untuk mengasup air (hidro) bumi. ya, Jack adalah teknisi yang handal untuk melakukan pekerjaan tersebut. Singkat cerita Tet berhasil di bom. Sally si iluminati itu hancur. Bumi pun aman dari pengeboran air besar-besaran dari menara misi milik Sally.

Iluminati
Lalu, kenapa Sally harus iluminati. Kenapa Tet harus segitiga raksasa yang mengawasi bumi dan mengusasi umi dari kejauhan. Kenapa harus mata satu yang tergantung di segitisa raksasa itu yang memerintah Jack. Dan mengapa Si mata satu mengaku Tuhan.

Konspirasi iluminati. Hahaha

Mungkin benar mungkin salah. tapi yang jelas, begitu saya melihat film itu dan penasaran di Sally itu alien seperti apa. Eh, malah alien itu adalah mata satu dan seitugia aneh itu. Hehe, entahlah, saya juga hanya berspekulasi. Apa ini yang namanya konspirasi??

Bagi yang belum nonton, penggemar Science Fiction, Monggo ditonton.. :)


Senin, April 15, 2013

Tere Liye (Poseidon 2013): Karena Saya Menghormati Perempuan

Seorang penulis itu selalu khas dengan karakternya. Tegas. Lugas. Unik. 
Ada juga additional behavior of writer yaitu misterius, dan whatever you say, I will go straight.
Ya, mereka itu selalu prinsipil. Malah kadang terlalu. 

Saat masih candu dengan buku dan novel dulu, saat seragam saya masih putih biru, buku Tere Liye masuk dalam daftar buku yang membosankan. Novel-novel buatannya sarat dengan kalimat-kalimat panjang, minim kutipan dan yang paling saya benci adalah endingnya yang jarang happy ending. Kasusnya selalu saja mbulet dan terkesan mengada-ada. Saya kurang begitu suka. 

Ya, mungkin novel Tere Liye nggak cocok diasup oleh remaja tanggung yang suka dengan keababilan seperti saya, dulu. Saya lebih memilih membaca novel berlabel teenlit atau chicklit. Dah ya, saya juga sempat mengira novel Tere Liye itu novel terjemahan. Dan saya juga sempat mengira kalau Tere Liye ini nama pena seorang penulis perempuan. 

Eh tapi ternyata salah, belakangan saya tahu kalau penulis buku best seller ini adalah seorang pria yang akhi-akhi, hehe. Kementerian Kominfo BEM ITS 2012/2013 mengundang beliau dalam acara Populer Seminar Writng of Indonesia (Poseidon) 2013.

Bang Tere Liye ini secara khusus datang ke ITS untuk membagi pengalamannya di bidang kepenulisan. Hmm, cukup mahal sih mendatangkan penulis best seller macam dia. Panitia harus rela merogoh kocek sebesar Rp 3,5 juta plus transportasi dan hotel, yaah kira-kira Rp 5 juta deh. But, saya rasa sepadan sih. Bahkan kami, panitia, sempat merasa sayang dan nyesel karena mematok tiket hanya Rp 25 ribu untuk ITS dan Rp 35 ribu untuk umum.

Masalahnya, kalau tahu antusiasmenya sebanyak ini, mungkin kami tergiur untuk maruk mematok harga yang lebih tinggi. Bang Tere bahkan menyebutkan kalau seminar yang mendapuk dia sebagai speaker rata-rata malah Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu. Dan sayangnya lagi, kapasitas ruangan gedung yang kami sewa hanya bisa menampung maksimum 400 peserta, setelah ditambah beberapa kursi plastik. Yah, jadilah ruang sidang Pascasarjana lt 3 ITS penuh sesak oleh peserta. Pesona Tere Liye ini memang luar biasa.

Si Tere Liye datang dengan tampilan casual kaos hijau panjang, celana jeans, dan sepatu gunung. Saya rada kesal dan menilai orang ini sok-sokan karena nggak mau memberi contact person dan tidak mau ada sesi foto barneg dan juga wawancara bareng secara khusus. Jahat banget ya. Kekesalan saya kian bertambah saat tahu dia mengeluh pengen cepat ke hotel karena lelah usai menunggu pesawat yang rusak saat dia sudah di atas pesawat.

Tapi, mau tidak mau saya harus mengakui kalau penulis satu ini benar-benar keren. Didapuk sebagai pembicara dalam seminar nasional, dia sama sekali tidak menyiapkan slide presentasi. Dia hanya memberikan file word yang isinya lima kolom tentang jenis-jenis tulisan yang mungkin bisa ditulis oleh seorang penulis pemula. Tidak ada yang lain.

Jadilah seminar itu mendengar cerita-ceritanya yang inspiratif, tips-tips menulis ala dia, dan juga sedikit mirip workshop. Saya duduk tepat di depannya selama dia berbicara, berbekal kamera DSLR milik seorang staff, saya puas-puaskan njepret sosok unik di depan saya itu.

Dia biasa menulis sejak usia delapan tahun. Tepatnya menulis puisi. Pria usia 33 tahun ini sejak kecil terbiasa diperpengarkan dongeng oleh pakwonya di Sumatra sana. Dari sanalah ia lalu terbiasa melamun, dan menulis. Baginya, menulis itu adalah kebiasaaan. Ada beberapa tips menulis yang ia bagi siang itu.

Yang pertama adalah penulis harus punya sudut pandang spesial. Kedua yaitu punya amunisi. Penulis juga harus memiliki kekayaan ragam bahasa. Dan terakhir yang saya ingat adalah penulis harus memulai menulis dan tidak perlu susah-susah untuk mengakhiri tulisannya.

Mainstream kan kalo dipikir-pikir. Tapi satu yang saya tangkap dari seminarnya siang itu, bahwa menulis itu tidak perlu memikirkan untuk apa dan untuk siapa kita menulis. Tak peduli orang akan mengapresiasi atau mencaci tulisan kita, asal tulisan itu relevan dengan diri kita maka tulisan itu adalah tulisan yang bagus. Ya, karena katanya menulis itu adalah berbagi kebaikan. Bukan utnuk emngharapkan kebauikan, right??

Haha, paling tidak, saya jadi tidak perlu ambil pusing ketika blogging. Mau orang bilang apa tentang tulisan saya, itulah tulisan saya. Aha, mungkin ini juga yang membuat kepribadian Tere Liye yang sak karepe dewe itu ya. Dia yang tidak mau terlalu di ekspos dan terlalu membatasi diri. Dia bahkan mengelak ketika ada penanya yang menjudgenya sok misterius dan menyembunyikan identitas. Coba ingat-ingat, memang di setiap buku Tere Liye hampir tak ada foto atau biodata penulis kan ya?? 

Ia berkilah bahwa ia hanya menjaga privasi saja. Haha, dasar penulis. 

Well, saat signing book, saya sempat nyeletuk tentang nama pana yang ia gunakan. Nama berbahasa India itu ternyata punya arti "untukmu". Konon dia memang suka India, mulai dari film, dan juga kisah cerita negeri asal Sarukh Khan itu. Makanya ia mencatut bahasa India sebagai nama penanya. Padahal nama aslinya adalah Darwis. Alumni Akutansi UI dan pernah mengajar sebagai dosen juga. 

Yaa,, over all bertemu Bang Tere ini membuka satu wawasan baru tentang penulis bagi saya. Dirinya yang unik ini seolah memberi petuah pada saya tentang kayanya dunia jika kita mau berfikir dan kemudian menuliskannya untuk dibagi.

Selayak analogi pohon kelapa yang ia ceritakan di prolog seminar. Bahwa pohon kelapa memang tak pernah berpetualang seperti penyu dan burung pipit. Tapi ia selalu berbuah. Buahnya kerap jatuh ke pantai dan terombang ambing terbawa samudera hingga sampai ke negeri seberang. Di sanalah lalu bauhnya tumbuh kembali untuk memberi kebaikan di sekitarnya. Dan begitulah seterusnya.



Saat dinner saya tanya ke Bang Tere, kenapa di novel-novelnya selalu menggunakan tokoh utama perempuan. 
"Karena saya menghormati perempuan," katanya.



Post Card

no caption

Minggu, Maret 31, 2013

Henny (22th)

one of my best friend has special day in the end of March
she is Henny Dwi Bhakti
the most innocent girl I have ever met
so (much) easy going | smart | slow in walk but fast in thinking
she is a good listener | football lover | crazy in k-pop 
 | a great dreamer |
Happy Birthday my friend !
wish you for your best ^.^

Sabtu, Maret 30, 2013

106 Graduation | Momentum

Bahagia haru. 
Emosi yang pastinya tidak kunjung beranjak bagi lima orang teman sejawat saya di Momentum. Gebi, Kris, Imam, Vitri, dan juga Nike. Saat toga bersandang di raga, gondon emas terkalung di dada, serta topi persegi empat yang kuncir talinya siap digeser ke kanan oleh Sang Rektor, tanda mereka akan sah diwisuda. Ya, tepat tanggal 16 Maret 2013 lima skuad Momentum ini telah resmi melepas status mahasiswanya, dan menjadi Sarjana. 


Sepertinya intro di atas terlalu mellow, haha. Well, selamat ya buat teman-teman saya yang sudah wisuda. Pasti rasanya seneng banget, udah nggak jadi mahasiswa. Tapi enggak ding, nggak semua, si gebii jadi mahasiswa lagi, S2. 

Lulus 3,5 alias satu semester lebih awal dari waktu normal itu memang istimewa. Di jurusan Fisika, lulus 3,5 tahun bisa dibilang susah (kalo kataku sih). But.. tentu saja, saya memberi apreciate yang luar biasa pada ke enam kawan saya ini. Ya, enam. Karena satu lagi akawan sayaa sekarang sudah beranjaak ke Taiwan untuk melaanjutkan studi.


Kawan saya yang keren ini adalah Gebi. Dia mendapat gelar sebagai wisudawan termuda. Bagaimana tidak, dia berhasil menggondol gelar sarjana saat usianya belum genap 20 tahun. Yaa, dia lahir dua hari dua tahun setelah saya, 23 September 1993. Dia menamatkan SMP dan SMA-nya melalui program akselerasi.

Gilee.. dan dia juga mau akselerasi menyelesaikaan S2 dan S3 nya. Dia lolos beasiswa Fast Track Jerman. Whuu,,, kereeen.. semoga besok2 punya anak sejenius anak ini. Hehe.
Sekedar bocoran, Gebi ini anak pinter yang terasah otak kanan dan kirinyaa. Si otak kiri yang diasah lewat belajar segala mata pelajaran (read: fisika matematika dkk), ia banyak ambil les ini sejak SMP. Dan ia juga dididik oleh orang tuanya untuk pandai bermusik. Ia jago piano dan gitar. Ia juga banyak les di bidang ini. Menurutku, ini yang bikin si anak jenius ini nggak stress meski otak kirinya bekerja berlipat ganda daripada anak seusianya. Great !


Berikutnya adalah Imam. Si pendiam yang kutu buku, baik hati, (agak pelit senyum), cool, dan pemurah karena sering ngajarin kami kalau mau kuis. Ya, kebiasaan di angkatan Momentum adalah kami selalu mengadakan turotial mata kuliah tertentu, seperti Kuantum, Fistat, dan Medan EM. Imam adalah salah satu yang sering dinobatkan sebagi dosen dadakan. Haha. Tapi, asli, setelah denger penjelasaan Imam, seperti dapat cahaya yanag mencerahkan. Hingga bilaang ooooh,,, (paham) hehe. Makaanyaa temen-temen sepakat kalo dia pasti cocok banget jadi dosen. Karena banyak dosen Fisika yanag pinter tapi nggak meminterkan mahasiswanya. (*-*)

Well, ada satu hal lagi yang keren dari seorang Imam, sebenernya ini off the recor sih. Seorang dosen penguji TA Imam sempat memberi komentar setelah beberapa hari menguji Tugas Akhir Imam. Dosen bergelar pi ini mengaku sangat kagum dengan Sidang Imam. Katanya ia belum pernah menguji mahasiswa yang dapat menjawab dan menjelaskan segamblang, serunut dan selengkap Imam. Ia menyayangkan kenapa dosen pembimbing Imam tidak memberi nilai sempurna untuk Imam. Dengan gamblang bapak ini malah bilanag dengan rela sekali membubuhkan nilai A sempurna jika saja ia pembimbingnya. Karena menerutnya sidang Tugas Akhir paling bagus selama ia menguji adalah sidang Imam. Ihh waow !! Toh dia masih bisa cumlaude (^.^)


Kalu satu ini namanya koko Kris. Belakangan aku jadi terbiasa memanggil kawanku ini dengan sebutan begitu (ngikut cewek di foto ini, dia tim TA ku soalnnya). Well, koko ini termasuk beken di ITS. Sebagai pengelola website dan majalah kampus, aku sudah terbiasa melihat koko Kris malang melintang di dua produk kampus itu. Terutama karena kepiawaiannya di bidang astronomi, bidang yang dulu pengen banget aku geluti. Yap, prestasi demi prestasi banyak ia torehkan. Mulai dari ikut olimpiade astro internaational dan dapet gelar honorable mention, terus ikut konferensi di luar negeri,  ke Jepang, dan juga mendirikan  komunitas astronomi buat aak SMA dan mahasaiswa. Gilee aku apal banget.

Well, dia juga berhasil lulus 3,5 tahun dan cumlaude. Sekarang, ia sedang menunggu beasiswaa untuk kuliah di Jepaang. Sudah diterima di University Jepang. Kereen. Tak doakan deh si Koko, yang sekaaraang aaktif ngajar astro di salah satu SMA di Surabaya ini segera dapet beasiswaadan bertolak ke Jepang.


Kalao yang satu ini nike. Saarjanaa yaang organisaatoris sebaagaai tim pengonsep pengaderaan jurusan selaamaa duaa taahun berturut-turut. Gilee. Walau sering pulang maalaam baahkaan apaagi tetep bisa terlewaatkaan dan lulus 3,5 tahun. Hebaat kaan. Sekaarang si Nike ini udaah kerja sebagai seorang skretariaas salah saatu dosen di Jurusaan Fisika. Selamat ya nikee..



Beda lagi sama si cantik mother Vitri ini. Sejak awal kuliah si cantik ini memang sudah keliaahatan di atas rata-rata. Dari SMA rajin ikut olimpiade bidang Fisika, bahkan sampek cinlok segala gara-gara olimpiade itu, haahaa. But, jangan saalah. Sejak mahasiswa Vitri sengaja menyibukkan hari-harinya setelah kuliah dengan mengajar. Mulai dari ngajar, ngelesi, sampai dapet jodoh om daari murid les-lesannya ini. Nah kan, emang yaaaaa,,, passion lead you into your way to love. Hehe. Lulus 3,5 tahun si mother (panggilan hasil KP bareng di Jogja), Vitri langsung dapet kerja ngajar Fisika di dua sekolah sekaligus. Bersanding di tengah-tengah anak ABG labil konon membuatnya banyak jadi bahan godaan dan dapat gelar ibu guru cantik. Si murid kadang malah suka nggak memperhatikan papan tulis karena teralihkan perhatiannya ke paras ayunya si Vitri ini. Haha. Lucunya. 

Salah satu kebiasaan Vitri yang patut ditiru adalah kebiasaaannya yang nggak suka menunda pekerjaan, dan selalu skeptis dengan soal-soal Fisika. Dia nggak akan bisa tidur tenang kalo tugas kuliah belum kelar ia rampungkan. Nah,, perlu dicontoh niiih. Jangan malah ada tugas dtinggal molor. :)
Great Mother, Conrotulation for your graduation, and for you all guys. :D

Ini gambar si Virda yang sudah nangkring di Taiwan. Kece yaa..
Dan juga saat kami bikin surprise farewell di bandara ..


Ini beberapa foto serunya konvoi ngarak dan nyambut wisudawan.


Sebentar lagi, giliran kita..




 


  `
Every step we taken, every way we passed, and every laugh we spend together. Congrotulation. Happy Graduation Guys.  

Rabu, Maret 06, 2013

Seven Wonders #KMF48

-new family-

Tahun terakhir di ITS nyatanya tak merelakan saya hanya berdiam diri sebagai mahasiswa akademis. Meski di awal semester sempat meneguhkaan hati untuk fokus di Tugas Akhir dan kuliah saja, ternyata saya tergoda juga. Mengabdi di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ITS menjadi tempat saya belajar sekaligus mengamalkan sedikit ilmu yang saya miliki dalam berorganisasi.

Mukti, seorang kawan lama, mengajak saya untuk bergabung bersama great tim kami di Kementerian Kominfo BEM ITS. Ya, bersama Randika, Ayu, Dila, Fadhiel dan Beye, kami menamakan diri kami Seven Wonders #KMF48. 

Alay bukan, tapi ya sudahlah kealayaan justru menambah kekompakaan kami (alay-san). Kata wonder mewailiki makna kami yang luaar biasa. Ya, karena sayaa setuju menyebut mereka luaar biasa. Karena mereka memang luar biasa. Mukti yang journalist passionate, Raandika yang jago human resource management, Ayuk yang journalaist dan scretary yang keren, Dila yang jago desain daa marketing, Fadhiel yanag master desain, dan Beye yang master video maker.

Dan kealayan berikutnya adalah segala atibut kementerian akan selalu diikuti dengan #Something 48. Ya, karena si Mukti ini menggilaa banget sama AKB 48. Asal kaalian tau, gara-gara pas raker kami menaampilkan flash mop Heavy Ratatioan, sayaa jadi rada-rada suka dengan aliran musik girlband Jepang ini. Oh meen (-.-)"

They are Great. So we can say We are Great Team.

*next post saya akan kenalkan staf kami yang nggak kalah luar biasa. :)
just wait guys