Senin, April 18, 2011

Ekspedisi ARJUNO: Si Gagah Sang Maha Sempurna

Yeee!! Akhirnya kesampean juga naik gunung. Setelah penantian panjang yang menjengkelakan.. :D:D

Yup, rencana naik gunung emang udah jadi grand desain liburan semester ganjil kemarin. Iya dong, karena targetnya, sebelum aku genap usia kepala dua alias 20 tahun, paling nggak udak pernah ngerasain yang namanya muncak gunung. Dan karena liburan kemaren banyyaaak banget alasan yang mengurungkan keberangkatan –rencananya ke Semeru-, akhirnya ya direlakan saja. Mungkin Allah belum ngijinin. Dan pasti ada gantinya yang seimbang dan bahkan jauh lebih baik.

Tadaaa,, dan tawaran itu datang dari seorang kawan dari sanggar Pramuka ITS yang juga teman seangkatanku untuk ikutan ekspedisi Arjuna. Tanpa pikir panjang, setuju aja, itung-itung menebus goal liburan kemarin.. :D


Bersama tim, berlima, aku, Henny, Ferdin, Abror, dan Yuga, kami berangkat persis Sabtu Subuh. Setelah sehari sebelumnya di Teknikal Meeting, temen2 pramuka memutuskan untuk start di rute Lawang. Jadi kami berangkat deh ke Malang.

08.00 WIB POS I Wonorejo
Kita mulai naik dari Pos Perijinan di Wonorejo. Disana kita langsung disambut dengan Kawasan Perkebunan Teh yang luasnya kurang lebih 1000 ha. Hijaunya itu lho yang bikin mata betah, dan nyaman memulai pendakian.


Di pos tersebut, kita udah bisa lihat puncak Arjuno yang gagah. Nggak bayangin deh, bisa n kuat nggak ya nyampek titik tertinggi itu.. Kan ini pendakian perdana..

Yaah, mendaki untuk pertama kali emang nggak mudah. Meski mata termanjakan dengan pemandangan yang seger, tapi fisik nggak mungkin bisa dibohongi. Jalanan kebun teh itu sudah mulai naik melandai. Seratus meter jalan rasanya nafas ini sudah tersengal, kaki tiba-tiba kram, tangan dan badan ngeluarin keringat dingin,, Aduh rasanya nggak banget deh nerusin perjalanan.


Alhasil kami sering istirahat diawal-awal pendakian.. untung ada barak istirahat milik petani kebun teh. Jadi kami istirahat disana. Hhe, bisa dipastikan, aku langsung tepar…. :D

Sekitar lima belas menit istirahat, cukp lah untuk jalan lagi. Sialnya, karena naik bareng bocah-bocah pramuka yang notabenenya sudah biasa naik gunung, aku dan Henny (yang numpang ikut rombongan) jadi bahan ejekan, atau lebih tepatnya jadi bahan tertawaan.. Mungkin dalam pikiran mereka “Cuman gini ae kok wes nggak kuat,” dan sialnya senyuman ngenyek itu pun tersungging, Sial..!! si Abror dan Yoga, Pasti!

Lain lagi sama si Ferdin, cewek tomboy satu ini kadang suka melarang kita istirahat –karena terlalu sering kali ya-. Yaaaa.. tapi akhirnya mereka ngerti juga. Aku akhirnya ditaruh di depan barisan di belakang Abror. Katanya sih biar nggak kerasa capek.





Tapi sepertinya Allah merestui langkah kami berlima, dan khususnya aku. Hujan turun!! Dan ajaib banget karena efek hujan adalah, jadi nggak kerasa panas dan dingin yang nyaman. Padahal udah males banget jalan sambil make rain coat.




Ya, perjalanan jadi nggak se-menyiksa tadi. Tapi asli jauh banget dari Pos I ke Pos II, aku sampek ngrengek nanyak mulu mana nih Pos II kok nggak keliatan-keliatan. Dan reseknya, temen2 cowok pada menipu kalo Pos II tinggal beberapa meter lagi di atas. Padahal kami sama-sama tau diantara kami berlima belum ada yang pernah naik Arjuna. Gila kan!!

Dan perlu tahu juga, kami naik tanpa bekal apapun. Di pos perijinan, seharusnya kami di kasih peta sekaligus jalur pendakian, tapi kami nggak dapet sama sekali. Dan kita juga nggak bawa kompas –yang kata mereka penting banget-. Hhhh… but over all that was a great hiking guys!!!

Setelah kurang lebih tiga jam setengah, akhirnya sampek juga di POS II,
Jangan Tanya gimana rasanya akhirnya sampek juga di tempa peristirahatan pertama itu. Rasanya seneeeeng bgt, setelah diongin berulang-ulang “Iku lho pos nya udah keliatan..,” hhhhh.. istirahat bisa lama-lama. Eh ternyata disana ketemu sama pendaki lain. Ada lima orang yang ternyata lagi jmasak di dalem pos. mereka dari Jakarta dan udah ndaki sejak Kamis. Dan belum muncak,, ngapain aja coba???



okey, disana puas-puas istirahat dan foto-foto, juga bereng pedaki lain. Rasanya bener kata novel 5cm yang aku baca sebelum naik gunung. Katanya kalau udah di gunung orang yang nggak kenal aja udah kayak sodara. Nggak pedulu sapa, kita seperjuangan. Satu tekad, untuk sampek ke puncak. Seneng rasanya bisa ngerasaiin itu, kaya nemu keluarga aja, langsung akrab, n saling care.


ima>> ngrengek2 pengen ndang nyampek atas, nangis g bisa turun gara2 jalannya licin takut jatoh
henny>> paling sering minta berhenti, sok kuat padahal udah pucet@ nahan capek
abror>> paling nyebelin karena paling sering ngejekin aq dan henny yng g kuat naik, memotivasi dgn cara2 yang nggak manusiawi
ferdin>> cewek tangguh yang bikin aq heran, aq n henyy sampek ngos2an naik, eh dia sama sekali g ngos2an apalagi kelihatan capek. dan nyebelinnya dia adalah orang yang paling g manusiawi karena g jarang nglarnag kita berhenti kalo udah keseringan :(
yuga>> yang paling sering "mbohongin" kita dgn bilang "itu lho posnya udah kelihatan, dikit lagi" hash, dan paling nyebelin dengan senyumannya yang sooooook banget, dia naik duluan yang tinggi supaya bisa liat aq n henny yng kecapekan dari atas terus ketawa ngakak. Resek kan!!

Di pos II semakin bullet aja semangat buat ndaki. Nggak peduli abis kelar jalan 2 jam, udah kepingin jalan lagi. Apalagi ngliat bukit linching yang puncaknya kelian dari pos II, ijooo bangt. Katanya puncak Arjuno baru bisa keliatan setelah melewati bukit itu. Ngomongnya bukit soalnya udah sama-samma di atas. Coba aja kalo masih di bawah nggak akan beda sama ngomong gunung. Yeah, aku ada di atas gunung!!

BUKIT TELETUBBIES
Perjalanan dari pos II rasanya jauh lebih ringan dari sebelumnya. Salah satu alasannya karena kita se tim udah saling faham, misalnya aq apek, berhenti bentar oke, nggak lama ganti henny yang capek, istirahat lagi, meski udah sesering pas diawal, bocah-bocah paling nggak ngasih pengrtian lebih. Kadang juga di hibur sambil becanda, atau bilang istirahat ke atasan dikit, tanahnya datar.. atau apalah.. yang jelas perjalanan jadi jauh lebih nyaman..


Selain itu, karena udah termasuk di tempat yang tinggi, pemandangannya jauh lebih mencengangkan. Berulang kali aku ngga beranjak naik untuk nggak puas nikmatin pemandangan yang ,,, WAAAAAh itu, ijo, tinggi, awan, kabut, ilalang, padang rumput… subhanallah..



 Mungkin ini yang sempet dikatain sama seseorang yang suka ndaki gunung juga, mendaki gunung itu perjalanan spiritual… ternyata bener. Disana, ditempat yang tinggi itu, tempat dimana aku bisa melihat semua yang aku lihat, yang membuatku merasa betapa kekuasaannya begitu besar, dan sebegini kecilnya aku.



Mungkin ini yang sempet dikatain sama seseorang yang suka ndaki gunung juga, mendaki gunung itu perjalanan spiritual… ternyata bener. Disana, ditempat yang tinggi itu, tempat dimana aku bisa melihat semua yang aku lihat, yang membuatku merasa betapa kekuasaannya begitu besar, dan sebegini kecilnya aku.

Di antara linching dan pos III itulah pemandangan yang indah-indahnya. ada padang rumput yang luas, kata abror itu sabana, tapi kata yoga dan ferdin itu stepa, but whatever saya namain itu bukit Teletubbies. Karena tempatnya yang ijooo banget, bersih dari ilalang dan rumput yang tingii. Dia rata dan sejuk. Aduuuh rasanya ingin meluk dan tidur disana…

Disana lah aku merasa kan dan menghayati satu pepatah, maksud hati memeluk gunung, tapi apa daya  tangan tak sampai.. hehe

Alhasil hanya bisa meneriakkan kekaguman disana. Aku mengajak teman2 yang lain untuk teriak alias njerit, tapi henny doank yang mau. Dan bahkan aku semapat meneriakkan VIVAT  disana… HAhaha… Ye…!!!



The value of the journey…
*merasakan rasanya nikamat naik motor dan nggak jalan
*merasakan betapa kita tidak ada apa-apanya dari pada kekuasaan Allah Manusia sama sekali tidak pantas untuk sekedar berjalan dengan mendongakkan kepalnya
*Sahabat sejati adalah yang mengerti dan memahami serta menerima dan melengkapi segala kekurangan kita
*Tidak ada kata aku tau kamu yang ada hanya kita
*berdiri ditengah-tengah kekuasaan Allah, membuat kita tersindir untuk terus bersyukur
*Banyak doa saat di Gunung
*Harus menjaga sikap, perkataan, dan cara tertawa,,,awaaas kualat
*Nggak boleh "bohong" d Gunung
*Njaga lingkungan,,,
*Di gunung melatih emosi
*Harus dapet ijin dari ortu ya kalau naik gunung,,jangan kaburr
*bawa kamera dengan baterei penuhh





Huaaah I WAS VerRY HappY to Got the Hiking moment
didn't care what anyone else talked about, I'm proud by my self and God helpness to take  me back with smiley face and mood,


"Gimana ma, rasane munggah gunung," tanya Yuga pas kita udah kembali ke pos satu
"Over all, aku kayaknya ketagihan...!!"

Selasa, Januari 25, 2011

IP Jelek, Gak Masalah.


Ini pertama kalinya sejak maba indeks Prestasi ku jauh dengan kata memuaskan. Bahkan harus dibawah tiga, standart yang aku patok selama kuliah. Aku tahu semester ini akan begini. Alasannya jelas, banyak mbolos, sering tidur di kelas, dan mbacem kalo bikin tugas. Tapi itu nggak akan jadi masalah, justru karena ini, aku merasakan jatuh, dan aku ingin bangun berdiri dan kemudian berlari.
Aku sadar, selama semester ini aku tidak fokus pada kuliah ku. Terlalu sibuk diluar, dan terlalu senang mencicipi dunia yang sudah lama aku idam-idamkan. Pikirku, mumpung ada kesempatan, kapan lagi? Itu salah satu prinsip yang aku pegang.
Mulai dari belajar robot sejak awal liburan, belajar social politik, belajar demo dan turun jalan membawa suara rakyat –mimpiku banget-, juga jurnalistik yang nggak pernah bosen aku geluti. Dan semuanya aku jalani semester ini.

menulis..

ikut lomba robot sampek ke Jogja..

belajar bikin robot..



Aku akui, aku pun merasa semester ini berat-beratnya….
Hampir setiap hari aku selalu masuk kamar kos diatas jam Sembilan malam, bahkan sesekali tidak pulang. Dan itu sama sekali karena kerepotan mengerjakan tugas kuliah atau kepentingan akademik sekalipun. Semua karena ambisi yang aku kejar dan aku nikmati tentunya.
ini satu juga yang membuatku ingin terjun lebih dalam..
....

ikut MUNAS di Jakarta BOLOS sampek seminggu , bahkan tanpa Ijin..

dan ikut aksi nasional




hampir setiap laporan resmi (LAPRES) aku selalu mbacem,, atau paling tidak ada saduran sana-sini. aKu sadar, dan aku paham.
Dan inilah aku, yang aku paham sekali. Ketika aku ingin sesuatu, aku harus mendapatkannya, tidak mau melewatkan satu kesempatan apapun, dan rela mengorbankan sesuatu yang mungkin aku bisa dapatkan nanti.
Lagi-lagi yang aku pahami, akademikku harus aku korbankan..

Cukup sulit sebenarnya, ketika di kelas nggak mudeng dan memilih untuk tidur saja. Sangat berbeda dengan semester-semester sebelumnya, yang aku sendiri berkomitmen walaupun nggak bisa tetep nggatekno ben ngerti.
Tapi, aku sama sekali tidak menyesal atau bahkan menyalahkan segala aktivitas yang aku geluti. Itu pilihanku dan inilah resiko yang harus aku ambil.dan sekali lagi aku tidak menyesal. Ini bukti kalau Allah masih memberiku nikmat sadar untuk merenung.
Karena pengalaman2 luar biasa yang aku dapatkan selama ini itu MAHAL.. 
 sejam bersama Rektor Baru.. (kapan lagiii)
sampai bertemu Pelukis terkenal Kartika Affandy (Putri mendiang maestro Affandy)

Ini bukan akhir bagiku untuk menyudahi segalanya. Hanya, yang belum sempat aku lakukan satu semester belakangan adalah fokus dan perhatian yang nggak bisa bercabang.
Paling tidak aku tahu kuncinya sekarang. Baanyak aktivitas bukan seharusnya mengorbankan satu diantaranya. Tapi mengoptimlakan diri sebaik-baiknya pada semua yang kita lakukan. Akademik, organisasi, dan mimpi…

 Hanya butuh tangan dan kaki yang beruaha keras dari biasanya, mata yang memandang lebih lama dari biasanya, dan hati yang merasaan lebih dalam dari sebelumnya.. dan doa yang lebih banyak dari biasanya...
 Sekali lagi, tulisan ini akan menjadi saksi kebangkitanku. IP jelek sekarang, nggak masalah. Karena dengan aku merasakan jatuh, maka aku punya keinginan untuk berdiri lagi dan kemudian berlari!

SEMANGAT!!



Jumat, Desember 31, 2010

Dia yang Golput …. ?


Terinspirasi oleh sebuah pengalaman menjadi anggota tim KPPS PilPres dan PilRek.
Hari masih pagi saat saya dan salah seorang teman saya duduk berjaga meja registrasi di Distrik Jurusan TPS Pilrek. Karena merasa kurang adanya antusiasme pemilih membubuhkan suaranya di surat suara, maka saya berinisiatif untuk menggiring dengan sedikit rayuan agar setiap mahasiswa mau masuk ke bilik suara.
Seorang teman seangkatan kebetulan lewat, dan dengan sigap saya menyapanya. Mencoba menawari agar mau memilih –PILREK-  “Ayo milih dulu, belom milih kan? Tinggal nulis nama kok,” kata saya ramah.
“Nggak ah, saya nggak mau ikut-ikutan beginian,” jawabnya ketus dan datar. Saya mengerutkan kening. Padahal saya mengenal teman saya satu ini aktif di angkatan dan di Lembaga Dakwah Jurusan.
“Mahasiswa nggak boleh Golput,” kata saya menimpali. Dia membalikkan badan, dan meninggalkan saya tak acuh. RRRrrgh!
Tak lama berselang, ada yang lewat lagi. Kali ini kakak senior dan seorang akhwat.
“Ayo Mbak monggo milik Carek dulu,” tawar saya lagi.
“Waduh saya ada kuliah,” katanya menolak halus.
“Hallah Mbak cuman tiga menit aja lho,” rajukku. Tapi dia masih bergeming. “Y awes habis kuliah ya,”
“Nggak janji ya,” katanya sambil lalu. Dan benar saja sampai kuliah Mbak akhwat tersebut selesai dan TPS tutp, Mbak tadi tak kunjung datang.
 Sekarang yang ada di benak saya adalah Kenapa mereka harus memilih Golput?
Ada beberapa asumsi, pertama mereka kecewa dengan kepengurusan yang lalu yang tak kunjung membrikan perubahan yang mereka inginkan. Kedua, mungkin pemilih golongan putih itu tak merasa buat apa saya milih toh ya nggak ada pengaruhnya sama saya. Ketiga, dari pada milh salah mendingan nggak usah. Atau keempat sebuah doktrin haramnya politik, termasuk politik kampus.
Sebagai yang bukan penganut paham golput, saya hanya heran kenapa si Golput ini bisa terjebak dalam alasan2 seperti diatas –dengan asumsi alasan seperti begitu- Padahal jika perkara mereka tidak percaya dengan calon yang bertarung bisa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Jawaban yang saya ingin ungkapkan adalah terlibatlah dalam perubahan yang ingin kamu bentuk. Kenali setiap calon, dan tentukan mana yang paling cocok dengan ideologi yang kamu pegang. Bukan sok-sok acuh tak mau tahu dan men-judge semua calon tidak berkualitas, lalu Golput.
Karena Golput adalah sebuah cara yang paling lemah yang bisa dilakukan seseorang. Saya pernah mendengar cerita, cerita religi. Jika kamu melihat orang berbuat salah, maka ingatkan dengan tindakan. Jika tidak mampu dengan lisan. Jika masih tidak mampu doakan saja agar dia cepat sadar.
Sama dengan kasus Golput yang ternyata juga menjangkit kalangan mahasiswa, ITS terutama. Di cerita di atas Golput adalah golongan yang terakhir.
Ketika kita merasa ada yang tidak beres dengan pemimpin kita, kita harus berani menggugat. Ketika kita merasa pemimpin kita sekarang sudah dirasa tiddak berkompeten dan tidak layak, maka kita harus menggantinya. Di saat kita di beri kesempatan untuk menentukan siapa The Next Pemimpin kita, Mengapa tidak kita manfaatkan momen ini dengan sebaik-baiknya.
Bukan hanya menuntut ketika Pemimpin melakukan kesalahan. Apa nggak malu, “Wes nggak milih, protes ae!!"

Rabu, Desember 29, 2010

Kau Harus Sembuh Ibu


Semuanya berubah. Suasana rumah, adik, ayah, kakak, semuanya berubah. Semuanya menjadi asing. Membuat, aku, mereka, dan kami beradaptasi dengan kondisimu. Ya, semuanya berubah. Sejak kau terbaring dan tak bisa bangun dari tidurmu sebulan lalu, Ibu.  Penyakit yang kini bersarang didirimu benar-benar membuat segalanya berubah.
Mungkin ini teguran keras dari yang Maha Hidup. Mengingatkan kami sekeluarga tentang arti kehadiran seorang ibu di tengah-tengah kami. Tepat sebulan yang lalu keluargaku dikagetkan oleh kondisi Ibu yang tiba-tiba tidak bisa bangun dari tempat tidurnya. Ada apa dengannya, kami pun tak tahu.


Sebuah perjalanan panjang membawa kami sampai di Mojosari, tempat Ibu dilarikan. Dari diagnose Dokter, akhirnya diketahui apa yang sebenarnya diderita Ibuku yang sangat aku dan semua keluargaku sayang itu.
Dari kecil, Ibuku memang sering sakit. Ada kelainan pada jantungnya. Klepnya bocor, begitu ibu biasa menjelaskan penyakitnya pada aku dan saudaraku. Kalau kambuh, aku bisa melihat dada ibuku bergetar hebat tak beraturan, nafasnya memburu dan berat.
Dalam setahun, penyakit Ibu bisa kambuh sampai dua kali. Ini membuat ibu ku tak pernah mempunyai tubuh yang bisa diilang gemuk. Berat badannya tak pernah lebih dari empat puluh kilogram, kurus.  
Berbeda dari sebelumnya, sekarang ibuku divonis mengalami penumbatan pembuluh darah di otak. Membuat organ tubuhnya sebelah kiri total tak bisa digerakkan. Atau yang lebih akrab di telinga penyakit ini biasa disebut stroke.
Ya, sudah sebulan ia hanya bisa berbaring, atau duduk sesekali. Tangan dan kakinya masih belum mengalami perubahan. Kami semua sedih itu pasti. Ayah, seorang yang aku yakin menjadi salah satu yang merasa terpukul. Semalam lagi-lagi aku melihatnya tak bisa tidur menunggui Ibu yang juga tak kunjung bisa memejamkan mata. Ia menemani Ibu dengan setia.
Kakakku, tak jarang menangis didepan ibu, terharu akan sakit yang diderita Ibu. Sedih melihat kondisi Ibu yang praktis tidak bisa apa-apa.
Aku pun begitu. Tapi entah kenapa aku tak pernah bisa  menangis atau mengaharu biru seperti ning (kakakku) ataupun ayah. Aku sedih, sangat sedih.  Aku yakin Ibu juga tahu aku sedih untuknya. Dan aku yakin ibu juga ahu aku bukan anak cengeng yang bisa meneangis didepan orang lain. Dan aku yakin Ibu tahu akau selalu menyebutnya dalam doa ku. Memeinnta kepada-Nya untuk kesembuhannya.
Ibu, semuanya berubah. Kapan kau bisa kembali seperti dulu? kembali membawa tawa disekeliling kami.  Kau harus sembuh, Ibu. Kami semua masih membutuhkanmu. Mungkin ini salah kami yang tak pernah memberi perhatian lebih padamu. Yang hanya meminta perhatianmu tanpa memberi satu yang sama padamu. Maafkan kami Ibu. Kau harus sembuh, Ibu. Agar kami dan aku bisa menebus dosa kami padamu.
Ibu, kau Harus Sembuh!

Kamis, Desember 09, 2010

Lagi-Lagi Aku Disana Dan Merasakannya

Bulu roma ku berdiri. Nafasku tercekat, tarikan nafas sejenak tertahan. Pandanganku mengabur oleh lapisan air di mataku. Lagi-lagi aku disini, diantara mereka. Wajah-wajah penuh kebahagiaan dan kebanggaan. Tapi bukan itu yang turut aku rasakan. Tapi justru ketakutan.

Sekali lagi aku berada dalam momen ini. Momen yang selalu terulang tiap dua tahun sekali. Momen yang sama namun berbeda. Karena aku hari ini berada langsung dalam ruang utama gedung itu. Bersatu dengan mereka yang bertoga.

Ya, lagi-lagi aku berada di prosesi wisuda. Momen yang dinantikan semua pejuang-pejuang ilmu, termasuk aku. Setelah sebelumnya aku hanya melihat mereka dari luar gedung, kini aku melihat sendiri didalamnya. Bahkan sampai aku merasa aku mengalaminya.

Semua begitu terasa hangat dan bahagia melihat wajah-wajah berseri di depanku. Mereka menebar senyum ke teman samping kanan kirinya. Berbagi cerita tentang rasa memakai toga yang panas, juga ulah unik menuliskan “Calon Orang Sukses Vivat ITS” di topi Toganya.

Sungguh satu perasaan yang bisa terucapkan dengan kata. Bagaimana jika aku sendiri yang mangalaminya. Akankah? Pasti. Kapan? Pasti sebentar lagi. Aku menjawab pertanyaan yang terlontar dari diriku sendiri.

Tak berhenti sampai disana. Aku mengangkat kepalaku dan melihat jajaran orang tua mahasiswa yang melihat dengan bangga anaknya menjabat tangan sang Tetua menerima ijazah bertuliskan Sarjana Teknik berpredikat Dengan Pujian atau bahkan Sangat Memuaskan.

Di sebuah sudut Grha tempatku berdiri, aku menangkap seorang Bapak berperawakan gagah memakai seragam angkatan Laut lengkap berdiri dengan tangan tersikap didada. Ada juga bapak-bapak berkacamata yang sudah lanjut usia. Juga Ibu-ibu yang tak lagi kuat berdiri, yang pasti sudah memoles wajahnya sejak tadi namun sedikit luntur. Wajahnya mereka sama-sama mengatakan “Itu anakku,”

Sama seperti yang kurasakan sejak aku pertama melihat orang-orang didepanku melepaskan predikat mahasiswanya. Aku tercenung. Akankah aku juga merasakannya kelak? Apakah kedua orang tuaku akan juga berdiri diatas tribun dan melihatku memakai toga, dengan Gordon dileher dan ijazah ditangan?

Apa aku akan juga mengalami berfoto ria dengan ayah ibuku, dua adikku dan kakakku? Apa aku akan mengalaminya? Apakah mereka -orang tuaku- mengalami seperti halnya para orang tua yang sedang aku tatap ini? Aku tak sabar, ingin segera semua itu terjadi.

Mau tak mau aku harus mengakui aku trauma. Aku takut apa yang menimpa saudaraku juga menimpaku. Aku tak mau. Tapi aku serasa sudah ada dalam area itu. Area ancaman yang berbahaya.

Orang Tak di Kenal dan Petuahnya
Bodoh. Mungkin itu yang akan kau katakan. Bodoh, kenapa takut dengan hal yang bahkan belum terjadi. tanpa terasa, bulir air mata itu akhirnya jatuh juga. Segera aku menghapusnya dan kembali focus untuk apa aku ada disini.

Aku keluar gedung untuk sejenak melepas kejengahan. Entah jalan Tuhan yang telah mengatur semua ini, aku terlibat obrolan ringan dengan salah seorang pengantar wisudawan. Seperti menjawab apa yang sedang berkemelut dalam pikiranku, ia memberi jawaban.

Awalnya ia bertanya, kapan wisudawan akan keluar gedung. Karena aku kebetulan tahu juklaknya, ya aku jawab saja jam 16.20. Lalu oborolan pun mengalir.
“Karena Mbak sudah menjawab pertanyaan saya, saya juga akan bawa oleh-oleh buat Mbak,” kata pria berkemeja rapi itu. Usianya kira-kira dua puluhan. Ia pekerja kantoran lulusan Teknik Informatika.

Ia mengomentari tentang penyambutan wisudawan yang disiapkan oleh tiap-tiap jurusan. Ia berkata, “Apa semua ini efisien?” katanya dengan nada biasa namun sarkatis. “Di dunia kerja, semua tak seperti yang kita dulu kira,” katanya melanjutkan.

Setelah aku gali, ternyata pria yang ternyata Hanif ini dulunya tidak pernah mengikuti kegiatan-kegiatan kemahaiswaan seperti ospek dan lain-lain. Ia seorang yang memegang kukuh ideologinnya.

Yang membuat aku tercenung adalah, “Yang harus mulai kita pegang adalah tiga Mbak,” katanya. Pertama, apa yang penting sekarang. Kedua Siapa yang penting sekarang. Dan Untuk apa yang ada pentingkan sekarang. “Semua harus efisien. Tapi tidak perlu dipikirkan sekarang. Jangan dianalisa, nanti juga mengerti sendiri,”
“Jangan takut melihat masa depan Mbak, Jalani saja apa adanya. Tapi bukan bererti pasrah,” katanya seperti membaca pikiranku.

Selasa, Oktober 05, 2010

Beritaq "Dibajak" Antaranews, weeh

Mahasiswa ITS Rancang "Game Pertempuran 10 November"
04 Oktober 2010 08:51:40

Surabaya (ANTARA News) - Mahasiswa ITS Surabaya telah merancang "game" edukasi berlabel P10NER (Pertempuran 10 November) untuk menyemarakkan "Pagelaran Mahasiswa Teknologi Informasi dan Komunikasi" (GeMasTIK) 2010 di Surabaya pada 5-6 Oktober.


http://antaranews.com/berita/1286064290/mahasiswa-its-rancang-game-pertempuran-10-november - "Nama kampusnya saja Sepuluh Nopember, masak mahasiswanya tidak tahu sejarah namanya sendiri, karena itu kami pun merancang game saat liburan," kata mahasiswa Teknik Informatika ITS Felix Handani di Surabaya, Minggu.

Felix merupakan "Project Manager" P10NER yang berkapasitas satu "gigabyte" itu bersama tujuh rekannya, di antaranya Moh Mahrus Syamsur Rizal, Nurina Aisyah, Ratri Cahyarini, Yustiana, Hermawan Winata, dan Dian Rahma.

"Itulah situasi di Hotel Yamoto," kata salah seorang mahasiswa dalam suara yang terdengar dalam `game` itu ketika hendak memulai pertempuran seorang pahlawan Surabaya menumpas penjajah 1945.

Peristiwa di Hotel Yamato itu akhirnya mencapai puncak dengan terjadinya perobekan berdera merah putih biru, kemudian pertempuran di Jembatan Merah, sampai pertempuran 10 November yang menewaskan Brigjen AWS Mallaby.

Tidak hanya bermain, empat level dalam P10NER juga diselingi video-video perjuangan dan pertemburan yang terjadi di Surabaya dan Indonesia.

"Jadi, pengguna game edukasi itu akan mendapat hiburan, sekaligus mendapat pelajaran sejarah dengan cara yang menyenangkan," katanya.

Ia mengatakan "game" P10NER itu dirancang dalam waktu sekitar 2,5 bulan dengan menggunakan program bernama "FPS (First Person Shotting) Creator."

"Dengan program itu, pembuat game tidak perlu memulai dari nol. Semua rancangan bangunan tiga dimensi, tokoh dan senjata sudah ada dalam `software` itu. Tinggal memasukkan alur cerita, lalu drug and drop saja," katanya.

Menanggapi hal itu, dosen pembimbing mereka, Imam Kuswardayan SKom, berharap permainan "tembak-tembakan" karya mahasiswanya bisa dikenal masyarakat luas.

"Rencananya akan dipasarkan, tapi mungkin masih diperlukan tambahan di sana-sini. Semoga, P10NER bisa menjadi pelogpor game edukasi di Indonesia," katanya.

Ia menambahkan permainan P10NER akan dipamerkan dan dilombakan pada ajang GeMasTIK 2010 guna meramaikan kompetisi mahasiswa informatika se-Indonesia yang dijadwalkan berlangsung di Gedung Robotika ITS itu.(*)
(ANT/R009)

Senin, Oktober 04, 2010

Ternyata Allah Sayang Padaku

Sejenak aku terpekur melihat bayangan diriku didepan cermin. Berdiri dengan tubuh lengkap sempurna yang tak kurang barang apapun. Bahkan lengkap dengan balutan jilbab menutupi kepalaku. Member nilai tambah pada diriku yang kunilai sendiri.

Aku tercenung. Mengapa? Karena jilbab yang kukenakan saat ini adalah sesuatu yang istimewa. Yang tak banyak orang punya dan kenakan. Istimewa karena aku tahu apa istimewa dari serenade ini. Aku tahu keistimewaan gadis berjijbab.

Kembali aku teringat masa-masa yang kuanggap kelam tiga tahun yang lalu. Ketika aku –dengan keterpaksaan- masuk dalam lingkup pesantren dan menjadi bagian darinya. Tempat dimana aku dicekoki berbagai macam kajian-kajian yang aku pikir, apa sih ini..?!

Lagi-lagi aku terbawa ke masa itu. Masa dimana aku memberontak pada semua peraturan yang ada. Dilarang keluar pondok setelah adzan magrib. Tidak boleh keluar tanpa jilbab yang menutup sampai lengan, dan tidak boleh meniadakan jarak antara akhwat dan ikhwan. Aku berontak.

Tapi kini, aku tercenung. Aku baru menyadari betapa Allah menyayangiku. Betapa Dzat itu begitu sayang padaku sehingga member amanah pengalaman itu sehingga aku mengalaminya secara langsung. Aku sadar Sang Maha yang bergumul halus di lubug sukmaku itu membisikkan lantunan-lantunan yang selalu membimbingku, mengingatkanku, dan mendampingiku.

Jilbab yang kukenakan adalah symbol perwujudan penjagaanNya kepadaku. Dari pengaruh-pengaruh luar yang banyak merintangiku. Aku mengerti akhirnya seorang wanita dengan jilbab adalah suatu keindahan dan ketentraman saat orang lain emlihatnya.

Aku bangga menjadi wanita berjilbab. Aku bangga pernah sejenak menjadi santri. Aku bangga menyadari apa rahasia Allah memberi semua ini padaku..

Wanita dengan jilbab addlah keindahan..
Wannita dengan jilbab adalah keanggunan..
Wanita dengan jilbab adalah kekuatan..
Dan Wanita dengan jilbab adalah kepribadian..

Surabaya, 22 Juli 2010
11:39

Lagi-Lagi Aku Disana Dan Merasakannya

Bulu roma ku berdiri. Nafasku tercekat, tarikan nafas sejenak tertahan. Pandanganku mengabur oleh lapisan air di mataku. Lagi-lagi aku disini, diantara mereka. Wajah-wajah penuh kebahagiaan dan kebanggaan. Tapi bukan itu yang turut aku rasakan. Tapi justru ketakutan.

Sekali lagi aku berada dalam momen ini. Momen yang selalu terulang tiap dua tahun sekali. Momen yang sama namun berbeda. Karena aku hari ini berada langsung dalam ruang utama gedung itu. Bersatu dengan mereka yang bertoga.

Ya, lagi-lagi aku berada di prosesi wisuda. Momen yang dinantikan semua pejuang-pejuang ilmu, termasuk aku. Setelah sebelumnya aku hanya melihat mereka dari luar gedung, kini aku melihat sendiri didalamnya. Bahkan sampai aku merasa aku mengalaminya.

Semua begitu terasa hangat dan bahagia melihat wajah-wajah berseri di depanku. Mereka menebar senyum ke teman samping kanan kirinya. Berbagi cerita tentang rasa memakai toga yang panas, juga ulah unik menuliskan “Calon Orang Sukses Vivat ITS” di topi Toganya.

Sungguh satu perasaan yang bisa terucapkan dengan kata. Bagaimana jika aku sendiri yang mangalaminya. Akankah? Pasti. Kapan? Pasti sebentar lagi. Aku menjawab pertanyaan yang terlontar dari diriku sendiri.
Tak berhenti sampai disana. Aku mengangkat kepalaku dan melihat jajaran orang tua mahasiswa yang melihat dengan bangga anaknya menjabat tangan sang Tetua menerima ijazah bertuliskan Sarjana Teknik berpredikat Dengan Pujian atau bahkan Sangat Memuaskan.

Di sebuah sudut Grha tempatku berdiri, aku menangkap seorang Bapak berperawakan gagah memakai seragam angkatan Laut lengkap berdiri dengan tangan tersikap didada. Ada juga bapak-bapak berkacamata yang sudah lanjut usia. Juga Ibu-ibu yang tak lagi kuat berdiri, yang pasti sudah memoles wajahnya sejak tadi namun sedikit luntur. Wajahnya mereka sama-sama mengatakan “Itu anakku,”

Sama seperti yang kurasakan sejak aku pertama melihat orang-orang didepanku melepaskan predikat mahasiswanya. Aku tercenung. Akankah aku juga merasakannya kelak? Apakah kedua orang tuaku akan juga berdiri diatas tribun dan melihatku memakai toga, dengan Gordon dileher dan ijazah ditangan?

Apa aku akan juga mengalami berfoto ria dengan ayah ibuku, dua adikku dan kakakku? Apa aku akan mengalaminya? Apakah mereka  -orang tuaku- mengalami seperti halnya para orang tua yang sedang aku tatap ini? Aku tak sabar, ingin segera semua itu terjadi.

Mau tak mau aku harus mengakui aku trauma. Aku takut apa yang menimpa saudaraku juga menimpaku.
Aku tak mau. Tapi aku serasa sudah ada dalam area itu. Area ancaman yang berbahaya.
 
Orang Tak di Kenal dan Petuahnya
Bodoh. Mungkin itu yang akan kau katakan. Bodoh, kenapa takut dengan hal yang bahkan belum terjadi. tanpa terasa, bulir air mata itu akhirnya jatuh juga. Segera aku menghapusnya dan kembali focus untuk apa aku ada disini.

Aku keluar gedung untuk sejenak melepas kejengahan. Entah jalan Tuhan yang telah mengatur semua ini, aku terlibat obrolan ringan dengan salah seorang pengantar wisudawan. Seperti menjawab apa yang sedang berkemelut dalam pikiranku, ia memberi jawaban.

Awalnya ia bertanya, kapan wisudawan akan keluar gedung. Karena aku kebetulan tahu juklaknya, ya aku jawab saja jam 16.20. Lalu oborolan pun mengalir.

“Karena Mbak sudah menjawab pertanyaan saya, saya juga akan bawa oleh-oleh buat Mbak,” kata pria berkemeja rapi itu. Usianya kira-kira dua puluhan. Ia pekerja kantoran lulusan Teknik Informatika.

Ia mengomentari tentang penyambutan wisudawan yang disiapkan oleh tiap-tiap jurusan. Ia berkata, “Apa semua ini efisien?” katanya dengan nada biasa namun sarkatis. “Di dunia kerja, semua tak seperti yang kita dulu kira,” katanya melanjutkan.

Setelah aku gali, ternyata pria yang ternyata Hanif ini dulunya tidak pernah mengikuti kegiatan-kegiatan kemahaiswaan seperti ospek dan lain-lain. Ia seorang yang memegang kukuh ideologinnya.

Yang membuat aku tercenung adalah, “Yang harus mulai kita pegang adalah tiga Mbak,” katanya. Pertama, apa yang penting sekarang. Kedua Siapa yang penting sekarang. Dan Untuk apa yang ada pentingkan sekarang. “Semua harus efisien. Tapi tidak perlu dipikirkan sekarang. Jangan dianalisa, nanti juga mengerti sendiri,”

“Jangan takut melihat masa depan Mbak, Jalani saja apa adanya. Tapi bukan bererti pasrah,” katanya seperti membaca pikiranku.

Rabu, Agustus 11, 2010

Aku Dibalik BEM ITS 1011

BEM ITS 1011

 Pagi ini aku –akhirnya- melakukan sesuatu yang sudah ku tunggu sejak lama. Mencoret satu kalimat target yang terpampang di dinding kamar kosku. Target nomor empat. Masuk menjadi anggota fungsionaris BEM ITS. Harusnya jika ada emote eksppresi yang bisa di pajang di tulisan ini, emote yang ku pasang adalah wajah imut kuning yang menunjukkan deretan gigi lewat senyum yang lebar.

Semalam aku mendapat sms dari nomor asing yang mengucapkan selamat atas tergabungnya aku dalam anggota fungsionaris BEM ITS. Tanpa tahu siapa yang mengirim, aku tersenyum. Aku belum tahu dimana aku di tempatkan.

Acara Welcom Party diadakan keesokan paginya. Jam Sembilan tepat di  gedung SCC lantai satu. Entah kenapa aku berjalan lambat menuju lokasi dengan berbagai pikiran berkecamuk. Bagaimana aku melalui hari ini ya? Teman sejurusanku yang juga diterima tidak bisa hadir. Begitu juga dua orang lainnya.

Ada sedikit kekhawatriran tentang bagaimana aku sendirian disana di tengah-tengah seratus lebih mahasiswa yang bukan mahasiswa biasa, akankah aku bisa bersosialisasi dengan baik? Akankah aku menemukan teman yang pas dan sreg denganku? Dan akankah aku diterima di kementrian selain Medfo?

Lalu aku ingat puzzle peristiwa yang ku alami hari kemarin. Seorang mahasiswa, yang adalah anggota kementrian sosisal politik, yang sekaligus pula menjadi screenerku, menyapaku di gedung MWeb. Mas berkacamata itu, aku lupa namanya, menyuruhku datang besok untuk WP dengan menggunakan jaket himpunan jurusan.

Aku mengangguk sopan dengan menjawab “insyaallah” sembari tersenyum. Yang aku heran, Mas situ mengingat namaku sebagai “Fatima”. Aku mengerutkan kening. Aku rasa dia menyecreening banyak mahasiswa, kenapa masih ingat namaku? Bukannya GR, tapi aku tahu Mas itu dari kementrian Sospol. Apa aku diterima di kementrian Sospol?

Setelah sejam di gedung MWeb untuk rapat Kesma, aku ke jurusan menemui seniorku untuk mengambil jaket pinjaman guna WP besok. Disana ternyata aku juga bertemu dengan Kahima ku. Dia nyeletuk nggojloki diterimanya aku di BEM ITS. Hehe, nggak penting. Tapi lalu si Kahima ini berucap aku diterima di Kebijakan Publik atau tahun ini disebut Sospol. Hellow.. padahal, aku sempat khawatir si Kahima ini kemarin dalam surat rekomendasinya menyarankan agar aku dimasukkan di kementrian Medfo. I was Worried about it. I don’t wanna it anymore

Sebuah gebrakan aku nilai dengan masuknya aku di BEM ITS ini. Saat menuliskan targetan masuknya aku menjadi anggota fungsionaris BEM ITS, ada sedikit keraguan. Jumlah saingan pertama, lalu proses screening, dan nilai akademik pastinya yang menjadi momok, bagaimana kalau nilai IPKku sampai kacau dan jeblok.

Alhamdulillah masalah IPK terselesaikan karena IPkku masih di atas kisaran 3,00. Okey, meski sedikit turun disbanding dengan semester lalu. Yang lucu adalah proses screening kemarin. Aku yang pada dasarnya suka politik, bingung juga ketika ditanya apa perkembangan terbaru isu politik Indnesia. Dengan begonya aku menjawab masalah korupsi yang tak kunjung usai malah membludak dimanaa-mana.

Okey, tidak disalahkan memang. Tapi kemudian ada sesi simulasi yang mewajibkan agar para pendaftar melakukan orasi  kecil-kecilan sebagai wujud keseriusan. Sumpah, Aku  SAMA  sekali tidak tahu menahu tentang sesi ini. Pagi tadi aku berangkat dengan semangat menggebu-gebu tapi tanpa bekal. Semalam pun aku sibuk ngurusi laptop yang tiba-tiba minta dperhatikan lebih.

Kukumpulkan niatku dengan sepenuh-penuhnya. Aku mulai berdiri dan mengepalkan tangan ke atas. Berorasi menuntut hak-hak rakyat kecil dan pertanggungjawaban pemerintah atas hilangnya uang pajak senilai 24trilliun rupiah. Yang tak lain dimakan oleh dirjennya sendiri.
Satu kata, malu!!

Bodohnya Aku Saat Pengumuman Kementrian
Pengumuman kementrian diumumkan saat WP oleh menteri masing-masing. Tiap-tiap kementrian punya cara-cara unik mereka sendiri untuk mengumumkan staff-staff mereka. Ada yang satu-satu disebutkan ciri-ciri lalu yang merasa maju, ada yang disebutkan nama dan fotonya lalu maju, dan sebagainya.

Aku sedikit banyak yakin aku akan masuk kementrian Sospol, aku jadi konsen pada pengumuman staf kementrian ini saja. Bersama kedua orang temanku dari jurusan Teknik Fisika yang baru aku kenal tadi, aku memperhatikan. Dantuman music “Indonesia merah darahku, putih tulangku bersatu dengan semangatku..,” mengalun menggetarkan hatiku perlahan.

Semakin bertambah keyakinanku disini. Dan akhirnya nama-nama satf diumumkan lewat jajaran nama panggilan dalam slide yang berjalan cepat. Wait! Aku nggak bawa kacamata, aku menengok teman sebelahku. “Ada namaku nggak?” tanyaku. Dia ternyata juga tidak memperhatikan, malah ngobrol dengan teman sampingnya. Hellow, aku juga tak bisa menyalahkan. Dia juga sudah tahu dimana dia berposisi. PSDM dan satunya MEdfo.

Aku bingung sendiri. Tapi aku yakin namaku sempat tersebut lewat microphone yang bunyinya aneh tersebut. Tapi aku ragu untuk maju. Gila aja, kalau salah gimana. Lima orang staf sudah maju di depan meninggalkan aku. Aku tidak mungkin maju. Tanganku gemetar. Lalu aku berfikir, nantin saja di akhir acara aku akan tanya ke mbak-mbak dibelakang. Hhh….

Acara pertama pun selesai. Staf baru dipersilahkan meninggalkan SCC dan kembali nanti saat makan siang. Aku segera mengajak temanku tadi untuk bertanya ke mbak-mbak dibelakang.
“Mbak, aku kok tadi nggak di panggil ya?” tanyaku sambil meringis bego.
“Namanya siapa dek?” jawab mbak kerudung hitam. Aku bertanya pada mbak ini karena tadi aku melihat mbak sekmennya adalah berkerudung hitam.
“Ima mbak,”
“Kok bisa nggak tahu masuk kementrian mana? Tadi kan sudah disebutkan?”mbak itu bertanya heran.
“Iya mbak, tadi saya ngobrol sama teman saya, hhehe, jadi nggak ngeh dimana posisi saya, tapi kayaknya saya di sospol, soalnya tadi…,”
“Dek Ima y?” kalimatku terpotong oleh panggilan mbak berkerudung hitam lainnya, yang ini agak mungil. Aku mengangguk sopan. “Tadi kok nggak maju? Kamu ketrima di kementrian Sospol..,” katanya mengembangkan senyumku.
“Aku tadi nggak denger mbak.. maaf ya mbak..”
“Kamu tadi disebut paling pertama lho..,”

Jiaaah… dasar aku emang kebangetan. Begini nih kalau nggak pakai kacamata terus. Kelihatan kan begonya. Bego!
Dan diakhir acara rapat internal Sospol bersama mas yang menggilku Fatima, dia ternyata menteri Sospol, Mas RiCky. Mbak hamim, mbak kerudung hitam yang mungil itu menyalami ku.

“Hati-hati ya Dek Ima, yang sempet kehilangan Sospolnya..,” lagi-lagi aku hanya bisa meringis malu. ^_^’’

Surabaya, 17 Juli 2010

Kamis, Juli 01, 2010

FMIPA Bukan Anak Tiri



ITS seperti kepanjangannya Institut Teknologi Sepuluh November, adalah institut yang kental dan mengarah ke bidang keteknikan. Terbukti dengan jajaran Fakultas serta jurusan yang berbasis Teknologi. Tapi di sisi lain ITS punya fakultas MIPA, fakultas yang menjadi dasar ilmu keteknikan itu. Sayangnya MIPA malah dianggap anak tiri.

Saya tersentak mendengar salah satu rangkaian pembicaraan saya bersama salah satu dosen FMIPA baru-baru ini. Kurang lebih isinya seperti ini, saat itu topiknya adalah tentang berdirinya kombong Robot FMIPA, dosen ini salah satu nara sumber saya,

“Lho Bapak apa tidak ikut bergabung dengan peneliti di Pusat penelitian Rpbot di gedung baru itu, Pak?” tanya saya
“Halla, kayak nggak taw saya, kalau tidak diajak ngapain harus minta di ajak?” jawab Bapak itu sembari tertawa, ada sedikit getir disana. Lalu Bapak itu melanjutkan karena melihat dahi saya yang berkerut.
“Yaah, begitulah, masa juga nggak ngrasa kita ini dianggap kelas dua?” saya manggut-manggut.

Mengerti kemana arah pembicaraan itu. Fakultas MIPA memang sering banyak ketinggalan di banyak hal dibanding fakultas-fakultas lain. Prestasi-prestasinya pun begitu, minim dan kalaupun ada juga tak terekspos dan tidak digembar-gemborkan seperti halnnya fakultas-fakultas kelas satu. Yang tiap jurusannya menyandang dua kata, teknik bla bla bla.

Selepas wawancara pun kutipan di atas masih sesekali bergaung di telinga. Saya heran kenapa itu semua bis aterjadi. Kaluau di runut dari berdirinya FMIPA sendiri, memang kalah tua dibanding FTSP ataupun FTK. Tapi juga tak lebih muda dari FTIF yang baru lahir tahun 2001, sedang FMIPA saat itu sudah dua kali umur balita.

Lalu pikiran saya kembali mendebat, ya karena di MIPA kan nggak ada embel-embel Teknik. Secara ITS itu institus Teknik, makanya yang di prioritaskan berkembang adalah fakultas dan jurusan yang bernama depan tenik. Masuk akal tapi itu mungkin jawaban yang bodoh.

Lagi, kenapa MIPA selalu dipandang sebelah mata. Jawaban dari orang-orang atas akan begini, “Prsetasi akan membuatmu bernilai lebih,” semacam sindiran sarkatis. Maka mahasiswa MIPA akan menjawab, “Gimana bisa bikin prestasi kalau tidak diberi bimbingan lebih.

Dan percakapan saya dengan Pak Dosen itu menyadarkan bahwa dosen-dosennya pun merasa hal yang sama seperti mahasiswanya.

Teringat jelas bagaimana saat masa orientasi massal yang diselenggarakan BEM ITS beberapa waktu lalu. SOROT namanya. Pengkaderan bareng-bareng dari semua fakultas dan jurusan se ITS. Disana, saya, sebagai salah satu warga FMIPA merasa kan adanya jurang pemisaj antara yang berbau embel-embel Teknik dan Tidak.

Arogansi jelas ada di setiap jiwa-jiwa mereka, si kelas satu. Dengan bangganya menyebut nama jurusannya. Dan saya, juga teman-tema yang lain ketika menjawab saat berkenalan akan berisni ketika ditanya dari jurusan apa, “Fisika,” dan akan diimbuhi tanya “TekFis?” dan dengan jengah menambahi juga kata “MIPA,”.  Seperti mereka melupakan kalau juga ada jurusan Fisika di ITS bukan hanya teknik Fisika.
Kalu dibilang minder, tidak juga. Justru ingin rasanya membusungkan dada dengan ekspresi bangga atau menantang saat menyebutkan jurusan saya.. Dan sudah terlaksana juga, tapi tetap saja tidak bisa menghilangkan pandangan yan g seakan-akan merehkan itu.

Bicara masalah prestasi mahasiswanya, MIPA punya jagoan-jagoan juga yang tangguh. Fisika punya juara olimpiade tingkat nasionla, Matematika juga punya maahasiswa yang brangkat ke luar negeri utuk olimpiade internasionla. Guru besar juga ada, juga sampai menjadi pengajar di universitas luar negeri.

Lalu apa lagi? Mahasiswa bisnis? MIPA banyak, dari yang dagang roti keliling bahkan sampai dikelan seantero ITS, jual kain batik, sampai bisnis yang bekerjasama dengan perusahaan internasional pun ada. Lalu mengapa mata-mata diluar sana masih saja menganggap MIPA sebagai komunitas kelas dua yang hanya ada di bawah mereka yang kelas satu.

Semakin kesal saya saat melihat berita yang dimuat di halaman depan website ITS tentang Kombong Robot yang membawa saya menarikan jari-jari menulis artikel ini. Ada salah satu pengunjung yang mencoba mengometari salah satu club hobi di bidang Robotika itu.

“Naif, di sisi lain ada pusat robotika di ITS, tapi ujung2nya riset malah terkotak2 oleh organisasi kecil2 gini, apa sih susahnya bkerja sama, toh sama2 org Indonesia, sama2 berjuang,” begitu katanya.

Gemas rasanya tangan ini kepingin njitak.

Saya yakin kami semua, warga FMIPA, sama sekali tak butuh pengakuan untuk itu semua. Tapi yang terpenting adalah kami tidak ingin dipandang sebelah mata. Walau terdengar seperti ungkapan kegetiran, tidak mengapa asal masih ada yang mendengar.

Dan judul diatas sepatutnya begini “FMIPA Tidak Ingin Dianggap Anak Tiri”.