Selasa, Oktober 05, 2010

Beritaq "Dibajak" Antaranews, weeh

Mahasiswa ITS Rancang "Game Pertempuran 10 November"
04 Oktober 2010 08:51:40

Surabaya (ANTARA News) - Mahasiswa ITS Surabaya telah merancang "game" edukasi berlabel P10NER (Pertempuran 10 November) untuk menyemarakkan "Pagelaran Mahasiswa Teknologi Informasi dan Komunikasi" (GeMasTIK) 2010 di Surabaya pada 5-6 Oktober.


http://antaranews.com/berita/1286064290/mahasiswa-its-rancang-game-pertempuran-10-november - "Nama kampusnya saja Sepuluh Nopember, masak mahasiswanya tidak tahu sejarah namanya sendiri, karena itu kami pun merancang game saat liburan," kata mahasiswa Teknik Informatika ITS Felix Handani di Surabaya, Minggu.

Felix merupakan "Project Manager" P10NER yang berkapasitas satu "gigabyte" itu bersama tujuh rekannya, di antaranya Moh Mahrus Syamsur Rizal, Nurina Aisyah, Ratri Cahyarini, Yustiana, Hermawan Winata, dan Dian Rahma.

"Itulah situasi di Hotel Yamoto," kata salah seorang mahasiswa dalam suara yang terdengar dalam `game` itu ketika hendak memulai pertempuran seorang pahlawan Surabaya menumpas penjajah 1945.

Peristiwa di Hotel Yamato itu akhirnya mencapai puncak dengan terjadinya perobekan berdera merah putih biru, kemudian pertempuran di Jembatan Merah, sampai pertempuran 10 November yang menewaskan Brigjen AWS Mallaby.

Tidak hanya bermain, empat level dalam P10NER juga diselingi video-video perjuangan dan pertemburan yang terjadi di Surabaya dan Indonesia.

"Jadi, pengguna game edukasi itu akan mendapat hiburan, sekaligus mendapat pelajaran sejarah dengan cara yang menyenangkan," katanya.

Ia mengatakan "game" P10NER itu dirancang dalam waktu sekitar 2,5 bulan dengan menggunakan program bernama "FPS (First Person Shotting) Creator."

"Dengan program itu, pembuat game tidak perlu memulai dari nol. Semua rancangan bangunan tiga dimensi, tokoh dan senjata sudah ada dalam `software` itu. Tinggal memasukkan alur cerita, lalu drug and drop saja," katanya.

Menanggapi hal itu, dosen pembimbing mereka, Imam Kuswardayan SKom, berharap permainan "tembak-tembakan" karya mahasiswanya bisa dikenal masyarakat luas.

"Rencananya akan dipasarkan, tapi mungkin masih diperlukan tambahan di sana-sini. Semoga, P10NER bisa menjadi pelogpor game edukasi di Indonesia," katanya.

Ia menambahkan permainan P10NER akan dipamerkan dan dilombakan pada ajang GeMasTIK 2010 guna meramaikan kompetisi mahasiswa informatika se-Indonesia yang dijadwalkan berlangsung di Gedung Robotika ITS itu.(*)
(ANT/R009)

Senin, Oktober 04, 2010

Ternyata Allah Sayang Padaku

Sejenak aku terpekur melihat bayangan diriku didepan cermin. Berdiri dengan tubuh lengkap sempurna yang tak kurang barang apapun. Bahkan lengkap dengan balutan jilbab menutupi kepalaku. Member nilai tambah pada diriku yang kunilai sendiri.

Aku tercenung. Mengapa? Karena jilbab yang kukenakan saat ini adalah sesuatu yang istimewa. Yang tak banyak orang punya dan kenakan. Istimewa karena aku tahu apa istimewa dari serenade ini. Aku tahu keistimewaan gadis berjijbab.

Kembali aku teringat masa-masa yang kuanggap kelam tiga tahun yang lalu. Ketika aku –dengan keterpaksaan- masuk dalam lingkup pesantren dan menjadi bagian darinya. Tempat dimana aku dicekoki berbagai macam kajian-kajian yang aku pikir, apa sih ini..?!

Lagi-lagi aku terbawa ke masa itu. Masa dimana aku memberontak pada semua peraturan yang ada. Dilarang keluar pondok setelah adzan magrib. Tidak boleh keluar tanpa jilbab yang menutup sampai lengan, dan tidak boleh meniadakan jarak antara akhwat dan ikhwan. Aku berontak.

Tapi kini, aku tercenung. Aku baru menyadari betapa Allah menyayangiku. Betapa Dzat itu begitu sayang padaku sehingga member amanah pengalaman itu sehingga aku mengalaminya secara langsung. Aku sadar Sang Maha yang bergumul halus di lubug sukmaku itu membisikkan lantunan-lantunan yang selalu membimbingku, mengingatkanku, dan mendampingiku.

Jilbab yang kukenakan adalah symbol perwujudan penjagaanNya kepadaku. Dari pengaruh-pengaruh luar yang banyak merintangiku. Aku mengerti akhirnya seorang wanita dengan jilbab adalah suatu keindahan dan ketentraman saat orang lain emlihatnya.

Aku bangga menjadi wanita berjilbab. Aku bangga pernah sejenak menjadi santri. Aku bangga menyadari apa rahasia Allah memberi semua ini padaku..

Wanita dengan jilbab addlah keindahan..
Wannita dengan jilbab adalah keanggunan..
Wanita dengan jilbab adalah kekuatan..
Dan Wanita dengan jilbab adalah kepribadian..

Surabaya, 22 Juli 2010
11:39

Lagi-Lagi Aku Disana Dan Merasakannya

Bulu roma ku berdiri. Nafasku tercekat, tarikan nafas sejenak tertahan. Pandanganku mengabur oleh lapisan air di mataku. Lagi-lagi aku disini, diantara mereka. Wajah-wajah penuh kebahagiaan dan kebanggaan. Tapi bukan itu yang turut aku rasakan. Tapi justru ketakutan.

Sekali lagi aku berada dalam momen ini. Momen yang selalu terulang tiap dua tahun sekali. Momen yang sama namun berbeda. Karena aku hari ini berada langsung dalam ruang utama gedung itu. Bersatu dengan mereka yang bertoga.

Ya, lagi-lagi aku berada di prosesi wisuda. Momen yang dinantikan semua pejuang-pejuang ilmu, termasuk aku. Setelah sebelumnya aku hanya melihat mereka dari luar gedung, kini aku melihat sendiri didalamnya. Bahkan sampai aku merasa aku mengalaminya.

Semua begitu terasa hangat dan bahagia melihat wajah-wajah berseri di depanku. Mereka menebar senyum ke teman samping kanan kirinya. Berbagi cerita tentang rasa memakai toga yang panas, juga ulah unik menuliskan “Calon Orang Sukses Vivat ITS” di topi Toganya.

Sungguh satu perasaan yang bisa terucapkan dengan kata. Bagaimana jika aku sendiri yang mangalaminya. Akankah? Pasti. Kapan? Pasti sebentar lagi. Aku menjawab pertanyaan yang terlontar dari diriku sendiri.
Tak berhenti sampai disana. Aku mengangkat kepalaku dan melihat jajaran orang tua mahasiswa yang melihat dengan bangga anaknya menjabat tangan sang Tetua menerima ijazah bertuliskan Sarjana Teknik berpredikat Dengan Pujian atau bahkan Sangat Memuaskan.

Di sebuah sudut Grha tempatku berdiri, aku menangkap seorang Bapak berperawakan gagah memakai seragam angkatan Laut lengkap berdiri dengan tangan tersikap didada. Ada juga bapak-bapak berkacamata yang sudah lanjut usia. Juga Ibu-ibu yang tak lagi kuat berdiri, yang pasti sudah memoles wajahnya sejak tadi namun sedikit luntur. Wajahnya mereka sama-sama mengatakan “Itu anakku,”

Sama seperti yang kurasakan sejak aku pertama melihat orang-orang didepanku melepaskan predikat mahasiswanya. Aku tercenung. Akankah aku juga merasakannya kelak? Apakah kedua orang tuaku akan juga berdiri diatas tribun dan melihatku memakai toga, dengan Gordon dileher dan ijazah ditangan?

Apa aku akan juga mengalami berfoto ria dengan ayah ibuku, dua adikku dan kakakku? Apa aku akan mengalaminya? Apakah mereka  -orang tuaku- mengalami seperti halnya para orang tua yang sedang aku tatap ini? Aku tak sabar, ingin segera semua itu terjadi.

Mau tak mau aku harus mengakui aku trauma. Aku takut apa yang menimpa saudaraku juga menimpaku.
Aku tak mau. Tapi aku serasa sudah ada dalam area itu. Area ancaman yang berbahaya.
 
Orang Tak di Kenal dan Petuahnya
Bodoh. Mungkin itu yang akan kau katakan. Bodoh, kenapa takut dengan hal yang bahkan belum terjadi. tanpa terasa, bulir air mata itu akhirnya jatuh juga. Segera aku menghapusnya dan kembali focus untuk apa aku ada disini.

Aku keluar gedung untuk sejenak melepas kejengahan. Entah jalan Tuhan yang telah mengatur semua ini, aku terlibat obrolan ringan dengan salah seorang pengantar wisudawan. Seperti menjawab apa yang sedang berkemelut dalam pikiranku, ia memberi jawaban.

Awalnya ia bertanya, kapan wisudawan akan keluar gedung. Karena aku kebetulan tahu juklaknya, ya aku jawab saja jam 16.20. Lalu oborolan pun mengalir.

“Karena Mbak sudah menjawab pertanyaan saya, saya juga akan bawa oleh-oleh buat Mbak,” kata pria berkemeja rapi itu. Usianya kira-kira dua puluhan. Ia pekerja kantoran lulusan Teknik Informatika.

Ia mengomentari tentang penyambutan wisudawan yang disiapkan oleh tiap-tiap jurusan. Ia berkata, “Apa semua ini efisien?” katanya dengan nada biasa namun sarkatis. “Di dunia kerja, semua tak seperti yang kita dulu kira,” katanya melanjutkan.

Setelah aku gali, ternyata pria yang ternyata Hanif ini dulunya tidak pernah mengikuti kegiatan-kegiatan kemahaiswaan seperti ospek dan lain-lain. Ia seorang yang memegang kukuh ideologinnya.

Yang membuat aku tercenung adalah, “Yang harus mulai kita pegang adalah tiga Mbak,” katanya. Pertama, apa yang penting sekarang. Kedua Siapa yang penting sekarang. Dan Untuk apa yang ada pentingkan sekarang. “Semua harus efisien. Tapi tidak perlu dipikirkan sekarang. Jangan dianalisa, nanti juga mengerti sendiri,”

“Jangan takut melihat masa depan Mbak, Jalani saja apa adanya. Tapi bukan bererti pasrah,” katanya seperti membaca pikiranku.

Rabu, Agustus 11, 2010

Aku Dibalik BEM ITS 1011

BEM ITS 1011

 Pagi ini aku –akhirnya- melakukan sesuatu yang sudah ku tunggu sejak lama. Mencoret satu kalimat target yang terpampang di dinding kamar kosku. Target nomor empat. Masuk menjadi anggota fungsionaris BEM ITS. Harusnya jika ada emote eksppresi yang bisa di pajang di tulisan ini, emote yang ku pasang adalah wajah imut kuning yang menunjukkan deretan gigi lewat senyum yang lebar.

Semalam aku mendapat sms dari nomor asing yang mengucapkan selamat atas tergabungnya aku dalam anggota fungsionaris BEM ITS. Tanpa tahu siapa yang mengirim, aku tersenyum. Aku belum tahu dimana aku di tempatkan.

Acara Welcom Party diadakan keesokan paginya. Jam Sembilan tepat di  gedung SCC lantai satu. Entah kenapa aku berjalan lambat menuju lokasi dengan berbagai pikiran berkecamuk. Bagaimana aku melalui hari ini ya? Teman sejurusanku yang juga diterima tidak bisa hadir. Begitu juga dua orang lainnya.

Ada sedikit kekhawatriran tentang bagaimana aku sendirian disana di tengah-tengah seratus lebih mahasiswa yang bukan mahasiswa biasa, akankah aku bisa bersosialisasi dengan baik? Akankah aku menemukan teman yang pas dan sreg denganku? Dan akankah aku diterima di kementrian selain Medfo?

Lalu aku ingat puzzle peristiwa yang ku alami hari kemarin. Seorang mahasiswa, yang adalah anggota kementrian sosisal politik, yang sekaligus pula menjadi screenerku, menyapaku di gedung MWeb. Mas berkacamata itu, aku lupa namanya, menyuruhku datang besok untuk WP dengan menggunakan jaket himpunan jurusan.

Aku mengangguk sopan dengan menjawab “insyaallah” sembari tersenyum. Yang aku heran, Mas situ mengingat namaku sebagai “Fatima”. Aku mengerutkan kening. Aku rasa dia menyecreening banyak mahasiswa, kenapa masih ingat namaku? Bukannya GR, tapi aku tahu Mas itu dari kementrian Sospol. Apa aku diterima di kementrian Sospol?

Setelah sejam di gedung MWeb untuk rapat Kesma, aku ke jurusan menemui seniorku untuk mengambil jaket pinjaman guna WP besok. Disana ternyata aku juga bertemu dengan Kahima ku. Dia nyeletuk nggojloki diterimanya aku di BEM ITS. Hehe, nggak penting. Tapi lalu si Kahima ini berucap aku diterima di Kebijakan Publik atau tahun ini disebut Sospol. Hellow.. padahal, aku sempat khawatir si Kahima ini kemarin dalam surat rekomendasinya menyarankan agar aku dimasukkan di kementrian Medfo. I was Worried about it. I don’t wanna it anymore

Sebuah gebrakan aku nilai dengan masuknya aku di BEM ITS ini. Saat menuliskan targetan masuknya aku menjadi anggota fungsionaris BEM ITS, ada sedikit keraguan. Jumlah saingan pertama, lalu proses screening, dan nilai akademik pastinya yang menjadi momok, bagaimana kalau nilai IPKku sampai kacau dan jeblok.

Alhamdulillah masalah IPK terselesaikan karena IPkku masih di atas kisaran 3,00. Okey, meski sedikit turun disbanding dengan semester lalu. Yang lucu adalah proses screening kemarin. Aku yang pada dasarnya suka politik, bingung juga ketika ditanya apa perkembangan terbaru isu politik Indnesia. Dengan begonya aku menjawab masalah korupsi yang tak kunjung usai malah membludak dimanaa-mana.

Okey, tidak disalahkan memang. Tapi kemudian ada sesi simulasi yang mewajibkan agar para pendaftar melakukan orasi  kecil-kecilan sebagai wujud keseriusan. Sumpah, Aku  SAMA  sekali tidak tahu menahu tentang sesi ini. Pagi tadi aku berangkat dengan semangat menggebu-gebu tapi tanpa bekal. Semalam pun aku sibuk ngurusi laptop yang tiba-tiba minta dperhatikan lebih.

Kukumpulkan niatku dengan sepenuh-penuhnya. Aku mulai berdiri dan mengepalkan tangan ke atas. Berorasi menuntut hak-hak rakyat kecil dan pertanggungjawaban pemerintah atas hilangnya uang pajak senilai 24trilliun rupiah. Yang tak lain dimakan oleh dirjennya sendiri.
Satu kata, malu!!

Bodohnya Aku Saat Pengumuman Kementrian
Pengumuman kementrian diumumkan saat WP oleh menteri masing-masing. Tiap-tiap kementrian punya cara-cara unik mereka sendiri untuk mengumumkan staff-staff mereka. Ada yang satu-satu disebutkan ciri-ciri lalu yang merasa maju, ada yang disebutkan nama dan fotonya lalu maju, dan sebagainya.

Aku sedikit banyak yakin aku akan masuk kementrian Sospol, aku jadi konsen pada pengumuman staf kementrian ini saja. Bersama kedua orang temanku dari jurusan Teknik Fisika yang baru aku kenal tadi, aku memperhatikan. Dantuman music “Indonesia merah darahku, putih tulangku bersatu dengan semangatku..,” mengalun menggetarkan hatiku perlahan.

Semakin bertambah keyakinanku disini. Dan akhirnya nama-nama satf diumumkan lewat jajaran nama panggilan dalam slide yang berjalan cepat. Wait! Aku nggak bawa kacamata, aku menengok teman sebelahku. “Ada namaku nggak?” tanyaku. Dia ternyata juga tidak memperhatikan, malah ngobrol dengan teman sampingnya. Hellow, aku juga tak bisa menyalahkan. Dia juga sudah tahu dimana dia berposisi. PSDM dan satunya MEdfo.

Aku bingung sendiri. Tapi aku yakin namaku sempat tersebut lewat microphone yang bunyinya aneh tersebut. Tapi aku ragu untuk maju. Gila aja, kalau salah gimana. Lima orang staf sudah maju di depan meninggalkan aku. Aku tidak mungkin maju. Tanganku gemetar. Lalu aku berfikir, nantin saja di akhir acara aku akan tanya ke mbak-mbak dibelakang. Hhh….

Acara pertama pun selesai. Staf baru dipersilahkan meninggalkan SCC dan kembali nanti saat makan siang. Aku segera mengajak temanku tadi untuk bertanya ke mbak-mbak dibelakang.
“Mbak, aku kok tadi nggak di panggil ya?” tanyaku sambil meringis bego.
“Namanya siapa dek?” jawab mbak kerudung hitam. Aku bertanya pada mbak ini karena tadi aku melihat mbak sekmennya adalah berkerudung hitam.
“Ima mbak,”
“Kok bisa nggak tahu masuk kementrian mana? Tadi kan sudah disebutkan?”mbak itu bertanya heran.
“Iya mbak, tadi saya ngobrol sama teman saya, hhehe, jadi nggak ngeh dimana posisi saya, tapi kayaknya saya di sospol, soalnya tadi…,”
“Dek Ima y?” kalimatku terpotong oleh panggilan mbak berkerudung hitam lainnya, yang ini agak mungil. Aku mengangguk sopan. “Tadi kok nggak maju? Kamu ketrima di kementrian Sospol..,” katanya mengembangkan senyumku.
“Aku tadi nggak denger mbak.. maaf ya mbak..”
“Kamu tadi disebut paling pertama lho..,”

Jiaaah… dasar aku emang kebangetan. Begini nih kalau nggak pakai kacamata terus. Kelihatan kan begonya. Bego!
Dan diakhir acara rapat internal Sospol bersama mas yang menggilku Fatima, dia ternyata menteri Sospol, Mas RiCky. Mbak hamim, mbak kerudung hitam yang mungil itu menyalami ku.

“Hati-hati ya Dek Ima, yang sempet kehilangan Sospolnya..,” lagi-lagi aku hanya bisa meringis malu. ^_^’’

Surabaya, 17 Juli 2010

Kamis, Juli 01, 2010

FMIPA Bukan Anak Tiri



ITS seperti kepanjangannya Institut Teknologi Sepuluh November, adalah institut yang kental dan mengarah ke bidang keteknikan. Terbukti dengan jajaran Fakultas serta jurusan yang berbasis Teknologi. Tapi di sisi lain ITS punya fakultas MIPA, fakultas yang menjadi dasar ilmu keteknikan itu. Sayangnya MIPA malah dianggap anak tiri.

Saya tersentak mendengar salah satu rangkaian pembicaraan saya bersama salah satu dosen FMIPA baru-baru ini. Kurang lebih isinya seperti ini, saat itu topiknya adalah tentang berdirinya kombong Robot FMIPA, dosen ini salah satu nara sumber saya,

“Lho Bapak apa tidak ikut bergabung dengan peneliti di Pusat penelitian Rpbot di gedung baru itu, Pak?” tanya saya
“Halla, kayak nggak taw saya, kalau tidak diajak ngapain harus minta di ajak?” jawab Bapak itu sembari tertawa, ada sedikit getir disana. Lalu Bapak itu melanjutkan karena melihat dahi saya yang berkerut.
“Yaah, begitulah, masa juga nggak ngrasa kita ini dianggap kelas dua?” saya manggut-manggut.

Mengerti kemana arah pembicaraan itu. Fakultas MIPA memang sering banyak ketinggalan di banyak hal dibanding fakultas-fakultas lain. Prestasi-prestasinya pun begitu, minim dan kalaupun ada juga tak terekspos dan tidak digembar-gemborkan seperti halnnya fakultas-fakultas kelas satu. Yang tiap jurusannya menyandang dua kata, teknik bla bla bla.

Selepas wawancara pun kutipan di atas masih sesekali bergaung di telinga. Saya heran kenapa itu semua bis aterjadi. Kaluau di runut dari berdirinya FMIPA sendiri, memang kalah tua dibanding FTSP ataupun FTK. Tapi juga tak lebih muda dari FTIF yang baru lahir tahun 2001, sedang FMIPA saat itu sudah dua kali umur balita.

Lalu pikiran saya kembali mendebat, ya karena di MIPA kan nggak ada embel-embel Teknik. Secara ITS itu institus Teknik, makanya yang di prioritaskan berkembang adalah fakultas dan jurusan yang bernama depan tenik. Masuk akal tapi itu mungkin jawaban yang bodoh.

Lagi, kenapa MIPA selalu dipandang sebelah mata. Jawaban dari orang-orang atas akan begini, “Prsetasi akan membuatmu bernilai lebih,” semacam sindiran sarkatis. Maka mahasiswa MIPA akan menjawab, “Gimana bisa bikin prestasi kalau tidak diberi bimbingan lebih.

Dan percakapan saya dengan Pak Dosen itu menyadarkan bahwa dosen-dosennya pun merasa hal yang sama seperti mahasiswanya.

Teringat jelas bagaimana saat masa orientasi massal yang diselenggarakan BEM ITS beberapa waktu lalu. SOROT namanya. Pengkaderan bareng-bareng dari semua fakultas dan jurusan se ITS. Disana, saya, sebagai salah satu warga FMIPA merasa kan adanya jurang pemisaj antara yang berbau embel-embel Teknik dan Tidak.

Arogansi jelas ada di setiap jiwa-jiwa mereka, si kelas satu. Dengan bangganya menyebut nama jurusannya. Dan saya, juga teman-tema yang lain ketika menjawab saat berkenalan akan berisni ketika ditanya dari jurusan apa, “Fisika,” dan akan diimbuhi tanya “TekFis?” dan dengan jengah menambahi juga kata “MIPA,”.  Seperti mereka melupakan kalau juga ada jurusan Fisika di ITS bukan hanya teknik Fisika.
Kalu dibilang minder, tidak juga. Justru ingin rasanya membusungkan dada dengan ekspresi bangga atau menantang saat menyebutkan jurusan saya.. Dan sudah terlaksana juga, tapi tetap saja tidak bisa menghilangkan pandangan yan g seakan-akan merehkan itu.

Bicara masalah prestasi mahasiswanya, MIPA punya jagoan-jagoan juga yang tangguh. Fisika punya juara olimpiade tingkat nasionla, Matematika juga punya maahasiswa yang brangkat ke luar negeri utuk olimpiade internasionla. Guru besar juga ada, juga sampai menjadi pengajar di universitas luar negeri.

Lalu apa lagi? Mahasiswa bisnis? MIPA banyak, dari yang dagang roti keliling bahkan sampai dikelan seantero ITS, jual kain batik, sampai bisnis yang bekerjasama dengan perusahaan internasional pun ada. Lalu mengapa mata-mata diluar sana masih saja menganggap MIPA sebagai komunitas kelas dua yang hanya ada di bawah mereka yang kelas satu.

Semakin kesal saya saat melihat berita yang dimuat di halaman depan website ITS tentang Kombong Robot yang membawa saya menarikan jari-jari menulis artikel ini. Ada salah satu pengunjung yang mencoba mengometari salah satu club hobi di bidang Robotika itu.

“Naif, di sisi lain ada pusat robotika di ITS, tapi ujung2nya riset malah terkotak2 oleh organisasi kecil2 gini, apa sih susahnya bkerja sama, toh sama2 org Indonesia, sama2 berjuang,” begitu katanya.

Gemas rasanya tangan ini kepingin njitak.

Saya yakin kami semua, warga FMIPA, sama sekali tak butuh pengakuan untuk itu semua. Tapi yang terpenting adalah kami tidak ingin dipandang sebelah mata. Walau terdengar seperti ungkapan kegetiran, tidak mengapa asal masih ada yang mendengar.

Dan judul diatas sepatutnya begini “FMIPA Tidak Ingin Dianggap Anak Tiri”.

Kamis, Maret 18, 2010

Mata Tuhan Memandangi Dunia dari 700 Tahun Cahaya

Kamis, 26 Februari 2009 | 09:23 WIB
Mata Tuhan yang juga dikenal dengan sebutan Helix Nebula berukuran sangat besar sehingga membutuhkan pantulan cahaya selama 2 setengah tahun untuk mengitarinya.
Para ilmuwan menyebut gambar bintang yang berhasil ditangkap oleh sebuah teleskop raksasa di pegunungan Chili ini Mata Tuhan. Mata Tuhan atau dikenal juga dengan sebutan Helix Nebula memandang bumi jauh dari ruang angkasa atau mencapai sekitar 700 tahun cahaya.

Helix Nebula menyerupai bola mata berwarna biru dan dihiasi warna putih serta kelopak berwarna merah muda. Kumpulan warna tersebut terbentuk oleh lapisan gas dan debu yang diterbangkan serta dipancarkan oleh bintang yang akan berakhir masa hidupnya dalam kurun ribuan tahun mendatang. Matahari juga diperkirakan akan bernasib serupa dengan bintang ini kendati tidak dalam waktu 5 miliar tahun.

Helix Nebula terletak pada konstelasi Aquarius dan dapat diamati oleh astronom amatir dengan menggunakan teleskop biasa walaupun tampak redup gambarnya. Menempati sebuah wilayah di langit dengan ukurannya yang mencapai separuh dari bulan purnama, Helix Nebula berukuran sangat besar sehingga dibutuhkan pantulan cahaya dua setengah tahun untuk mengitarinya.

Kabut Nebula Berbentuk Kelelawar Angkasa

Kamis, 4 Maret 2010 | 13:30 WIB

KOMPAS.com — Sebuah foto kabut nebula yang tersembunyi di dekat gugus bintang Orion memperlihatkan bentuk seperti seekor kelelawar sedang membentangkan sayapnya akibat pancaran gas yang muncul dari pusatnya.

Adalah bintang-bintang di Orion yang memancarkan cahaya dan angin kuat sehingga menghasilkan bentuk unik yang kemudian dinamai NGC 1788 itu. Lingkungan yang amat dinamis tersebut membantu terbentuknya ”rahim perbintangan”, tempat bintang-bintang dilahirkan.

NGC 1788 adalah sebuah nebula pantul di mana gas dan debu memantulkan cahaya dari gugusan bintang-bintang muda. Hasilnya berupa bentuk gas bercahaya, seperti kelelawar mengembangkan sayapnya.

Foto yang diambil menggunakan teleskop MPG/ESO 2,2 meter milik Observatorium La Silla European Southern Observatory di Cile tersebut diumumkan Selasa (3/3/2010).

Bintang-bintang raksasa di Orion diyakini menjadi penyebab pancaran gas hidrogen di nebula yang tampak sebagai garis merah nyaris vertikal di sebelah kiri foto.Sedikit saja bintang yang menjadi bagian nebula itu terlihat dalam foto karena sebagian besar tertutup debu raksasa di sekitarnya. Bintang paling jelas, HD 293815, terlihat di bagian atas kabut, sedikit dekat pusat nebula.

Hampir semua bintang di wilayah itu masih sangat muda, dengan usia rata-rata hanya jutaan tahun. Usia yang amat muda dibandingkan umur Matahari yang sekitar 4,5 miliar tahun.

Minggu, Maret 14, 2010

Diantara Para Wisudawan


Suara janji wisudawan menggema seantero Grha Sepuluh Novemmber. Mengucapkan janji suci sebagai lulusan terdidik ITS Surabaya. Jantung ini berdesir halus, dengan satu angan, "Kapan ya aku mengucapkan sumpah itu?". Bagaimana tidak, hari ini Minggu (14/3) saya deberi mandat meliput acara wisuda ITS yang keseratus.

Bejubel keluarga datang memenuhi kursi-kursi undangan di lantai dua. Terpancar jelas di masing-masing wajah itu, KEBANGGAAN. Pikir saya pun melayang menuju orang tua saya di kampung Padangasri, Mojokerto. Pasti mereka juga sudah tidak sabar menunggu tiga tahun lagi untuk juga melihat saya berbalut toga dan kalung emas itu. Sembari maju berjabat tangan dengan sang rektor.

Desiran semakin tertabuh ketika saya keluar gedung dan menyaksikan beragam aksi penyambutan wisudawan. Satu yang unuik dari jurusan Desain Produk (Despro). Dengan berbaju ala warga betawi, lengkap dengan topeng ondel-ondel, mereka menabuh samroh dan bersalawatan tepat saat para wisudawan turun dari Grha. Hmmmm rasanya sudah tidak sabar.

Terutama saat melihat satu per satu keluarga berfoto bersama anak ataupun saudaranya. Dari keluarga yang hanya dua orang tiga orang, sampai yang sampai membawa bis bernomor polisi AE. Lucunya penumpang mini bus AE tersebut menggelar tikar di bawah pintu mobil sembari tiduran menunggu wisudawan keluar gedung. 

Senyum itu sarat kebahagiaan yang tak terperih. Salah satu rekan kerja ITS Online, yang akrab saya sapa Mas Haniv Santoso, keluyuran dari satu tempat ke tempat lain mengajak setiap orang yang ditemui untuk berfoto. Waaahhh mas haniv bikin saya mekin pengen ndang pake baju toga sekaligus map berisi pengukuhan sarjananya.

Senada dengan Maz Haniv, Mas Emal Zain MTB, juga menjadi the one hari ini. Pria yang baru saja melepas jabatan Korlip ITS Online ini pun sama sumringahnya. Pamer topi toga dan  ijasah. Baiknya, dua senior saya ini bermurah hati meminjamkan topi dan kalung mereka untuk dipakai saya, esy, dan kl, untuk sekedar foto geje. 

Satu momen ketika saya ditinggal sendiri untuk mencari angle berita, saya berputar-putar mencari nara sumber yang pas. Saya bertemu dengan wisudawan yang sedang berfoto dengan pria tua dan berbaju lusuh. Yang saya tangkap dari orang tersebut, ia sangat tidak peduli dengan penampilannya kala itu. Yang penting datang di acara wisuda anak saya, mungkin kurang lebih seperti itu. 

Begitu  juga sang wisudawan, yang saya yakin adalah anaknya. Dengan penuh tawadduk ia mencium tangan pria tua itu, dan terlihat butir air nata yang menetes dari matanya. Subhanallah, saya jadi sampai ikut terharu.

satu lecutan dari lubuk hati saya,,,,,,Jangan tunggu waktu lama lagi untuk segera membuat orang tua saya untuk merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan orang tua tadi.....

 


Selasa, Maret 09, 2010

Memoriable Time in Physics "Praktikum Fisdas"

Hari Rabu sore adalah hari yang paling berat dalam putaran tujuh kali dua puluh empat jam. Khusus mahasiswa Fisika. Kenapa?. Hal ini dikarenakan adanya satu mata kuliah dengan bobot satu SKS yang mengalahkan bahkan empat SKS. Praktikum Fisika Dasar.

Praktikum yang dilakukan sebenarnya sederhana. Hanya berkutat tentang materi gerak benda, kelembaman, arus listrik, maupun panas atau termal. Yang menjadi seolah-olah praktikum ini lima SKS adalah Jurnal untuk praktikum hari tersebut, sekaligus LAPRES (Laporan Resmi) hasil dari praktikum minggu lalu. 

Bahkan tak jarang mahasiswa baik dari jurusan Fisika sendiri maupun yang lain mengorbankan kuliahnya demi mengerjakan lapres.
Sedihnya, Lapres yang pastinya sudah dikerjakan semalam suntuk bisa saja langsung kena coret dan REVISI. Tidak tanggung-tanggung, laporan yang harus ditulis tangan itu dicoret satu halaman penuh, sehingga praktikan mau tidak mau harus menulis kembali laporannya.

Mengenaskan.