Jumat, Juli 04, 2014

Adzan Masjid Rahmat Jadi Patokan Se Surabaya dan Jatim

masjid Rahmat Surabaya
Istiqomah Menjaga Waktu Sholat Tepat Waktu
Saat yang paling ditunggu-tunggu di bulan suci Ramadhan adalah suara adzan magrib. Berkumandangnya adzan ini menjadi tanda kemenangan usai sehari penuh melawan hawa nafsu berupa lapar dan juga dahaga. Namun, sudah tahukah pembaca bahwa yang menjadi pusat standar adzan di Surabaya dan juga Jawa Timur adalah salah satu masjid tertua di Surabaya, yaitu Masjid Rahmat.

Masjid yang didirikan oleh Raden Rahmat atau Sunan Ampel ini sudah ada sejak jaman Majapahit, namun baru dibagun ulang tahun 1967. Dua tahun setelah berderi, masjid yang berlokasi di Kembang Kuning ini memndirikan pemancar radio  yang diberi nama Yasmara.Melalui radio inilah, takmir masjid dan yayasan Masjid Rahmat konsen untuk menjaga waktu sholat dan jugs syiar agama Islam.

Nah, di bulan Ramadhan begini, banyak media yang menyambangi masjid ini guna mencocokkan jadwal waktu adzan sholat dan juga waktu imsak. Seperti TVRI, SCTV, TV9, JTV, dan sejumlah radio lain. “Kami sudah jadi rujukan sejak sejak tahun 1970, kami dianggap yang palin istiqomah menjaga waktu sholat dengan mengumandangkan adzan tepat waktu,” ujar Ketua Yayasan Masjid Rahmat Mansyur saat disambangi tim Radar Surabaya kemarin (28/6) pagi. Dirinya menuturkan bahwa siaran dari radio Yasmara ini kemudian dijadikan barometer kumandang adzan di Surabaya.

Hampir setiap masjid di Surabaya memakai patokan adzan dari masjid Rahmat. Setiap menjelang adzan, radio Yasmara selalu menyiarkan syiir tanpo waton milik Gus Dur. Baru setelah itu dilanjutkan dengan bacaan Alquran oleh Syekh Mahmud Al-Khusairi sebelum adzan.

Serangkaian siaran ini yang biasanya juga dikumandangkan melalui speaker di surau-surau ataupun masjid-masjid di penjuru Surabaya. Hingga saat radio Yasmara mengumandangkan adzan dari Masjid Rahmat, maka masing-masing masjid pun mengumandangkan adzannya masing-masing. “Kalau kami belum adzan, biasanya masjid yang lain belum berani adzan. Bahkan meski di TV sudah adzan, kalau Yasmara belum adzan, banyak yang belum berani berbuka,” urainya.

Dijadikan patokan jadwal sholat dan imsak, Masjid Rahmat bukan tanpa dasar menentukan standar waktunya. Melainkan setiap harinya, Yasmara selalu melakukan pencocokan waktu di dinas Kominfo RI melalui layanan telepon 103. Dijelaskan Mansyur, setiap hari waktu bisa berbeda. Kadang melambat kdang juga semakin cepat. Oleh sebab itu, setiap hari harus dikalibrasi standar waktunya. Begitu juga dengan jadwal sholat, radio Yasmara ini secara langsung mendapatkan jadwal dari Kantor wilayah Kementerian Agama Jawa timur.

Rupanya, kumandang adzan dari Masjid Rahmat yang juga mengudara melalui radio Yasmara tidak hanya dijadikan patokan warga Surabaya saja. Melainkan juga kota lain di Jawa Timur. Mulai dari Madura, Gresik, Lamongan, Tuban dan Bojonegoro. Hal ini lantaran radio Yasmara yang mengudara di saluran amplitude modulation (AM) membuat jangkauan radio ini luas dan diterima di daerah pesisir.“Kami bangga bisa dijadikan barometer, ini tandanya keistiqomahan memang membuat hasil yang tidak sia-sia. Ya seperti orang yang panan, nggak tahu nya sudah banyak pengikutnya,” ujarnya. 

Untuk menemani para pendengarnya, radio Yasmara pun sudah menyusun serangkaian progam yang dikemas dalam Sahara Ramadhan. Program tersebut dimulai sejak pukul 12.00 dengan diisi dengan ceramah kitab Al-Hikam. Kemadian dialnjutkan dengan siraman rohani dan berlanjut dengan siaran untuk menemani makan sahur.

Untuk sore harinya, mulai pukul 16.00, radio ini pun menyiarkan tadarusan warga setempat dan juga sholawatan. Tidak rampung sampai disitu, sebelum rangkaian adzan dikumandangkan juga ada kuliah tujum menit sebagai siraman rohani sebelum berbuka puasa.

Mansyur menuturkan karena masjid rahmat dan juga radio Yasmara konsisten dalam menyebarkan syiar agama Islam, baru baru ini mereka memperoleh penghargaan dari NU wilayah Jatim. “Tahun ini masjid Rahmat memperoleh penghargaan dari NU wilayah Jatim sebagaimasjid penegak ahlusshunnah wal jamaah (aswaja),” ujarnya.

Dengan menjadi barometer di Surabaya dan Jawa Timur membuat yayasan semakin konsen untuk menjaga kualitas pergerakan syiar Islam. Dijelasnkan Masnsyu bahwa sejauh ini radio Yasmara hanya memiliki 6 kru. Namun. hal tersebut tidak menghalangi mereka untuk terus mengumandangkan pesan-pesan kebaikan pada para pendengarnya. “Karena banyak yang mendengarkan justru membuat kami terpacu untuk menyajikan yang terbaik,” pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan oleh salah seorang penyiar radio Yasmara Syahrul Hidayat. Dirinya menuturkan bahwa kalau bulan Ramadhan atensi dari pendengar memang meningkat pesat. “Atensi dari pendengar menngkat. Jadi walupun tengah malam siaran juga rasanya tidak sia-sia,” katanya. (ima) 

A side Story
Yaaa,,, liputan ke masjid satu ini sebenernya membawa saya ke tiga tahun yang lalu. Saya sempat ke masjid ini, yaa juga pas Ramadhan sih. Ikut ayah jadi imam di masjid ini. Dan itu jadi Ramadhan terakhir bersama ayah. Entahlah, bisa jadi itu firasat ya, Ayah jarang banget bawa keluarga ikut ceramah atau khutbah ke luar kota kecuali ada alasan khusus. Kadang yang diajak yang paling kecil. 

Dulu pas masih belum punya adik, saya suka di ajak sama ning is, atau pas sudah ada adek aziz dan rahman yang di ajak ya mereka. Kadang momennya juga nggak sembarangan. Misal pas ngimami idul fitri atau idul adha. Nah, ini ngimami tarawih di Masjid Rahmat kita semua diajak. 

Inget banget buka puasa di mobil, dan jamaah sama Ayah disini, rasanya adem. Ndengerin  bacaan tartil Ayah itu nggak ada duanya.... Semoga Ayah tenang di sana... Amin 

Selasa, Juni 10, 2014

Saat "Dewasa" Telah Tiba


satu lagi yang saya sadari bahwa semakin kita dewasa kita, permasalahan yang kita hadapi juga akan semakin kompleks. hmm, kompleks enggaknya sih tergantung kita nyikapinnya ya. tapi yang saya sadari, semakin saya dewasa, saya lebih banyak dihadapkan pada pilihan-pilihan penting. tentang hidup saya, dan tentang masa depan. hmm, biasanya saya cenderung nurut sama orang tua, apa kata beliau, itu saya nurut saja.
well, ternyata itu sedkit banyak membuat saya sedikit manja, menggantungkan keputusan pada orang lain dan nbggak berani ambil keputusan. 
tapi belakangan saya sadar itu sepenuhnya salah. 
saat ayah sudah nggak ada, barulah saya yang seperti tertohok sekali. saya menghadapi fase dimana saya harus memikirkan sendiri dan mumutuskan sendiri apa yang baik buat saya. dan  yang yang paling penting, bertanggung jawab atas keputusan itu dan siap mengambil segala resiko dan konsekuensi yang ada.

tapi ternyata kompleksitas tentang keputusan nggak sampai di sana. saya sadar sekarang, saya juga berperan dalam mengambil keputusan untuk adik-adik saya. dimana saya sadar bahwa saya sekarang sudah menjadi tetua yang sudah pantas nuturi adeik-adik dan juga memberii saran yang tepat. rasanya? galau. 
kadang saya takut dan dilema, apa yang saya sarankan, yang saya petuahkan akan membawa kebaikan bagi mereka, dan semacamnya.

seperti saat Aziz tiba-tiba ngajak bicara "Ning ima aku ambil kuliah apa? aku kuliah apa nggak?
atau adik Rahman yang suatu siang saat libur dari pondoknya menyerahkan brosur sekolah mualimin Tambak Beras ke saya. "Ning ima aku tak sekolah Mualimin ya SMA ku? tapi sekolahnya enam tahun?" well, saya tahu itu bukan hanya pertanyaan yang bisa selesai dengan dijawab ya atau  tidak. bnutuh pertimbangan. butuh pemikiran yang nggak cuman satu dua menit. 

beruntung saya punya ning yang yaa cukup komunikatif dan percaya dengan saya. bahwa di tengah kecamuk pincangnya sosok orang tua, dia selalu mengajak saya bermusyawarah dalam hal apapun.
ya, kami bukan lagi anak keciil yang sekedar berdiskusi nanti beli maianan apa. tapi lebih dari itu membicaerakan tentang jalan hidup adik-adik kami, dan juga membicarakan tentang jalan hidup saya. 

haha, ingin rasanya saya berteriak saya belum siap jadi dewasaa.. tapi kalau kita terus bertanya apa kita siap atau tidak, tentu kita akan sok pengecut menjawab kita tidak akan siap. 
tapi saya percaya waktu selalu membawa kita dalam kondisi yang tepat. mendewasakan kita tepat pada waktunya. 

untuk ning is, terima kasih telah mendampingi kami hingga kami bisa seperti ini,. sampai saya bisa sarjana. dan juga buat adik-adikku. kalian yang sabar ya, yang kuat. kami sebagai kakak, yakinlah, selalu ingin yang terbaik buat kalian. :)
dan untuk ibuk, selalu sehat ya buk, sehat selalu dan menyaksikan kami sukses dan membahagiakanmu. :)

Minggu, Mei 11, 2014

Because Graduation is Always Special





Dulu ketika maba di Jurusan Fisika FMIPA ITS Surabaya, saya bahkan belum bisa membayangkan bagaimana ya saat semua tugas akademik di kampus perjuangan tunai. Begitu waktu itu tiba semua beban rasanya terangkat. Lega.




Tapi kata orang bahwa Tuhan selalu baik dan memberi kita apa saja tepat pada waktunya, semuanya benar dan nyata. Bahwa tidak ada suatu kebetulan, dan tidak ada musibah yang datang tanpa hikmah




Yap, saya sempat menganggap bahwa molornya saya satu semester adalah musibah terbesar. Tapi toh nyatanya tidak. Bergelut satu mata kuliah saja dalam enam bulan, bukan satu hal yang mudah. Jengah 




But well, semua mengantarkan saya pada satu titik dimana saya berada sekarang. Semua sudah yang Di Atas yang mengatur. Semua perjuangan telah tunai, dan saatnya kita memulai perjuangan yang lain dengan mimpi dan tantangan baru, Kawan









Momentum 2009
Jadi ingat, momentum itu adalah  nama angkatan kami. Nama kaum kami. Nama itu diberikan ketika kami seangkatan telah lolos menjalani proses ospek yang bernama Pengkaderan. Ada yang bilang pengkaderan di ITS berat? Ya. itu tidak bohong. Kami benar-benar ditempa bagaimana survive dengan mengenal keluarga kami seangkatan. Saya ingat dulu di awal-awal kami diminta untuk mengenal ke 64 teman kami satu sama lain. mulai dari nama, asal, golongan darah, sampai dia punya penyakit apa. 

Dalam satu even bernama Physics Charakter Buildng (PCB), kami ditanya satu-satu poin-poin di atas sebagai indikator kami sudah saling kenal atau belum. Kalau hanya tahu nama saja, kena poin. Yang nanggung hukuman bukan kami langsung. Tapi seringnya adalah Komting. Komting itu semacam ketua kelas, ketua angkatan. Dia koordinator kami. Nah, pas jaman maba, komting Momentum itu tuh di foto yang tengah. Namanya Mashuri. 

Dia komting yang keren, melas dan juga kasihan. hahaha (maaf ya mashuri). Tapi justru dia yang membuat kita jadi angkatan yang nggak cupu. He is a good komting. Jadi komting yang seringnya jadi korban naggung hukuman. Mulai dari push up, panggilan malam push up berantai, bahkan juga jotos-jotosan. 

Hmmm entahlah. Kata orang ini yang bikin persaudaraan mahasiswa ITS itu erat. Bisa jadi begitu. Karena bagi saya, semua anggota Momentum adalah saudara. Mereka yang selalu ada dalam sedih senang dan juga tempat melibur lara. Karena hanya teman keluarga yang kita punya di tanah rantau. 

Tempat curhat saat kangen, tempat ngutang saat kiriman telat, tempat mencari motivasi, dan juga tempat mencari inspirasi. Makanya, saat lulusan kemarin, rasanya seperti tersedot ke lorong waktu saat pengukuhan maba. Tak terasa bahwa 16 Maret 2014 itu telah mengukuhkan kami jadi sarjana.

Memang saya nggak ikut prosesi euforia saat di Jurusan bersama teman-teman yang lain. Bagi saya, semua suka dan luka yang terukir sudah cukup untuk saya bungkus dalam memori berlabel Keluarga Momentumku. Bersama mereka saya tumbuh menjadi seperti sekarang. Bersama mereka saya berkembang dan bersama mereka saya menemukan apa arti persaudaraan dalam persahabatan.

Mungkin kali lain kita bosa bersua lagi secara utuh. Dengan komitmen lain, dan mimpi-mimpi yang lain. Komitmen Momentum dulu apa ya? Menjadi keluarga yang kuat, berprestasi dan apa ya lupa. Hahahaha. Gara-gara ngapalinnya underpreasure sih.. 

Happy Graduation Momentum. Thanks for everything
*latepost

Selasa, Mei 06, 2014

Paranoid, Pengidap Tumor Mulut Sylvia Rumpuin

hai guys.... kok rasanya lama banget nggak nge blog.. jadi pengen cerita-cerita lagi.
kali ini yg pengen tak share adalah pengalaman kemarin pas liputan bocah penderita kanker mulut. well.. pasti serem ya ndengernya? sama ... apa lagi saya yang liputan dan langsung ketemu si bocah...

oke? jadi ceritanya saya dapet tugas siang2 pas lagi boci karena tepar paginya habis liputan sidak UN, ditugasin sama GM Radar Sidoarjo untuk ngeliput Sylvia Putri Rumpuin. dia adalah warfa sidoarjo yang mengidap tumor mulut. kabarnya dia sudah dirujuk ke RSUD Dr Soetomo dan sempat nginep di Yayasan Kanker Indonesia (YKI).

yaaa kalao boleh jujur saya menghindari banget ambil liputan begini ini. semua tentang rumah sakit saya benci pokoknya. paranoid. trauma. daaan yaaa sejenisnya. tapi karena sudah sempet koordinasi dan yg punya pos kesehatan juga gak mau take, yaa akhirnya saya yang berangkat.

dengan bekal petuah 'Kalau kerja yang ikhlas..' saya akhirnya melangkah mantap ke soetomo dan langsung cus ke IRNA Bedah Cempaka. yap tanpa ijin sana sini, dan juga menghindari bertanya petugas rumah sakit. karena apa? berdasarkan pengalaman, ijin sama petugas itu sselalu bukan malah membuat tugas makin ringan tapi justru semakin ribet. suruh ngurus inilah itulah... pokoknya serba prosedural.

saya langsung nemu ruang cempaka. dan secara manual nyari ruangan sylvia. nyelonong masuk sambil tengok kanan kiri, semoga nemu. dan alhamdulillah, pas lewat di depan kamar nomor 18 saya nggak sengaja lihat bocah yang mulut bengkak dengan ukuran super. bahkan ada benjolan daging berwarna merah yang muncul keluar mulut. *astaghfirullah. sepertinya dia yang saya cari.

alhamdulillahnya, pas ada dokter anastesi yang meriksa. dan saya candid sedapat mungkin ambil gambar. well... ini dilakukan buat jaga2 karna keluarga pasien begini suka sensitif kalo mau diambil gambar. untungnya nggak ketahuan. tapi akhirnya sya ijin kalo td udah ambil gambar. well ini karna sialnya mas fotografer g bisa di ajak ke RS. tp syukurlah semua teratasi. 
untuk memastikan, saya coba tanya ke suster apa benar Sylvia dirawat di kamar nomor 18. dan ternyata benar. saya pun langsung kesana dan ternyata dia tidak sedang didampingi ayah ibunya. saya sudah defence padahal. karna kata wartawan jawa pos, ortunya yang asli ambon itu agak gak suka anaknya di ekspos media.

saya pun memanfaatkan waktu kami berdua untuk ngobrol. walau dia susah bicara -dia hanya bisa membuka sedikit ruang untuk ngomong- tapi dia berbaik hati untuk menjawab satu dua pertanyaan saya. sebelum lalu sylvia menelepon ibunya agar segera datang. well dia mulai risih ya

pas sy tanya, ternyata tumor itu tumbuh karena dia salah langkah dalam mencabut gigi geraham kirinya. dia mencabut kasar giginya yang sudah goyang hingga akhirnya infeksi. keluarganya sempat membawa ke rumah sakit. namun diagnosa dokter justru salah. dokter memberinya vonis TBC. alhasil selama dua bulan lebih Sylvia hanya diobati dengan obat TBC bukan tumor.

tentu saja, karena salah obat bengkak di mulut bocah kelas V SDN Leboh ini tak kunjung kempis. tapi justru seminggu belakangan semakin membesar hingga keluar bagian mulut. karena khawatir barulah ibunya Poniyum merujuknya ke RS Airlangga. dari sana Sylvia mendapat rujukan ke YKI.

dari YKI itu akhirnya jadwal oprasi Sylvia segera disusun. Tanpa biaya tanpa antri. "Ini keajaiban. Tuhan yang menuntun kami," ujar Poniyum. dirinya pun semakin senang karena kondisi sylvia yang sangat stabil untuk dioperasi. dia diminta untuk puasa 12 jam jelang operasi. ini mudah, toh dia gak bisa makan, dia hanya bisa minum susu lewat sedotan. hanya itu ruang yang disisakan tumor agar mulutnya bisa terbuka.

uniknya, meski sudah begitu besar tumornya, Sylvia mengaku tidak pernah kesakitan. paling banter hanya kemeng. dia pun jarang menangis. super.

entaj kenapa, walaupun sempat kesal ditugasin liputan kesehatan begini, tapi saya senang saat adrenalin terpacu. berusaha menata kalimat dan strategi agar dapat berita di tengah kabar ayahnya yang tidak mau diwwncara juga prosedur RS yang mematikan langkah. tantangan. itu kuncinya. dan Allah selalu memberi jalan bagi hambanya yang mau berusaha...



dan lebih senangnya lagi tulisan saya menghasilkan tulisan feature yang memuaskan. dan diedit saya pak Hurek. salah seorang redaktur yang menginspirasi saya. Sejak dipindah di sidoarjo saya suka kangen diajarin beliau. hehehek

Senin, April 28, 2014

The Best Journalist in March


peluk Allah... puji syukur karena nikmat yang Ia berikan begitu melimpah.
di bulan pertama diangkat jadi karyawan langsung dapat penghargaan begini. bukan nilainya, tapi lebih kepada apresiasi atas jirih payah dan karya yang telah kita buahkan.
semoga tulisan2 yang dihasilkan ke depan lebih bermanfaat dan membawa pengaruh lebih besar pada masyarakat bangsa agama dan negara... amiiin :)

Sabtu, April 26, 2014

Owner The Empire Palace, Chin Chin



The Empire Palace kini sudah menjadi ikon Surabaya. Bangunan megah bergaya klasik Romawi yang berdiri kokoh di Jalan Blauran itu membuat banyak orang kagum dan terpukau. Namun, di balik kemegahan dan gagahnya The Empire Palace, siapa sangka ada sosok Kartini sebagai perintisnya. Dia tak lain adalah Trisulowati atau yang akrab disapa Chin Chin. Perempuan asal Blitar itu sukses menjadi pengusaha properti yang diperhitungkan di Kota Pahlawan. 

Setiap hari, bangunan megah sepuluh lantai tersebut selalu padat dengan berbagai acara. Selain wedding party yang rutin diadakan setiap akhir pekan, saat weekday banyak juga corporate dan pemerintahan yang menghelat acara di tempat tersebut. Seperti, seminar, meeting, launching produk, diklat, bahkan konser musik.

Saat ini, The Empire Palace memiliki tujuh ballroom dengan kapasitas 1.500 – 4.000 orang. Di antaranya adalah Virginia, The Royal of Blossom, St Marie Suite, Kensington Palace, dan The Rich Palace. Kini, The Empire Palace juga menjadi wedding mall terbesar di Surabaya dan menjadi jujukan bagi banyak kalangan untuk mengadakan acara. Dengan konsep baru yang dikenalkan sejak 27 Maret 2014 lalu, kini beragam kegiatan wedding party dengan konsep berbeda bisa diadakan dalam waktu yang bersamaan. 

”Kalau dulu orang mengenal The Empire Palace untuk kegiatan wedding party konsep chinese maupun western, kini traditional wedding dan adat juga bisa kami adakan lengkap dengan dekorasi, rias, dan pakaian adatnya,” ujar Chin Chin, saat ditemui di The Empire Palace, Kamis (17/4).

Selain itu, di The Empire Palace terdapat sekitar 350 karyawan (tetap dan lepas) dan area parkir yang luas dengan kapasitas 3.000 mobil. Hal itu membuat pasangan pengantin dan keluarga yang menghadiri pesta pernikahan tinggal datang dan terima beres. Sebab, semua yang berkaitan dengan wedding party sudah ada di sini. 

Mulai dari dekorasi, tata rias, pakaian, undangan, hiburan, MC, sound system, lighting, dan aneka menu makanan serta hidangan . ”Bahkan, pasangan pengantin, keluarga, dan undangan yang ingin menginap di sini juga sudah siap. Sebab, kini The Empire Palace sudah kami lengkapi dengan 200 kamar hotel,” tambah penyuka humor ini. 

Meski sudah bergemilang dengan harta melimpah, Chin Chin tak mau dibilang sebagai sosok Kartini maupun perempuan karir yang sukses. Sebab, dia mengakui bahwa semua yang ia capai dengan cara yang tidak mudah. ”Saya bahkan tidak pernah bermimpi untuk memiliki bisnis properti seperti sekarang. Yang saya lakukan sejak kecil adalah berusaha untuk mandiri. Tujuannya, agar saya bisa melindungi diri dari apa pun,” tandas wanita kelahiran 13 Oktober 1970 ini. 

Dari kecil, putri bungsu empat bersaudara ini sudah dididik untuk tidak bergantung kepada orang lain. Termasuk ketika keluarga mereka dalam kondisi yang tidak mampu. Sejak SMP, Chin Chin sudah dilatih untuk mencari uang sendiri dan membantu orang tua. Kue dan jajanan yang dibuat ayahnya pun ia bawa ke sekolah untuk dijajakan. Dia sama sekali tidak malu. 

Hingga akhirnya, ia masuk ke perguruan tinggi di jurusan Teknik Arsitektur UK Petra. Itu pun tidak ia lalui dengan mudah. Chin Chin harus membagi waktu belajarnya dengan menjadi guru les di beberapa tempat. Semua ia jalani dengan telaten dan bersemangat. Sebagaimana pesan sang ayah yang sudah meninggalkan Chin Chin sejak usinya masih 13 tahun, tidak ada yang akan mengubah nasib kita selain diri kita sendiri. ”Itu pesan yang sampai sekarang saya ugemi,” tegasnya.

Lulus kuliah, Chin Chin tak langsung memulai bisnis sendiri. Dia sempat menjadi arsitek di sebuah perusahaan dan melayani berbagai macam pesanan gambar dan desain rumah. Dari sana dia mulai tergerak untuk terjun ke dunia properti dengan tangannya sendiri. Ibu tiga anak (Janice Ang, James Ang, dan Lawrence Ang) ini memulai dengan membangun ruko di Kedungdoro dan Kedungsari. Siapa sangka, ternyata bisnisnya laris manis bak kacang goreng. Barulah setelah itu Chin Chin mulai bereskpansi.

”Saya beli tanah seluas 8.000 meter persegi. Rencananya ingin bangun semacam mal perhiasan. Tapi, kemudian, saya berpikir bahwa konsep itu akan sama saja dengan ruko. Saya ingin yang berbeda dan lahirlah Empire Palace,” cetus wanita yang gemar masakan tradisional ini. Dengan kepiawaianannya desain arsitektur dan kecintaannya pada aksen klasik, The Empire Palace menjadi gedung yang berkelas tinggi, megah, dan mewah. Konon, semua yang ia tuangkan dalam bangunan megah itu berdasar atas pengalamannya selama bekerja di perusahaan di Jakarta. Hingga ia tahu tentang detail untuk membuat bangunan yang bagus.

Sejak dirintis pada tahun 2005 dan selesai pada tahun 2007, kini The Empire Palace menjadi satu di antara ikon Surabaya. The Empire Palace juga menjadi jujukan para pemilik hajat pernikahan, rapat, dan pesta-pesta mewah. 

 
asli ini orang anti dan tomboy. penampilannya selalu casual. dan ogah make perhiasan. sesi foto aja gak mau pake kebaya. "Aku cuma punya satu kebaya," ujarnya guyon

”Empire Palace itu jiwa saya. Jika ditanya nanti mau dikembangkan bagaimana, saya belum tahu. Sebab, Empire Palace sudah seperti badan saya yang saya lengkapi dan saya benahi sesuai kebutuhan. Misalnya, di tengah pesta orang yang dari luar kota, maka tamu pasti butuh hotel. Karena itu, saya bangunkan hotel. Butuh parkir yang luas, saya bangunkan parkir. Sederhana,” begitu cara Chin Chin menjawab. 

Menurut dia, tak ada yang lebih mengerti The  Empire Palace daripada dirinya sendiri. Namun, dengan kesuksesan yang ada bukan berarti tidak ada cercaan dan hantaman dari kompetitor. Dulu, pada awal berkembangnya Empire, banyak omongan yang tidak sedap harus dihadapi Çhin Chin. Seperti, makanan yang kurang enak, harga terlalu mahal, dan sound system yang tidak pas lantaran gaya bangunan Empire yang punya banyak ornamen dan gaya. Namun, hal itu sama sekali tidak menjadi masalah bagi Chin Chin. 

Menurut dia, di zaman Kartini modern, perempuan membalas bukan dengan kata-kata atau senjata, melainkan dengan karya. ”Yang penting, saya tidak mengganggu mereka. Bagi saya, bersaing bukan berarti mengkatakan pesaing kita lebih buruk,” tandas istri Gunawan Angka Wijaya ini.

Banyak wanita karir yang kemudian pernikahan dan keluarganya berantakan. Hal itu pun sempat menjadi kekhawatiran Chin Chin. Oleh karena itu, dia tak ingin hal tersebut terjadi kepadanya. Chin Chin selalu melibatkan sang suami dalam bisnisnya. Satu di antaranya dalam hal mengambil keputusan. ”Waktu awal mau mendirikan Empire, saya juga berdiskusi dengan suami. Semua harmonis, asal komunikasi lancar,” tegasnya.

Untuk itu, Chin Chin berpesan kepada para wanita, agar mereka tidak takut untuk berkarir dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki. Menurut Chin Chin, kita tidak bisa memaksa orang lain untuk menghargai dan menghormati wanita. Tapi, wanita harus melakukan sesuatu untuk bisa dihargai dan dihormati. ”Sebab, pada dasarnya, perjuangan Kartini dulu adalah untuk ini, agar wanita bisa dihargai dan tidak dianggap remeh oleh laki-laki,” pungkas Chin Chin. (ima)

Photos by Abdullah Munir Radar Surabaya

Elok Rege Napio, Kartini Kebaya Modern


Elok Rege Napio
Hasil perjuangan Kartini di era 1903 dirasakan betul oleh Elok Rege Napio. Desainer muda berbakat ini mengakui bahwa tanpa adanya perjuangan Kartini mengajukan kesetaraan pendidikan, bisa jadi dirinya dan wanita lain di tanah air tidak bisa sekolah dan tidak bisa berkarya. Bagi wanita asli Surabaya ini, makna hari Kartini adalah momen yang tepat untuk memberi persembahan karya dengan kemampuan yang dimiliki. 

Sejak memulai karir menjadi desainer tahun 2002, sudah tidak terhitung lagi berapa karya yang telah dihasilkan Elok. Melalui kegemarannya dengan pernak-pernik dan juga payet, membuat Elok muda jatuh cinta dan memutuskan untuk menjadi desainer baju khusus kebaya. Selain karena kebaya banyak menggunakan ornamen payet, juga karena Elok sangat suka dengan keanggunan wanita yang mengenakan kebaya.

“Dulu sebelum di kebaya, saya sempat menjadi desainer baju ready to wear untuk anak-anak, tapi sepertinya passion saya lebih ke kebaya,” cerita Elok yang selalu tampak segar dengan potongan rambut pendek dan kacamata. Berbicara tentang karya, kini sudah banyak showroom yang berhasil ia dirikan. Dengan mengangkat brand Dola’ap Kebaya, hasil rancangannya sudah banyak dipakai oleh kalangan menengah atas dan juga artis. Seperti Astrid, Soimah, dan juga Rina Nose. 

Hasil rancangannya yang anggun dan terkesan mewah membuat banyak clien yang memutuskan menjadi langganannya. Kini selain di Rungkut Asri Barat IX-12 yang dijadikan workshop dan butik, ibu satu orang anak ini juga sudah memiliki showroom di Jakarta. Tak jarang, ia jadi harus bolak balik Jakarta Surabaya demi mengurus pesanan para pelanggannya. Bahkan pemakai rancangan Elok sudah sampai ke negeri Malaysia dan Belanda. 

Meski kini terbilang sudah sukses, namun keberhasilan Elok dalam mencari jati diri ternyata cukup panjang. “Saya sudah suka pernak pernik sejak kecil, tapi saya baru mengambil pendidikan formal fashion baru setelah kuliah,” cerita wanita kelahiran 15 November 1978 ini. Selama kuliah di jurusan Akutansi Universitas Widya Mandala tahun 1999, Elok juga nyambi kuliah fashion di sekolah fashion Susan Budiharjo. Orang tuanya sempat melarang Elok mengambil studi fashion sebelum pendidikan sarjana di UWM bisa rampung.

Namun, berkat kegigihan Elok, akhirnya dia justru bisa mendapatkan dua gelas sekaligus. Di samping sarjana akutansi juga sarjana fashion sebagai lulusan tebaik. Prestasi pun sempat wanita penggemar Anafanti ini raih. Salah satunya, elok berhasil menjadi sepuluh besar kompetisi fashion Concours Internasional di Paris. 

Dalam mengembangakan bisnis fashion, selain harus bersaing dengan desainer lain, tantangan yang besar justru ada dari dalam. Seorang disainer harus cerdik dan kreatif dalam mengembangkan ide. “Ada tantangan yang paling berat adalah ketika tidak mood. Bisa merusak segalanya. Tapi enaknya inspirasi bisa datang dari mana saja. asal kuncinya satu, desainer tidak boleh kolot dan harus open minded,” jelas Elok.

Hal itu yang dijadikan Elok sebagai patokan. Dirinya dan juga desainnya terus berubah sering dengan perkembagan dunia. Karena ia sadar, terlebih untuk fashion, tren untuk satu tahun saja bisa berubah sebanyak dua sampai tiga kali. Untuk itu, Elok berpesan pada para wanita yang juga berprofesi seperti dirinya untuk tidak mudah putus asa dan juga terus menelurkan karya selagi kesempatan terbuka lebar.

Elok dan si kecil Thania
Single Parent Yang Tangguh
Di tengah gempuran karir yang menanjak, ada saja yang menjadi hambatan bagi Elok. Tiga bulan pasca kelahiran putri semata wayangnya Nathania Caya Dewi, Elok harus menerima pil terpahit dalam hidupnya. Pernikahannya kandas. Ketidakcocokan menjadi alasan yang membuat ia harus mengakhiri pernikahan di palu hakim.

“Berat, karena ketidakcocokan. Daripada saling sakit lebih baik berpisah,” ujarnya tegar. Justru dengan pengalaman pahit tersebut, Elok menjadikan hal itu menjadi titik baliknya. Dia semakin membulatkan tekad demi berjuang untu keluarga kecilnya. Ganjalan hidup dan permasalahan pribadi tidak membuat dirinya melanyalahkan Tuhan. Melainkan membuktikan perhatian Tuhan padanya dan membuatnya bangkit. 

Elok bahkan bisa membuktikan bahwa sebagai single parent, wanita bisa menjadi inspirasi. Melalui setiap karya yang dihasilkan. Meski sibuk sepangjang pekan, namun Elok memberi dua hari khusus di akhir pekan untuk Thania. 

“Saya akui memang itu menjadi salah satu cobaan yang sangat berat. Tapi saya bersyukur masih punya anak. Dengan seorang anak, saya bisa fokus dan terarah, bahwa yang apa yang saya lakukan untuk anak saya,” tandasnya. 

Untuk itu, dirinya bersyukur karir yang ia geluti kini tidak menjauhkannya dari puti tunggalnya. Dia masih bisa di rumah dengan tetap bekerja merampungkan pesanan pelanggan. Tidak ada yang ia nilai lebih dibandingkan bisa bekerja dekat dengan keluarga. 

Di titiknya sekarang, wanita yang gemar travelling ini mengaku belum puas dengan capaiannya. Mimpi terbesarnya untuk menjadi desainer internasional masih menggantung dan siap Elok petik. “Wanita tidak perlu takut untuk berkarir. Banyak karir yang bisa digeluti. Hanya saja, harus pandai mengenali potensi diri,” ucap Elok. 

Dengan karir, tentu saja pundi-pundi uang mandiri dapat terkumpul. Seperti halnya Elok. Dalam sebulan, dirinya bisa mengerjakan tiga hingga lima pesanan kebaya. Satu karya kebayanya bisa dijual hingga Rp 30 juta hingga Rp 40 juta. Bayangkan saja, berapa rata-rata penghasilan Elok per tahunnya. "Semua tergantung kita mau sebanyak apa berkarya," pungkasnya. (ima)

Photo by Ahmad Khusaini Radar Surabaya

Rabu, April 23, 2014

Donjuan Donwori vs Karin

Mbak Hanny Akasah akhirnya cuti melahirkan. Dan tanggunngan si mbak ini untuk tulisan features Pengadilan Agama (PA) di halaman satu akhirnya juga dipercayakan ke saya. Well? rasanya galau. hahaha.

Pas hari pertama nongkrong di PA nggak tahu harus ngapain, kayak orang bego. Jadi ceritanya boks khusus satu ini harus diisi dengan kasus-kasus unik yang ada di PA. Macem-macem, mulai kasus perceraian, urusan rumah tangga, hingga rebutan warisan.

Metode liputannya pun beda. Nggak pake aturan standar wawancara kayak seharusnya. Melainkan haarus pinter-pinter mancing si narasumber untuk cerita kasusnya sendiri dengan alamiah dan terbuka. Nah lho... padahal kan aib ya... tapi tenang semua nama alamat dan juga waktu disamarkan kok. Jadi amaaan.

Nah, minggu lalu adalah saat pertama saya hunting boks ini. Well.... bingung saya memilih target mana yang harus saya dekati. Sempat lirik kanan kiri, dan juga tengak tengok orientasi medan. Cari bahan pembicaraan.

Saya duduk di kursi di bagian belakang dan mencoba bertanya. "Mbak, mau daftar caranya gimana ya?" tanya saya. Tapi jangankan dijawab dia aja tidur.

Well, akhirnya saya geser maju. Mendekati ibu2 yang sedang ribet sama bocah kecil. Saya lalu menanyakan hal serupa. Dan tiba2 raut si ibuk itu berubah, mendadak serius. Dua rius malah. "Jangan Mbak. lebih baik dipikir-pikir dulu. Jangan geeegabah," kata si Ibu. Saya cegek dan salting.

Harus saya jawab apa coba. Dengan kikuk akhirnya saya jawab dengan sedikit memlintir raut muka ke ekspresi sedih, melas. "Saya sudah jenuh Bu, tiap hari berantem. Saya sudah tidak betah," jawab saya. Nah lho.

Obrolan pun berlanjut dengan pertanyaan 5W +1H yang justru diajukan si ibu ke saya. Kan seharusnya saya yang introgasi ya. .

keterangan i : ibu. s : saya. b: bapak
i : Sudah menikah berapa lama?
s : delapan bulan
i : masih awal, jangan keburu buru mbak, dibicarakan baik baik
s : tidak bisa bu. ini jalan yang terbaik
i : apa masalahnya dik? #mulai intens. dia bahkan merogoh tasnya mengambil tisu. takut sewaktu waktu saya mewek. dan dia sodorkan
s : (karena sudah disodorin tisu) saya nggak apa nih bu curhat?
i : ya siapa tahu bisa membantu adik. kadang kalau dipikir sendiri kita menganggap kita yang paling benar
s : suami saya selingkuh bu. saya sudah curiga. dia jarang plang. dan kami seringg cek cok
i : sudah dipastikan? coba bicara dari hati ke hati. mungkin ada kamu yang salah paham. atau ada masalah yang mebuat kalian jadi jauh.
s : sudah. tapi kami tidak pernah bs bicara baik baik. akhirnya malah saling tuduh. (mewek mulai)
i : sudah bicara dengan keluarga??
s : menggeleng
i : nah... coba dibicaraka dulu.... janga gegabah.... semua bisa dibicarakan.... #ngelus2 punggung saya
s : ~nangis deh tes tes ~lalu tiba-tiba bapak sebelah  saya ikutan nimbrung
b : kalau butuh pengacara bilang saya dik
s dan i : djsja%;&%@$("~()&@65241~~(#

hahaha. walau dengan sandiwara itu.. akhirnya saya bisa tahu kalau si ibu itu sedang  mengantarkan anaknya yang baru 26 tahun sidang cerai yang kelima. Mereka cerai karena si Donjuan punya wanita idaman lain.

Eh tapi pas sudah sidang ke tiga si Donjuan urung ingin melanjutkan permohonan cerai. Dan ingin rujuk. Ya otomatis si Karin nggak mau. Karena mangkel ditolah niat rujuknya malah si Karin dituduh selingkuh dan punya pria idaman lain. Lha kok mbulet... dan yang kasihan bocah yang tadi sama si ibuk tadi itu anak mereeeka. Baru tiga tahun. kasihan

Well.. ternyata liputan di PA nggak seekstremm yang saya bayangkan.... walau dengan sedikit acting karbitan, ya bolehlaaaah....

happy reading guys....





Minggu, Maret 09, 2014