Sabtu, April 26, 2014

Elok Rege Napio, Kartini Kebaya Modern


Elok Rege Napio
Hasil perjuangan Kartini di era 1903 dirasakan betul oleh Elok Rege Napio. Desainer muda berbakat ini mengakui bahwa tanpa adanya perjuangan Kartini mengajukan kesetaraan pendidikan, bisa jadi dirinya dan wanita lain di tanah air tidak bisa sekolah dan tidak bisa berkarya. Bagi wanita asli Surabaya ini, makna hari Kartini adalah momen yang tepat untuk memberi persembahan karya dengan kemampuan yang dimiliki. 

Sejak memulai karir menjadi desainer tahun 2002, sudah tidak terhitung lagi berapa karya yang telah dihasilkan Elok. Melalui kegemarannya dengan pernak-pernik dan juga payet, membuat Elok muda jatuh cinta dan memutuskan untuk menjadi desainer baju khusus kebaya. Selain karena kebaya banyak menggunakan ornamen payet, juga karena Elok sangat suka dengan keanggunan wanita yang mengenakan kebaya.

“Dulu sebelum di kebaya, saya sempat menjadi desainer baju ready to wear untuk anak-anak, tapi sepertinya passion saya lebih ke kebaya,” cerita Elok yang selalu tampak segar dengan potongan rambut pendek dan kacamata. Berbicara tentang karya, kini sudah banyak showroom yang berhasil ia dirikan. Dengan mengangkat brand Dola’ap Kebaya, hasil rancangannya sudah banyak dipakai oleh kalangan menengah atas dan juga artis. Seperti Astrid, Soimah, dan juga Rina Nose. 

Hasil rancangannya yang anggun dan terkesan mewah membuat banyak clien yang memutuskan menjadi langganannya. Kini selain di Rungkut Asri Barat IX-12 yang dijadikan workshop dan butik, ibu satu orang anak ini juga sudah memiliki showroom di Jakarta. Tak jarang, ia jadi harus bolak balik Jakarta Surabaya demi mengurus pesanan para pelanggannya. Bahkan pemakai rancangan Elok sudah sampai ke negeri Malaysia dan Belanda. 

Meski kini terbilang sudah sukses, namun keberhasilan Elok dalam mencari jati diri ternyata cukup panjang. “Saya sudah suka pernak pernik sejak kecil, tapi saya baru mengambil pendidikan formal fashion baru setelah kuliah,” cerita wanita kelahiran 15 November 1978 ini. Selama kuliah di jurusan Akutansi Universitas Widya Mandala tahun 1999, Elok juga nyambi kuliah fashion di sekolah fashion Susan Budiharjo. Orang tuanya sempat melarang Elok mengambil studi fashion sebelum pendidikan sarjana di UWM bisa rampung.

Namun, berkat kegigihan Elok, akhirnya dia justru bisa mendapatkan dua gelas sekaligus. Di samping sarjana akutansi juga sarjana fashion sebagai lulusan tebaik. Prestasi pun sempat wanita penggemar Anafanti ini raih. Salah satunya, elok berhasil menjadi sepuluh besar kompetisi fashion Concours Internasional di Paris. 

Dalam mengembangakan bisnis fashion, selain harus bersaing dengan desainer lain, tantangan yang besar justru ada dari dalam. Seorang disainer harus cerdik dan kreatif dalam mengembangkan ide. “Ada tantangan yang paling berat adalah ketika tidak mood. Bisa merusak segalanya. Tapi enaknya inspirasi bisa datang dari mana saja. asal kuncinya satu, desainer tidak boleh kolot dan harus open minded,” jelas Elok.

Hal itu yang dijadikan Elok sebagai patokan. Dirinya dan juga desainnya terus berubah sering dengan perkembagan dunia. Karena ia sadar, terlebih untuk fashion, tren untuk satu tahun saja bisa berubah sebanyak dua sampai tiga kali. Untuk itu, Elok berpesan pada para wanita yang juga berprofesi seperti dirinya untuk tidak mudah putus asa dan juga terus menelurkan karya selagi kesempatan terbuka lebar.

Elok dan si kecil Thania
Single Parent Yang Tangguh
Di tengah gempuran karir yang menanjak, ada saja yang menjadi hambatan bagi Elok. Tiga bulan pasca kelahiran putri semata wayangnya Nathania Caya Dewi, Elok harus menerima pil terpahit dalam hidupnya. Pernikahannya kandas. Ketidakcocokan menjadi alasan yang membuat ia harus mengakhiri pernikahan di palu hakim.

“Berat, karena ketidakcocokan. Daripada saling sakit lebih baik berpisah,” ujarnya tegar. Justru dengan pengalaman pahit tersebut, Elok menjadikan hal itu menjadi titik baliknya. Dia semakin membulatkan tekad demi berjuang untu keluarga kecilnya. Ganjalan hidup dan permasalahan pribadi tidak membuat dirinya melanyalahkan Tuhan. Melainkan membuktikan perhatian Tuhan padanya dan membuatnya bangkit. 

Elok bahkan bisa membuktikan bahwa sebagai single parent, wanita bisa menjadi inspirasi. Melalui setiap karya yang dihasilkan. Meski sibuk sepangjang pekan, namun Elok memberi dua hari khusus di akhir pekan untuk Thania. 

“Saya akui memang itu menjadi salah satu cobaan yang sangat berat. Tapi saya bersyukur masih punya anak. Dengan seorang anak, saya bisa fokus dan terarah, bahwa yang apa yang saya lakukan untuk anak saya,” tandasnya. 

Untuk itu, dirinya bersyukur karir yang ia geluti kini tidak menjauhkannya dari puti tunggalnya. Dia masih bisa di rumah dengan tetap bekerja merampungkan pesanan pelanggan. Tidak ada yang ia nilai lebih dibandingkan bisa bekerja dekat dengan keluarga. 

Di titiknya sekarang, wanita yang gemar travelling ini mengaku belum puas dengan capaiannya. Mimpi terbesarnya untuk menjadi desainer internasional masih menggantung dan siap Elok petik. “Wanita tidak perlu takut untuk berkarir. Banyak karir yang bisa digeluti. Hanya saja, harus pandai mengenali potensi diri,” ucap Elok. 

Dengan karir, tentu saja pundi-pundi uang mandiri dapat terkumpul. Seperti halnya Elok. Dalam sebulan, dirinya bisa mengerjakan tiga hingga lima pesanan kebaya. Satu karya kebayanya bisa dijual hingga Rp 30 juta hingga Rp 40 juta. Bayangkan saja, berapa rata-rata penghasilan Elok per tahunnya. "Semua tergantung kita mau sebanyak apa berkarya," pungkasnya. (ima)

Photo by Ahmad Khusaini Radar Surabaya

Rabu, April 23, 2014

Donjuan Donwori vs Karin

Mbak Hanny Akasah akhirnya cuti melahirkan. Dan tanggunngan si mbak ini untuk tulisan features Pengadilan Agama (PA) di halaman satu akhirnya juga dipercayakan ke saya. Well? rasanya galau. hahaha.

Pas hari pertama nongkrong di PA nggak tahu harus ngapain, kayak orang bego. Jadi ceritanya boks khusus satu ini harus diisi dengan kasus-kasus unik yang ada di PA. Macem-macem, mulai kasus perceraian, urusan rumah tangga, hingga rebutan warisan.

Metode liputannya pun beda. Nggak pake aturan standar wawancara kayak seharusnya. Melainkan haarus pinter-pinter mancing si narasumber untuk cerita kasusnya sendiri dengan alamiah dan terbuka. Nah lho... padahal kan aib ya... tapi tenang semua nama alamat dan juga waktu disamarkan kok. Jadi amaaan.

Nah, minggu lalu adalah saat pertama saya hunting boks ini. Well.... bingung saya memilih target mana yang harus saya dekati. Sempat lirik kanan kiri, dan juga tengak tengok orientasi medan. Cari bahan pembicaraan.

Saya duduk di kursi di bagian belakang dan mencoba bertanya. "Mbak, mau daftar caranya gimana ya?" tanya saya. Tapi jangankan dijawab dia aja tidur.

Well, akhirnya saya geser maju. Mendekati ibu2 yang sedang ribet sama bocah kecil. Saya lalu menanyakan hal serupa. Dan tiba2 raut si ibuk itu berubah, mendadak serius. Dua rius malah. "Jangan Mbak. lebih baik dipikir-pikir dulu. Jangan geeegabah," kata si Ibu. Saya cegek dan salting.

Harus saya jawab apa coba. Dengan kikuk akhirnya saya jawab dengan sedikit memlintir raut muka ke ekspresi sedih, melas. "Saya sudah jenuh Bu, tiap hari berantem. Saya sudah tidak betah," jawab saya. Nah lho.

Obrolan pun berlanjut dengan pertanyaan 5W +1H yang justru diajukan si ibu ke saya. Kan seharusnya saya yang introgasi ya. .

keterangan i : ibu. s : saya. b: bapak
i : Sudah menikah berapa lama?
s : delapan bulan
i : masih awal, jangan keburu buru mbak, dibicarakan baik baik
s : tidak bisa bu. ini jalan yang terbaik
i : apa masalahnya dik? #mulai intens. dia bahkan merogoh tasnya mengambil tisu. takut sewaktu waktu saya mewek. dan dia sodorkan
s : (karena sudah disodorin tisu) saya nggak apa nih bu curhat?
i : ya siapa tahu bisa membantu adik. kadang kalau dipikir sendiri kita menganggap kita yang paling benar
s : suami saya selingkuh bu. saya sudah curiga. dia jarang plang. dan kami seringg cek cok
i : sudah dipastikan? coba bicara dari hati ke hati. mungkin ada kamu yang salah paham. atau ada masalah yang mebuat kalian jadi jauh.
s : sudah. tapi kami tidak pernah bs bicara baik baik. akhirnya malah saling tuduh. (mewek mulai)
i : sudah bicara dengan keluarga??
s : menggeleng
i : nah... coba dibicaraka dulu.... janga gegabah.... semua bisa dibicarakan.... #ngelus2 punggung saya
s : ~nangis deh tes tes ~lalu tiba-tiba bapak sebelah  saya ikutan nimbrung
b : kalau butuh pengacara bilang saya dik
s dan i : djsja%;&%@$("~()&@65241~~(#

hahaha. walau dengan sandiwara itu.. akhirnya saya bisa tahu kalau si ibu itu sedang  mengantarkan anaknya yang baru 26 tahun sidang cerai yang kelima. Mereka cerai karena si Donjuan punya wanita idaman lain.

Eh tapi pas sudah sidang ke tiga si Donjuan urung ingin melanjutkan permohonan cerai. Dan ingin rujuk. Ya otomatis si Karin nggak mau. Karena mangkel ditolah niat rujuknya malah si Karin dituduh selingkuh dan punya pria idaman lain. Lha kok mbulet... dan yang kasihan bocah yang tadi sama si ibuk tadi itu anak mereeeka. Baru tiga tahun. kasihan

Well.. ternyata liputan di PA nggak seekstremm yang saya bayangkan.... walau dengan sedikit acting karbitan, ya bolehlaaaah....

happy reading guys....





Minggu, Maret 09, 2014

Senin, Februari 10, 2014

Here is How a Journalist Doing Their Work


Dulu saya sangat enggan untuk pulang kantor over 8 pm. Gimana nggak, ketika saya seringnya liputan berangkat jam 9 pagi, tapi dipaksa untuk baru pulang minimal jam 8 malam. Well, padahal saya biasanya target untuk ngantor jam 5 sore tulisan kelar jam 7 untuk tiga berita. Niatnya biar bisa pulang cepet biar bisa ndang istirahat.

Tapi selalu aja ada alasan si rekdaktur itu selalu nengok tulisan over jam 7. Well saya kasih tau ya, jam nya redaktur kerja itu mulai pukul 5 sore. Jam 5.30 itu mereka mulai rapat listing. Nge list semua reporter ini dapet belanja berita apa aja seharian. Di rapat itu juga ditrentukan berita ini masuk halaman berapa, dan berita itu masuk di halaman berapa. Mana yang jadi fenomena (lapsus dan mana juga yang jadi berita headline). Well it take maybe 40 minutes sambil ngobrolnya. Pokoknya sebelum waktu sholat magrib mereka pasti udah rampung.

Nah, selama merka listing kita para wartawan masak itu berita supaya mateng dan siap dicicipin si redaktur. Sedangkan berita yang sudah ditempatkan akan dicicipi oleh siapa-siapa yang jadi pencicip (redaktur). Nah kita harus nunggu in si redaktur ini membubuhkan kata "oke" dalam judul file kita, baru kita boleh pulang.. Karena ata si pimred, "We working by oke"

Prosesnya itu yang lama pake banget. Nungguin sampek rasanya galau. Awal2 sebulan pertama saya selalu pulang tanpa ijin sama redaktur, eh ijin ding sama mbak heti. dua bulan saya mulai yang aaaaah lama banget. Merasa si redkatur ini nggak pengertian banget sama wartawaannya. Secara kami berangkat dari pagi sedang mereka baru mengawali kerja sedari sore. Kan nggak worth it aja.

Tapi semua mulai berubah, at least mulai satu bulan ke belakang. Saya merasa mulai ada ikatan batin dengan kantor ini. beeeeh #kibas rambut. Walaupun dengan orang yang sidikit ini, rasanya ngantor itu jadi seru. Karena jadi momen dimana kita semua ngumpul dan saling cerita seharian dapet berita apa aja. Selalu menanti temen2 datang sebelum jam lima, supaya banyak ngobrol dan becanda. Karena kalo udah jam 5 we start to do our job.

Nah sebelah saya ini kan wartawan kriminal, namanya mas Rudi. Ngobrol sama dia ini selalu seru, adaaa aja yang diceritain, secara dia pos kriminal. Mulai dari cerita grebek PSK dolly, penggrebekan teroris bom ke kedung cowek, sampek penjambretan 22 detik yang bisa menghasilkan duit 190 juta. Wooow. Tapi haram. Komentar mas rudi, "Nganggur setahun cukup iki," katanya. Ada lagi pas dia cerita ada tukang becak sayur yang nyabu. Katanya sih penghasilannya sehari bisa mencapai 250 ribu untuk ngangkut sayur di pasar. Penghaslian yang cukup besar itu makanya dia bisa nyabu Dia takjub. Sekalian aja saya timpali, "Ya kerja iku ae mas samen, kan sebulan jadi Rp 7,5 juta," dia ngakak.. Hahaha.

Intinya semua kru selalu punya cerita mereka masing untuk membawa suasana kantor cair. Termasuk gojlok2an yang seringnya membuat saya jadi korban. Oooh meen. Si fotografer yang selalu sok unyu. Setiap sore mesti bahas dapet foto apa aja yang seru..juga dulu pimred yang cerewet banget tapi hampir nggak pernah marahin saya, hahaha saya kangen sama beliau. Ehm ehm.

pas liputan bareng chef Sarwan

suasana kantor jelang deadline



ini kalo lagi rame dan cak cek cak cek

wartawan kota

si pak gundul redaktur kami wartawan kota

bareng mb rista, 

kalo udah stress, dan hening, ini pemecah keheningan

Well,, itu lah keseharian saya selama yaaah lima bulam belakangan. Seharian cari berita kesana kemari but it's so awesome lately. Kan dulu saya selalu galau dengan #liputan apa gue hari ini??? Dan sekarang karena saya sudah punya pos, dan ehm sudah punya banyak teman wartawan yang ce es, ternyata seru banget. Setiap pagi akan saling ngabsen, "Nggarap apa hari ini?" Terus pada keliling bareng, atau sesekali ribet sendiri demi egoisitas media masing2. Yang bikin kadang sok rahasia dan sok misterius.  Hahaha.

Dan kami aakan mengatakan "Ayo geser!" Untuk jeda setiap jeda liputan satu dengan yang lain. Hingga sore tiba, pos dinas pendidikan jatim selalu jadi tempat yang nyaman untuk ngetem dan cari bahan jika agenda sedang sepi. Dan begitu hari menjelang jam 15.00 kami akan mengucapkan berpisah setelah sebelumnya saling bernyata, "Berarti hari ini ngeluarin apa?" Serta menjawab pertanyaan "Besok nggarap apa ya?" Dengan jawaban "Dipikir mene aeee." Hahaha I start to love it.

Dan semua hasil jirih payah kami seharian akan terbayar rasanya jika di pimred usai listing menhampiri meja sambil njawil "Dek berita ini halaman satu ya," atau "Dek berita ini fenomena ya". Atau si redaktur yang pegang halaman bilang suruh nambahin grafis untuk dibuat headline. Itu adalah seperti gaji harian kami, ehm mungkin lebih tepatnya buat saya.

Yap, soal jam pulang kantor, mas Rudi ini pernah bilang ke saya saat saya mengeluhkan wartawan ini sudah keliling dari pagi Jenderal! Dia menjawab "Wartawan itu kalau siang jangan dianggap sedang kerja, itu dolan namanya. Kerjanya ya ketika di kantor ini nggarap berita." Saya sempat nggak setuju. But at least we have to enjoy to going around the city, place to place, to find something great to be published. Karena wartawan itu selalu mau karenna passionnya. Saya sadar itu. Kalau nggak, nggak bakal betah. Dan sejauh ini saya masih betah. :D dan menikmati.

Hmm talking about a rekor, saya sejauh ini baru bisa liputan sehari lima berita. Empat berita dalam sehari kadang2 kalau lagi mujur. Dan paling nggak at least saya harus mengasilkan tiga berita setiap harinya. Hmm masih belum puas dengan rekor lima. Karena senior saya itu pernah tujuh berita dalam sehari, Mbak Heti Palestina. Hmn kapan2 sya akan nulis profil tentang mbak satu itu. Jadi tunggu yaaa.. She is so awesome single parent..

Untuk kali ini cukup itu cerita tentang dunia jurnalis yang saya bagi. Edisi depan saya akan coba cerita tentang suka dukanya kalau nggak dapat berita, kalau sepi, serta ketika ngejar narasumber nggak ketemu2. Well jadi wartawan nggak akan mengjinkan kamu untuk hanya diam dan menanti berita dartang dengan menunggu kejadian. Tapi kadamng kita memang butuh mencari "kejadian", dengan kejelian.



foto no caption hahaha

Sabtu, Januari 18, 2014

Peresensi Bayaran

Saya sedang on going membaca buku fiksi alias novel karya Iwan Setyawan. Itu lho, yang judulnya 9 Summers 10 Autumns. Membaca lembar demi lembar menyelami kisah hidupnya semasa remaja turut membuat memori saya turut mengelana.

Saya teringat masa2 SMA saya ketika di SMAN 1 Jombang. Saat itu orang tua saya sudah pindah ke Bangil (sebelum pindah ke Mojokerto). Waktu duduk di kelas dua, guru mata pelajaran bahasa Indonesia saya selalu memberi tugas meresensi buku. Buku apa saja. Mulai dari novel yang fiksi hingga buku non fiksi.

Bagi saya yang suka banget dengan novel, tentu saja ini bukan tugas yang memberatkan. Justru sangat menyenangkan. Itu berarti saya ada alasan untuk pergi ke Auror, persewaan novel langganan saya. Ehehe, soalnya ibu saya melarang saya untuk menyewa novel banyak2. Tapi, kesenangan saya yang bahkan addict dengan buku cerita terbaca pula oleh teman-teman saya. Yang entah mengapa belakangan justru menyuruh saya untuk membuatkan resensei tugas mereka.

Saya mau. Dengan senang hati malah. Karena dengan begitu saya akan membaca buku-buku fiksi secara gratis dan tanpa menyewa. Dan serunya saya yang memilih sendiri novel mana yang mau saya resensi dan dia yang bayar. Hahahaha indahnya dunia. Begitulah dulu saya. Padahal dulu tugas ngeresensi buku itu dua minggu sekali. Dan saya melayani order sesensi lebih dari tiga orang. Nggak hanya teman satu kelas soalnya, juga dari lain kelas.

Agak parah memang. Tapi teman-teman saya justru senang karena saya yang meresensi. Tanpa mereka repot baca bukunya, resensi sudah jadi dan nilainya selalu bagus. Kalau kadang kurang bagus teman saya juga nggak berani protes, malah saya disuruh milih novel yang lebih bagus lagi untuk diresensi. Hahahaha #evil-laugh

Minggu, Januari 12, 2014

Mb Vina & Her Pendekar Are Getting Married

Akhirnya setelah lima tahun pacaran, Mb Vina dan Ms Pendekar menikah. Keren. memilih tanggal 11 Januari tepat di bulan dimana mereka kenalan di tahun 2008.
Kenal di kos emak, setahun yang lalu, dan Mb satu ini benar-benar orang yang sabar dan setia. iiiih tipe Ibu-ibu setia pokoke deh,, 
Dan kita satu kos emak di dapuk buat jadi penerima tamu. Pengennya sih ikut prosesi pas di gereja. Pengen tahu,, eh tapi nggak boleh, jadilah kami nunggu di rumah makan sambil narsis2 pol2an..

di Make up bikin kita jadi kayak bukan kita

the Farious Kembang mayang.. muji diri sendiri
Penggawean kita adalah jaga Buku Tamu dan ngasih tamu ke undangan. Yang unyu itu souvenirnya. Gelas bergambar yang menceritakan timeline hubungan mereka. Mulai dari kenalan, jadian, hingga nikah. Unyuu
 
Nah kan, kalo nggak pake alasan bolos ngantor nggak bakalan ikutan foto gini. Untung si pimred lagi baik. Maksih Mb opi :)
 
And we were one by one took a picture with the bride. And didn't forget to take the jasmine from the bride. The Mhyte who get ones, would be the bride soon. Hahaha

This is the picture with the most alay girl in the party, the name is Dewi. She was singer of the party. So cerewet and so confident, but it made us so fun at least... hahaha. She is only first grade in senior high

^no caption. just a selfie moment
Anyhow, happy wedding Mb Vina and Mas Pendekar, yesterday was a great party for you. Semoga cepet dapat momongan yang unyu-unyu, menjadi pasangan yang selalu diberkahi daaaan,, mb Vina cantik bgt semalem. Dan mas pendekar yang berhasil diet sebelum nikah.. hahaha (yg ini spekulasi). 
Happy Wedding !!!

Senin, Januari 06, 2014

Ketemu Presiden SBY dan Saltum


ini foto yang diambil setelah saya liputan dan salaman saya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan ibu. Salah kostum, harusnya pake kemeja batik, atau kemejalah minimal. Bukan kaosan -___-

Tapi ternyata salaman sama presiden itu biasa saja. Nggak ada yang spesial. Tapi semoga ketularan sama kerennya, wibawanya, dan juga pintarnya. Kalau bukan ke saya, anak turun saya gpp lah,, Aminn




mobil RI satu. Kemana pun Presiden pergi, nih mobil selalu ikut atau gimana ya? Berarti ke Surabaya dibawa dari Jakarta ya?
Jadi ingat, pas salaman, pak SBY sempat beberapa detik melihat saya dengan 'mencureng'. Hahaha

Kunjungan SBY ke Puskesmas Pucang ini dalam rangkaian kunjungan kepresidenan sekaligus meninjau pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). #just

Saya dulu pengeeen banget ketemu sama Presiden. Waktu SBY ngasih kuliah tamu di ITS, saya yang dulu masih jadi wartawan ITS Online, harusnya mungkin ada kemungkinan alasan liputan, tapi saya lebih memilih demo. Dan kedua demo di Jakarta, pengennya pas aksi SBY mau nemuin kek. Eh ternyata enggak. Haha, tapi ternyata ketemunya kemarin. Dan ternyata orangnya memang gitu ya, dari luar kelihatan waibawanya. Dia nggak sungkan untuk nyamperin ratusan warga yang juga lagi nunggu pengen di salamin di luar gedung. Hmm, entah untuk citra atau apa. Satu yang nggak palsu Ibu Ani itu cantik kalo dilihat aslinya.

Keep moving forward everybody ^_^

All Motivation Book


Sadar karena dengan membaca kita akan terlecut untuk menulis. Dengan membaca, miskin kosa kata dan gaya bahasa akan dipenuhi. Semoga bulan depan bisa beli buku Ika Natasha. Amiin

a Pride


Sehari dua tulisan saya masuk jadi Headline, halaman satu dan halaman tiga. Simple tapi saya ingin bersyukur karenanya. hehe 


New Year 2014 ala McAnity



Begini jadinya kalau empat orang yang bersahabat dan susah sekali cari waktu luang. Di tengah rencana makan donat bareng pun gagal dan hanya bisa menghabiskan momen berempat dengan dua jepretan foto saja. Mungkin kali lain yaaa.. 

Gagalnya liburan ke Bandung dan bahkan ditinggal liburan ke jakarta hanya dibayar dengan beberapa jam saja... hahaha Miss U all guys. #Semoga tidak ada yang tanya kenapa ada kata McAnity di judul postingan ini. Karena itu murni kealayan dan bahkan saya sudah lupa apa artinya. Haha